Jumat, 12 Mei 2017

Tentang Batu dan Daun

Membaca puisi buku Memo untuk Presiden di Rumah Budaya Kalimasada Blitar
TENTANG BATU DAN DAUN




Saat ini melukis batu dan daun adalah menyongsong keelokan baru. Tentang kecemasan dan kemerdekaan bagian tak berbentuk. Tumpahnya darah dan air mata mengulang episode tersisih dari kedaulatan.

Merasa asing satu sama lain bersembunyi di balik batu dan daun. Melucuti bahwa ini kesalahan bersama. Kini batu dan daun telah berubah warna tak mampu memelihara bacaan alam. Dari pada beradu mulut dan bersolek politik kerakyatan.

Merasa telah diperlakukan tidak adil atau memang kalah adanya. Adakah cara lain mengubah tanah tandus menjadi taman bunga dengan keindahan batu dan daun. Hal ini memanusiakan alam menyampaikan pesan kehidupan.

Kesertaan batin menepati kata-kata cerita perbudakan, hubungan sosial adalah kontrak tertanda rakyat dan sang penghianat. Jangan kau merubuhkan batu jangan kau menjahanamkan daun. Jujurlah kepada batu kepada daun.

Batu dan daun adalah dekorasi semesta tercipta untumu mudah kau rusak tetapi sulit kau kembalikan apa adanya. Jika kiranya otakmu adalah batu jika siapa tahu tubuhmu adalah daun. Ataukah kita tercerai-berai berserakan di mimbar tak mengenal tuan bahkan tuhanpun terlalai.

Bukan bagian dari sampah pengarang cerita tentang baik dan buruknya. Adalah penulis kisah cinta kasih alam raya menyandang sang khalifah. Batu kecerdasan daun berpengetahuan
penggagas ide pembebasan.

Karena batu dan daun adalah kita. Kita bersama kita berbudaya. Kita satu jiwa dan raga.

Semarang, 08/8/2015
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: