Kamis, 06 November 2014

Reifikasi Manusia dan Alam

Terbit di Suara Merdeka
20 September 2010



ADA sebuah kisah yang perlu kita teladani, sebut saja namanya Fatimah. Kini ia tinggal di kota bersama suaminya. Kehidupan rumah tangganya sangat harmonis, wanita cekatan dan suka silatuhrahmi dengan keluargannya di desa apa lagi saat lebaran tiba. Tapi kehidupan Fatimah berubah drastis, saat dia mengenal teknologi. Dulu ia tidak pernah menggunakan Hp, internet maupun gadget. Lain dulu lain sekarang, ia bebas menikmati perkembagan teknologi tersebut, karena mudah mendapatkannya di kota.

Gadis desa yang sangat polos sekarang ini menikmati perkembagan peradaban umat manusia. Kesibukannya sekarang tidak lagi hanya mengurusi rumah tangga namun juga berselancar di dunia maya, update status facebook dan menjawab sms atau  telpon. Begitu juga dengan anak-anaknya yang asyik dengan permainan play station. Kesibukannya membuat ia stres, depresi dan hubungan dengan familly di desa tidak lagi seperti dulu. Ia cukup menelepon atau sekedar sms saja.

Sungguh di era globalisasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa manusia dalam kemudahan. Ilmu pengetahuan dan teknologi dipersiapkan sesuai dengan fitrah manusia artinya memenuhi dorongan asasi manusia yaitu keingintahuan (curiosity) terhadap segala sesuatu (realitas). Namun hal tersebut menjadi berbalik, kini manusia telah dikuasai kemajuan teknologi. Mereka sekarang menjadi budak teknologi dengan berbagai gadget tanpa daya.

Banyak karyawan di PHK sebab malamnya ia sibuk dengan meng-update status facebook dan twitter, sehingga saat kerja sering datang terlambat. Begitu juga dengan peredaran video mesum yang mudah diunduh di internet, sehingga menyebabkan banyak kasus seperti pelecehan seksual, pemerkosaan, perdagangan anak dan lain sebagainya.

Perilaku kehidupan pada era informasi ini juga telah merambah kehidupan personal umat manusia. Sehingga memunculkan gejala-gejala seperti maraknya kasus-kasus perceraian, pengunaan obat-obat terlarang, depresi, psikopat, skizofrenia dan bunuh diri. Dalam pandangan Frijof Capra hal tersebut sebagai bentuk “penyakit-penyakit peradaban”. Ternyata perkembangan sains dan teknologi yang spektakuler pada abad ke-20 tidak selalu berkorelasi positif dengan kesejahteraan umat manusia.
Problem mendasar yang dialami manusia di zaman modern saat sini biasa disebut dengan alienasi dan reifikasi. Menurut Erich Fromm alienasi adalah sebuah penyakit mental yang ditandai oleh perasaan keterasingan dan segala sesuatu; sesama manusia, alam, Tuhan, dan jati dirinya sendiri.

Hal ini terkait dengan gejala reifikasi (pembendaan objektivikasi) bahwa manusia modern menghayati dirinya sendiri sebagai benda, obyek; yang pada gilirannya, duniapun hanya dianggap sebagai kumpulan fakta-fakta kosong (tanpa makna dan nilai). Dunia yang direifikasi telah menjadi dunia yang tidak manusiawi. Praktik-praktik konsumerisme, hedonisme sebagai sebab alienasi manusia atas bahaya laten globalisasi atas mudahnya mendapat informasi dan teknologi.

Persoalan krisis global semakin kompleks dan multidimensional tidak saja dialami manusia namun berimbas pada salah satu masalah serius yakni kerusakan ekologi atau lingkungan hidup. Menjadi isu global yang melibatkan cara pandang manusia modern terhadap alam. Alam telah dipandang sebagai sesuatu yang harus digunakan dan dinikmati semaksimal mungkin. Memang dominasi terhadap alamlah yang menyebabkan masalah bencana, lahan semakin sempit, kurangnya ruang bernafas, kemacetan kehidupan kota, pengurasan jenis sumber alam, hancurnya keindahan alam.

Paradigma yang membebaskan
Perilaku umat manusia dengan perkembangan gadget dan eksploitasi terhadap alam ini disebabkan oleh konsepsi materialistik tentang dirinya dan alam yang didukung dengan nafsu dan ketamakan yang semakin banyak menuntut kebutuhan hidup. Semua ini dalam pandangan filosofis akibat dari cara pandang yang dualistik-mekanistik dan materialistik. Cara pandang ini menyebabkan terjadinya dikotomik atau diversitas (pembedaan) seperti; subyek-obyek, manusia-alam, manusia-Tuhan, suci-sekuler, timur-barat.

Cara pandang dikotomik ini menyebabkan tidak harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam yang telah dihancurkan. Semua ini terkait dengan ketidakseimbangan yang disebabkan oleh hancurnya harmoni antara Tuhan dan manusia. Positivisme ilmu menempatkan paradigma Cartesian-Newtonian yang memperlakukan manusia dan sistem sosial seperti mesin besar yang diatur menurut hukum-hukum objektif, mekanis, dan materialistik.

Dari paradigma tersebut menuntut pembahasan tentang konsepsi manusia seutuhnya dan dampak krisis ekologis ke dalam pandangan dunia baru. Sebagai sebuah skenario proyek penyelamatan umat manusia dan ekosistem dengan mengajukan paradigma yang mampu memanusiakan manusia dengan teknologi dan alam.

Cara pandang yang menempatkan teknologi sebagai obyek bukan subyek, sebab manusia telah menjadi korban (obyek) dari teknologi dan pembelajaran kesadaran lingkungan yang sekarang ini telah menjadi isu internasional yakni masalah global warming. Hal ini merupakan sebuah keyakinan bahwa manusialah yang menjadi standar segala sesuatu. Kebenaran atau kesalahan ditentukan manusia, manusia adalah pusat atau pengendali alam yang dapat menentukan nasibnya sendiri.

Dengan demikian dalam cara pandang ini bahwa manusia bebas untuk menikmati berbagai macam perkembangan teknologi dan keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang bergantung kepada alam. Akan tetapi manusia terikat dengan adanya konskwensi logis berupa baik-buruknya yakni terhadap dirinya, manusia laninnya, alam semesta dan Tuhan.

Maka kita harus bijak dalam menggunakan teknologi dan memanfaatkan alam ini. Sebab manusia merupakan subyek yang harus menjaga dan memakmurkan bumi, bukannya merusak atapun menghancurkannya. Sejatinya manusia adalah khalifah atau pemimpin dibumi yang mengemban amanah untuk menjaga kesetabilan lingkungan dan tentunya hubungan dengan Tuhan. Ketika dirinya rusak maka rusak pula hunbugannya dengan sang khalik, berbuatlah bijak terhadap apa yang telah dikaruniakan kepada kita. Menggunkan dan memanfaatkan segala sesuatu sesuai dengan kebutuhan dan keperluan.
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: