Minggu, 19 Oktober 2014

Perahu Begawan Sang Pelajar *

Pelajar yang akan menjadi Perahu Perdaban.
Perahu Begawan Sang Pelajar *

BENGAWAN ADALAH keindahan peradaban, bagi banyak kalangan disebut sebagai sungai yang memiliki aliran panjang. Dari adanya bengawan inilah peradaban mulai tumbuh, sehingga menjadi pusat kehidupan bermasyarakat. Sebab masa silam bengawan menjadi tempat bertumbuhnya peradaban, bukan tanpa sebab tapi karena beragam eksotika yang muncul. Seperti menjadi media transportasi, tanahnya yang subur, sumber makanan dan mata pencaharian. Baik untuk pertanian, perkebunan, peternakan maupun perikanan.

Inilah nuswantara kita yang muncul dari bantaran bengawan sebagai sebuah bangsa kepulauan yang menjadi cikal bakal negara Indonesia. Negeri Indonesia yang kaya raya ini menjadi kebanggan oleh sebab secaa geografis terletak pada jalur perdagangan internasional. Salah satunya aliran bengawan menjadi penentu bentuk transkontinental perdagangan.

Untuk menjangkau daerah kepulauan Indonesia lintasan tanskontinental bengawan menjadi satu-satunya jalur lintasan perdangangan dan munculnya peradaban. Namun kini peradaban modern telah mengkonstruksi sistem mental bangsa Indonesia. Sehingga bengawan menjadi peradaban yang terlupakan.

Sesungguhnya orang-oang Jawa yang hidup disekitar bengawan telah diajarkan bagaimana ia berhubungan dengan Tuhan, berhubungan langsung dengan manusia, berhubungan dengan alam dan berhubungan dengan makhluk halus. Namun seiring perkembangan peradaban yang telah memoles mentalitas bangsa ini, mereka lupa akan kejayaanya.
 
Indahnya Bengawan Bojonegoro
Kita adalah bangsa yang mampu mengkonstruksi mental bangsa nuswantara, sebuah bangsa penguasa peradaban didunia yang hadir diantara keindahan bengawan. Struktur mental bangsa yang hidup disekitar bengawan senantiasa mengabdikan dirinya kepad Tuhan. Merawat hubungan kemasyarakatan dan yang paling tinggi adalah berhubungan dengan makhluk halus atau bangsa Jin. Maka tidak heran jika orang yang tinggal disekitar bengawan selalu menyalami alam ini dengna bentuk perayaan dan sykuran yang kemudiaan menjadi budaya. Seperti budaya sesajen, mereka memberikan sesajen disungai sebab golongan jin tinggal di bengawan tersebut. Jika diberikan diatas meja tentu bukan lagi sesajen melaikan sugatan atau hidangan yang hanya dinikmati manusia. Namun pola semacam itu, bentuk tradisi sesajen menjadi perlawanan sehingga diantara kita yang mengatakan perbuatan bid’ah, tahayul dan khurafat. Sesungguhnya mereka tidak tahu keindahan bengawan.

Perahu Pembelajaran
Bagi bangsa ini, bengawan tidak saja memiliki keindahan, namun kita perlu mengenalkan bahwa peradaban berasal dari bengawan. Kebudayaan dan sistem kemasyarakatan hadir didalamnya. Hal ini tentu harus didukung dengan stake holder baik dikalangan pemerintahan, birokrasi, masyarakat sipil maupun masyarakat ekonomi.

Oleh sebab kerusakan ekologis bengawan semakin memperihatinkan, mereka cenderung memanfaatkan nilai keuntungan dari bengawan namun lupa merawatnya seperti penambangan liar maupun membuang sampah sembarangan. Sehingga terjadi kerusakan lingkungan dan akan butuh waktu lama untuk memperbaikinya.
Generasi Penerus Pembelajar Bengawan Bojonegoo

Marilah kita menjadi perahu sang pelajar, diatas kehidupan ini ada hubungan yang salin menguntungkan. Ketika kita berbuat baik kepada alam, makan alampun akan berbuat baik kepada kita.

Cara yang terbaik hanya berbuat baik kepada alam salah satunya diantara aliran bengawan.

Indahnya bengawan Bojonegoro yang diberikan kekayaan alam baik berupa ladang minyak maupun keindahan sungai bengawan solo yang meilintas di Kabupaten Bojonegoro. Kini kota Bojonegoro dengan anugerah minyak seharusnya belajar pada kota Miri di Brunai Darussalam, semenjak ditemukan ladang minyak yang memiliki nama Grand Oly Lady, kota kecil tersebut memiliki peradaban yang maju dan pesat. Semoga Bupati Bojonegoro menjadi pemimpin yang mengerti tentang Bengawan.

Saatnya bengawan Bojonegoro menjadi perahu pembelajaran, membangun peradaban Nuswantara didaerah aliran bengawan solo. Pertama, membangun sistem kebudayaan masyarakat bengawan Bojonegoro yakni tidak melupkan tradisi yang telah berkembang pada zaman bengawan nuswantara seperti tradisi sesajen menjaga hubungan baik dengan alam. Kedua, jika peradaban telah beralih ke darat, bengawan Bojonegoro bisa dijadikan obyek wisata. Tentu dengan beragam fasilitas keindahan wisata, dengan menjadikannya obyek wisata tentu kita memiliki tanggung jawab menjaga lingkungan.

Ketiga, festival Bengawan Bojonegoro menjadi agendan rutin tahunan untuk memberikan efek dan branding pariwisata Bojonegoro dan tentunya mengenalkan Kabupaten Bojonegoro.

Keempat, menciptakan kantong-kantong institusi disekitar Bengawan Bojonegoro yakni seperti institusi pendidikan, institusi kesusastraan maupun institusi pertanian dan perikanan.

Kelima, bengawan Bojonegoro menjadi tempat hiburan dan pembelajaran bagi masyarakat. Bahwa sesungguhnya apa yang diberikan alam bukan untuk dieksploitasi melainkan untuk dapat dimengerti. Bukan semata menjadi tempat tinggal namun menjadi surga bagi kehidupan ini.

Tata kelola Bengawan Bojonegoro dari pandangan ini memberikan kepada kita semacam amanat kosmologi untuk menjaga, mengelola, dan merawat bengawan menjadi bagian hubungan timbal balik antara Tuhan, alam dan manusia.

Semarang, 19 Oktober 2014

* Indahnya Bengawan Bojonegoro diikutkan pada lomba blog yang diadakan Pemkab Bojonegoro dan Dewan Kebudayaan Bojonegoro.
* Pengalaman waktu membaca puisi di Sastra Bengawan Bojonegoro. Melihat para pelajar yang menyeberangi Bengawan Bojonegoro.
Previous Post
Next Post
Related Posts

2 komentar:

  1. Nanti di copy ke Portal resmi Sciena Madani (www.scienamadani.org) dan berita online Sciena Madani di Warta Madani (www.wartamadani.com)

    BalasHapus
  2. Oke..maklum mertuaku tinggal dipinggiran bengawan Bojonegoro

    BalasHapus