Kamis, 23 Januari 2014

Kapitalis, Tuhan dan Banjir Nabi Nuh As

DI musim penghujan, peristiwa banjir menjadi pandangan setiap hari. Baik di media elektronik maupun cetak pemberitaan banjir selalu mewarnai. Apa lagi di daerahku kecamatan Genuk kota Semarang, jalanan dipenuhi air, jalan-jalan pada rusak dan berlubang. Banjir menjadi langganan dan bahkan di ibu kota Jakarta sebagai pusat pemerintahan menjadi berita yang patut disiarkan secara langsung. Belum lagi daerah lain yang diterjang banjir, tanah longsor, jempatan gantung terputus dan harus rela tinggal ditempat pengungsian serta nyawa jadi taruhan.

Tapi aku masih beruntung karena selama ini tempat yang menjadi rumah tinggal di kampung belum mengalami kebanjiran, tidak tahu tahun-tahun depan seiring maraknya pembangunan perumahan dan aliran air yang tidak tau dimana ia akan bermuara.

Pertanyaan aneh muncul di media, “Banjir disebakan oleh Tuhan dan curah hujan yang tinggi?” Hal ini mengingatkan aku pada kisah Banjir dan Perahu Nabi Nuh As.

Seorang filosof eksistensilis J.P Sartre (1905-1980) pernah berkata, “Tuhan bukan tidak hidup lagi atau tidak ada, Tuhan ada tapi tidak bersama manusia. Namun pernyataan Sartre ini menuai kritik dari Teolog Yahudi yakni Martin Buber (1878-1965) yang mengatakan, “Tuhan tidak diam tapi di zaman ini manusia memang jarang mendengar. Manusia terlalu banyak bicara dan sangat sedikit merasa.”

Apakah Tuhan patut disalahkan oleh sebab banjir dan beberapa bencana yang terjadi sekarang ini ataukah seperti kata Martin Buber Bahwa kita terlalu banyak bicara dan sagat sedikit bicara. Sehingga Tuhan tidak bersama manusia, sesuai kata J.P Sartre. Ah...dasar manusia, tidak tahu siapa dirinya.

Seharusnya kita sadar diri bahwa kita sebagai manusia merupakan mahluk mutidimensi, dalam pendekatan ekologis, hakikatnya manusa merupakan makhluk lingkungan. Dalam artian bahwa dalam melaksanakan perannya sebagai khalifah di muka bumi manusia memiliki kecenderungan untuk selalu mengerti akan lingkungannya.

Bahkan agama Islam mengajarkan bentuk ideal manusia dan peran lingkungan, secara idiologis masyarakat muslim pandai dalam merekayasa lingkungan namun secara faktual berperilaku ekologis masih sangat rendah. Sebab memperlakukan lingkungan sebagai aset potensial, alam lingkungan menjadi lahan eksploitasi dan kepemilikan para kapitalis.

Singkatnya kita belum memiliki rancangan ekologis yang representatif bermuatan spiritualitas lingkungan, meski tuntutan berperikehidupan berwawasan lingkungan ataupun kesadaran lingkungan dalam kampanye sangat kuat. Maka krisis lingkungan hidup dan kemanusiaan harus menjadi pusat perhatian bagi setiap tradisi dan komunitas keagamaan, sekaligus fokus dalam upaya memahami hakekat spiritualitas lingkungan dan kedirian kita yang memiliki peran untuk memakmuran bumi.

Kapitalis Vs Kaum Nabi Nuh As
Masihkah kita mengingat kisah Nabi Nuh As, tak pantas kiranya kita mensalahkan Tuhan dan curah hujan tapi diri kitalah yang bersalah. Allah sebagai Tuhan yang menjadi sutradara memerintahkan kita untuk mematuhi segala apa yang diperintahkan serta menjauhi segala yang dilarang. 
 
Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’araaf/7: 96)

Al Qur’an juga menerangkan untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi ini seperti dalam surat al A’raaf yakni:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (Q.S. Al A’raaf/7 : 56).

Pada dasarnya kerusakan sumber daya alam dan lingkungan itu disebabkan oleh kelakuan manusia sendiri. Akibatnya sumber daya alam dan pada khususnya energi menjadi barang langka akibat tingkat interaksi yang berlebihan (over explotation) dan kurang memperlihatkan aspek berkelanjutan.

Siapa itu Nabi Nuh As?, nama Nuh bukan berasal dari bahasa Arab, tetapi dari bahasa Syria yang artinya “bersyukur” atau “selalu berterima kasih”. Dinamakan Nuh karena seringnya dia menangis, nama aslinya adalah Abdul Ghafar (Hamba dari Yang Maha Pengampun). Geneologi Nuh As adalah nabi ketiga sesudah Adam, dan Idris. Ia merupakan keturunan kesembilan dari Adam. Ayahnya adalah Lamik (Lamaka) bin Metusyalih atau Mutawasylah (Matu Salij) bin Idris bin Yarid bin Mahlail bin Qainan bin Anusyi bin Syits bin Adam. Antara Adam dan Nuh ada rentang 10 generasi dan selama periode kurang lebih 1642 tahun. Sedangkan menurut kisah dari Taurat nama asli Nuh adalah Nahm yang kemudian menjadi nama sebuah kota, kuburan Nuh berada di desa al Waqsyah yang dibangun didaerah Nahm. Nuh As mendapat gelar dari Allah dengan sebutan Nabi Allah dan Abdussyakur yang artinya “hamba (Allah) yang banyak bersyukur”.

Ia hidup sekitar (3993-3043 SM) seorang pejuang anti kapitalis atau rasul yang diceritakan dalam Kitab Taurat, Al-Kitab dan Al-Qur’an. Nuh As diangkat menjadi Nabi sekitar tahun 3650 SM, diperkirakan tinggal di wilayah selatan Irak Modern dan bahkan di negeriku Indonesia menggap Nabi Nuh As berasal dari Jawa Indonesia, sebab kayu-kayu besar dan banyaknya gunung dan kemakmuran berada di wilayah Nusantara. Menurut Al-Qur'an, ia memiliki 4 anak laki-laki yaitu Kanʻān, Sem, Ham, dan Yafet. Namun Alkitab hanya mencatat, ia memiliki 3 anak laki-laki Sem, Ham, dan Yafet. Ia mempunyai istri bernama Wafilah, sedangkan beberapa sumber mengatakan istri Nuh adalah Namaha binti Tzila atau Amzurah binti Barakil.

Kisah Nabi Nuh As dan Bahteranya sebenarnya merupakan perlawanan kaum tertindas dengan kaum kapitalis. Nabi Nuh merupakan Nabi dan Rasul pertama yang diutus pada suatu kaum yakni kaum Bani Rasib. Dimana saat itu Nabi Nuh hidup pada masa Raja Dhahhak atau Biyorasih yang sebelumnya membunuh Raja Jim (Jamsyid), lalu kerajaan mengalami fase suksesi, kepemimpinan digantikan seorang laki-laki bernama Darmasyil. Darmasyil ini menjadi sosok penjajah, ia merupakan raja yang kuat perkasa dan menguasai kekayaan alam, ia menjadi super power penguasa atau kaum kapitalis yang menguasai kekayaan.

Dalam kelas sosial Kaum Nabi Nuh As terbagi menjadi 3 (tiga) yakni kelas para raja, kelas bangsawan atau punggawa kerajaan dan kelas rakyat. Kaum kapitalis menjadi kelasnya para raja dan bangsawan yang berperan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka kaum kapitalis menipu rakyat dengan kekuasaan palsu dan menjadikan kelas rakyat sebagai warga yang wajib mentaati dan tidak boleh menentang kaum kapitalis.

Sedangkan Kaum Nabi Nuh As mewakili kelas rakyat atau warga yang mengalami ketertindasan. Mereka berada pada posisi yang sama sekali tidak memiliki the power of bergaining position. Kaum Nabi Nuh adalah kelas tertindas dan selalu ditindas oleh keinginan dan kepentingan para raja dan kalangan bangsawan.

Lalu Nuh As diutus Allah menjadi Rasul yang membawa hakikat ketuhanan dan hakikat kebangkitan, sehingga akar-akar idiologisasipun terdengar. Akan tetapi pilar idiologi yang dibawa Nabi Nuh As mengalami perlawanan dari kaum kapitalis sehingga terpecah menjadi dua kelompok, kelompok pertama diwakili Nabi Nuh As  dan orang-orang lemah yakni para fakir miskin. Sedangkan kelompok kedua diwakili oleh orang-orang kaya dan para penguasa yang melancarkan serangan perlawanan terhadap kaum Nabi Nuh As.

Musuh Nabi Nuh As adalah para kaum kapitalis, mereka mendapatkan sebutan “Al-Mala’” karena mereka berkata kepada Nabi Nuh As, “Wahai Nabi Nuh As engkau adalah manusia biasa.” Oleh sebab tidak memiliki bergaining position. Namun demikian Nabi Nuh As beserta kaumnya terus saja berjuang melakukan perlawanan. Hingga para kapitalis mulai bosan; 
 
mereka berkata "Hai Nuh, Sesungguhnya kamu telah berbantah dengan Kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap Kami, Maka datangkanlah kepada Kami azab yang kamu ancamkan kepada Kami, jika kamu Termasuk orang-orang yang benar". Nuh menjawab: "Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri. dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, Sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan". (QS. Huud/11: 32-32)

Perlawanan terhadap Kaum kapitalis mengalami puncaknya hingga Kuam Nabi Nuh As harus Hijrah dengan membuat bahtera. Inilah banjir lokal untuk kaum nabi Nuh As, bukan banjir global. Tapi ini adalah perlawanan antara kaum kapitalis dengan kaum yang mengalami ketertindasan.

dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan aku tentang orang-orang yang zalim itu; Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (QS. Huud/11: 37)

Marilah kita intropeksi diri, apakah bencana alam yang terjadi ini merupakan azab dari Allah ataukah ini menjadi peringatan untuk kita, bahwa diri kitalah yang bersalah dan diri ini terlalu jauh berkomunikasi dengan Tuhan.

22/01/14
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: