Minggu, 07 September 2014

Masyarakat Suka Panik


Konser Selendang Biru di RRI Semarang

MASYARAKAT kita itu tergolong manusia yang memiliki jenis keunikan tersendiri, salah satunya soal “kepanikan”. Tapi ini bukan persoalan kepanikan Tim Ekonomi Jokowi soal pemotongan anggaran subsidi energy (BBM).

Namun soal kenaikan harga bensin bersubsidi (premium), memang rasa panik terjadi kapan saja dan di mana saja. Bahkan masyarakat kita tergolong manusia panik yang super luar biasa. Biasanya rasa panik diiringi dengan bahasa tubuh seperti keringat dingin, ketakutan, gemetar maupun serba bingung sendiri. Namun demikian, tidak bagi masyarakat kita mereka tetap enjoy dan nyaman mengantri bensin meski menunggu lama.

Bisa jadi keuntungan tersendiri bagi penjual eceran, dan bahkan masyarakat kita pandai soal timbun menimbun barang. Lumayan kan jika harga naik, keuntungan akan berlipat.
                                       
Bagi kalangan masyarakat umum, sangat menikmati antrian di pom bensin. Sebab mereka tahu, hal ini sudah menjadi kebiasaan jadi tidak perlu hari saling memaki, menghujat atau bahkan berdemontrasi. Apa lagi harus mengkritik pemerintah oleh karena minyak dikuasai asing, justru pemerintah akan panik jika pihak asing lari dari bangsa ini.

Barangkali masyarakat kita menerapkan kaidah fiqiyah yang berbunyi, “almasyaqqatu tajlibu taisiru (Kesukaran itu dapat menarik kemudahan).” Meski kesulitan memperoleh bensin dan harus mengantri lama, hal ini menjadi awal dibukakannya kemudahan

Maaf ini lagi ingat soal pitutur, “Eling lan Waspodo”. Eling sesuk bensin mundak, waspodo ben keduman. Hidup itu laksana ngantri bensin, namun kebanyakan diri kita lupa bahwa kita sibuk memikir dunia. Bahwa kita tidak tahu kapan minyak itu akan habis.

Semarang, 26/08/2014
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: