Kamis, 19 Juni 2014

Gang Dolly

SELAIN kekayaan yang melimpah ruah. Sebagai sebuah bangsa yang tersinari pancaran cahaya surge, juga memiliki kemegahan lokalisasi tepatnya di Gang Dolly sebagai pusat pelacuran terbesar Se-Asia Tenggara.

Kiai Cungkringg jadi ingat kisah Perempuan Pelacur yang masuk surga. Perempuan itu mengalami penderitaan, ia tabah menghadapinya dan menawarkan dirinya namun tidak seorangpun mendekatinya. Rasa haus dan laparpun menyerangnya, dilihatnya sumur yang tersisa sedikit airnya. Ketika hendak meminumnya dilihatnya seekor anjing yang menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu perempuan itu meregukkan air yang hanya sedikitdari sepatunya itu ke dalam mulut anjing tersebut. Sesaat kemudian perempuan tersebut tergeletak, tidak bernafas lagi dan ia benar-benar telah meninggal dunia ini.”

Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah Saw bersabda, “Telah diampuni seorang wanita pezina yang lewat di depan anjing yang menjulurkan lidahnya pada sebuah sumur. Dia berkata, “Anjing ini hampir mati kehausan.” Lalu dilepasnya sepatunya lalu diikatnya dengan kerudungnya lalu diberinya minum. Maka diampuni wanita itu karena memberi minum. (HR. Bukhari)

Kisah yang terjadi ini dimasa kenabian Isa As, dimana kekuasaan Kaisar Romawi yang selalu membuat kerusakan dan melakukan tindak kezaliman. Kemiskinan dan kelaparan menjadi bencana, perampokan, pembunuhan dan tindakan tidak berperikemanusiaan merajalela.

Gang Dolly yang berada di Kota Surabaya ini dipimpin oleh Walikota bertangan besi Tri Risma Harini. Apakah kepemimpinannya seperti yang terjadi di era Kaisar Romawi. Lha wes pie maneh, nak wes ditutup. Ingatlah, “Datang serik ketaman, datan susah lamun kelangan (Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri, jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).

“Bagaimana dengan pelacur itu kiai.”

“Yang ditutup itu tempatnya, bukan auratnya ,” tutur Kiai Cungkring

Saatnya kita sucikan diri kita, “marang Gusti kang suci.” Ya..kita masih punya Gusti (sesembahan) yang bermakna “bagusing ati.” Bagus itu bersih dan suci. Saatnya kita bersihkan tempat yang kotor, namun juga tempat (hati) diri kita yang kotor. Reresike ati; resik pangonan, resik busono, resik tindak lan tanduk.

“Bagusing ati.”
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: