Minggu, 07 September 2014

Belajar Menjadi Bodoh


Nasya dan Bening di Gereja Blenduk

PENGINAAN menjadi corong kehormatan, maka kita harus bangga jika dihina sebab bangsa ini selalu bangga untuk dihina. Bahkan penghinaan itu menjadi bentuk penghormatan, semisal penyanyi muda popular Justin Bieber yang mengatakan, “Indonesia sebagai Negara yang tidak penting”. Negara tetangga Australia juga pernah menghina bangsa ini, melalui cara penyadaban, belum lagi Malaysia yang juga sering menghina bangsa ini semisal suka mencaplok pulau, atau bahkan menghina lagu bangsa Indonesia tercinta ini.

Namun demikian bangsa Indonesia menerimas dengan ucapan rasa syukur yang luar biasa, karena hal ini menjadi rahmat dan berkah. Katanya, “Orang yang dhina, doanya terkabulkan.”

Ini bukan Negara yang lucu, semisal soal kebijakan Tes Keperawanan sebagai bentuk penghinaan martabat perempuan. Namun hanya soal penghormatan saja.

Aneh jika kiranya seorang mahasiswa Florence Sihombing yang dituduh menghina dan mencemarkan nama baik warga Yogyakarta melalui akun jejaring sosialnya Path. Lha kok tersingung ketika persoalan sudah membumi dan menjadi buah bibir. Ingin bicara soal nama baik, ya..ya, nama itu adalah sebuah doa makanya selalu memberikan nama yang baik. Namun jika kiranya mencemarkan nama baik, barangkali memang sudah tercemar atau bahkan itu menjadi kritik dan saran supaya menjadi lebih baik.

Soal semacam ini sering dilakukan oleh sastrawan, dengan puisi ia mengkritik. Semisal;
Banyak ruang, banyak AC
Banyak uang, banyak ACC
Akibatnya rakyat kebanjiran air dan longsoran
Pejabat kebanjiran uang dan sogokan
(Remy Silado)

Melalui puisi mbeling mencoba membangkitkan bangsa ini, salah satunya puisi yang berjudul Ramalan Cuasa
Singapura berawan
Malaysia gerimis
Filipina hujan deras
India gempa bumi
Saudi Arabia hawa panas
Alaska hawa dingin
Indonesia hawa nafsu

Kita mencoba belajar menjadi bodoh dari persolan “Penghinaan”. Lalu Kiai Cungkring berkisah tentang akhlak Rasulullah Muhamamd.

Suatu ketika Abu Bakar bertanya kepada anaknya, Aisyah ra. yang juga merupakan istri Rasulullah saw. Ia bertanya;

”Wahai anakku, apa kira kira amal yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw ketika masih hidup tapi belum aku kerjakan?”

Aisyah r.a. menjawab, “Rasulullah saw selalu memberi makan kepada seorang Yahudi buta di pojok sudut pasar”.

Maka Abu Bakar menemui perempuan renta yang terduduk di sudut pasar tanpa ada siapapun yang mempedulikannya.

Abu Bakar mendekatinya, lalu dikeluarkannya sepotong roti untuk diberikan kepadanya. Namun perempuan buta itu terus mengoceh persoalan keburukan Rasulullah Saw. Ia menghina Rasulullah Saw dan menyuruh orang orang dipasar untuk tidak mengikuti ajakan Muhammad Saw.

Abu Bakar tetap sabar dan memperhatikan omongan perempuan tersebut. Abu Bakar bertanya kepada dirinya, “Bagaimana aku membayangkan perasaan Rasulullah saw memberi makan perempuan buta itu sambil dihina dan diejek setiap harinya oleh perempuan yang sama. Mulut yang telah diberinya makan tiap hari tapi membalas dengan hinaan dan cercaan.”

“Rasulullah Saw memang manusia paling mulia,” kata Abu Bakar dengan tetesan air mengalir

Ketika suapan roti tersebut masuk ke dalam mulut perempuan buta itu ia merasa kaget dan memuntahkan makanan yang diberi oleh Abu Bakar.

Lalu Perempuan buta itu berkata, ”Siapa kamu, kamu bukan orang yang biasa memberi aku makan”.

“Dari mana engkau tahu bahwa aku bukanlah orang yang biasa memberimu makan?,” tanya Abu Bakar

Perempuan itu mengatakan “Makanan yang engkau beri tidak kau haluskan lebih dulu. Orang yang biasa memberi aku makan selalu menghaluskan makanan lebih dulu karena ia tahu kalau gigiku sudah tak sanggup lagi mengunyah makanan.”

Air mata Abu Bakar makin menetes, mengingat Rasulullah Saw senantiasa berakhlak sangat mulia sekalipun terhadap orang yang setiap hari menghina dan mencacinya. Sejenak kemudian Abu Bakar berkata, ”Ketahuilah, orang yang biasa memberimu makan sudah wafat beberapa hari yang lalu dan aku adalah sahabatnya. Orang yang biasa memberimu makan adalah Muhammad Saw, laki-laki yang tiap hari selalu bersabar meski kau hina dan caci sedangkan ia tak pernah berhenti menyuapkan makanan ke mulutmu”.

Perempuan Yahudi yang buta itu tiba-tiba menangis oleh sebab kaget mendengar kabar itu. Bagaimana mungkin orang yang selalu bersabar dan memberinya makan sambil terus mendengar hinaan dan cacian bukan seseorang yang menjadi pilihan Tuhan untuk menyampaikan risalah kenabian. Ia menyesal belum sempat meminta maaf kepada orang yang sangat peduli dengannya padahal tidak ada seorang keluarganya pun yang sempat menengok keadaannya. Ia lalu bersyahadat di hadapan Abu Bakar dan menjadi muslimah yang taat.

Semarang, 01/09/2014
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: