Rabu, 05 November 2014

Membaca Istanaku, Memo untuk Presiden di Rumah Budaya Kalimasada Blitar

Antologi Puisi Memo untuk Presiden di Rumah Budaya Kalimasada Blitar
BERUNTUNG AKU memiliki istri yang selalu siap dan dapat segera menyelesaikan masalahku. Apa coba masalah yang aku hadapi, bukan masalah lantaran tidak diperbolahkan datang ke acara launching buku puisi Memo Untuk Presiden. Pastilah istriku (Ninik Ambarwati) akan selalu memberikan pintunya untuku.

Masalah itu adalah tiket kereta api Matarmaja habis. Waktu menuju keberangkatan tinggal sebentar waktu, malam, pagi hingga siang belum ada kepastiaan. Padahal berharap pagi sudah sampai di Rumah Budaya Kalimasada Blitar.

Alhamdulillah siang menuju sore hari, sudah mendapatkan kabar bahwa aku sudah mendapatkan tiket kereta api Matarmaja dan akan berangkat jam 10 malam di Stasiun Poncol Semarang. Terima kasih sayang.

Menuju stasiun Poncol, aku diantar adikku (Saiful Mujab). Keretapun meluncur, kebetulan aku sudah kontak-kontakan dengan sang jenderal puisi yakni Sosiawan Leak. Bahwa kita satu kereta, namun Leak akan naik di Stasiun Surakarta. Ia membawa 4 kardus buku Puisi Memo untuk Presiden yang akan dibagikan kepada para penulisnya.

Akupun bertemu dengan Leak Sosiawan, digerbong 1 kereta api Matarmaja.

Di Rumah Budaya Kalimasada Blitar aku membacakan 1 puisi singkat di buku Antologi Puisi Memo untuk Presiden yang berjudul, "Istanaku."
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: