Jumat, 08 November 2013

Para Pencuri Nikmat Tuhan

BANGSA Indonesia saat ini lagi belajar untuk bisa menjadi bangsa yang beradab salah satunya tentang hal “Mencuri”, baik itu mencuri uang rakyat maupun mencuri undang-undang maupun aturan pemerintahan. Maka di bentuklah tim pemberantas korupsi yang di sebut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Makamah konstitusi. Begitupun di masyarakat orang yang mencuri bisa saja di hakimi masa ataupun masuk penjara. Ternyata mencuri penuh resiko, jadi musuh KPK, Polisi maupun hakim masyarakat. Maka janganlah menjadi pencuri di dunia, apalagi mencuri urusan akhirat.

Menjadi pencuri sangatlah mudah, hanya memerlukan beberapa hal yang perlu di persiapkan. Pertama, suatu hal yang akan di curi. Kedua, waktu yang aman untuk mencuri. Ketiga, dengan siapa saya mencuri atau mencuri sendiri. Empat, persiapan alat untuk mencuri dan kelima, tempat yang aman untuk hasil curian.

Ternyata untukmenjadi pencuri saja memerlukan persiapan yang matang dan terstruktur, tentu bagi pencuri yang profesional.

Andai saja mencuri berurusan dengan akhirat, seorang pencuri akan memiliki kesalahan dan dosa yang bertumpuk-tumpuk, bukan sebatas dosa “mencuri”. Sebut saja dosa itu meliputi; sesuatu hal yang di curi pastinya milik orang lain, waktu untuk mencuripun bukan milik pencuri, jika pencuri mengajak teman berarti dia telah menjerumuskan temanya ke lembah dosa, alat untuk mencuri menjadi bukti kesalahan meski tadinya alat yang di curi membelinya dengan uang halal dan tempat untuk menyimpan bukanlah milik pencuri melainkan amanah sebab pencuri tidak bisa menciptakan tanah, ruang ataupun dunia ini semua ini hanyalah amanah Tuhan untuk makhluknya yang memiliki peran untuk menjadi pemimpin bukan memiliki dan berperan untuk mengabdi kepada-Nya.
Itu masih bilangan kecil persoalan kesalahan para pencuri, masih banyak lagi jika di hitung dosa para pencuri. Coba anda hitung selain lima kesalahan di atas, tentu akan menghasilkan bilangan yang amat banyak sekali. Sebab yang ada pada diri anda adalah amanah dan ada pertanggungjawabannya. Seperti; tangan, mata, telingi, kaki, tangan dan lain sebagainya semua hanyalah amanah.
Kesalahan pencuri bukan hanya persoalan barang curian, tapi seluruh yang ada pada diri. Jadi seoarang pencuri akan mendapatkan berlipat-lipat kesalahan. Apakah anda ingin menjadi pencuri?
"Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana," (QS. Al-Maaidah: 38)
Marilah kita menyadari perbuatan tersebut, perbuatan mencuri merupakan perilaku yang di larang bahkan meresahkan untuk bangsa ini. Baik itu pencuri kecil maupun pencuri kelas berat. Sebab sesuatu yang di curi bukan miliki kita pribadi, tapi milik orang lain.
 Andai saja kita hanya mencuri barang milik satu orang, kita bisa bertaubat kepada Allah dan meminta maaf kepada pihak yang di curi. Akan tetapi jika yang di curi bukan milik perseorangan tapi milik masyarakat, apakah hanya sekedar taubat maka Allah akan mengampuni dosa pencuri. Apakah kita sanggup meminta maaf kepada seluruh masyarakat, jika kita mencuri uang rakyat atau korupsi uang negara.
Sangat  sederhananya mencuri adalah mengambil hak orang lain tanpa seizin pemiliknya. Mencuri merupakan sesutu hal yang dilarang dan meresahkan. Sekarang di zaman modern ini banyak pencuri berkeliaran baik di masyarakat maupun di arena pemerintahan. Di media cetak mapun media elektronik hampir setiap hari memberitakan apa namanya “mencuri”, seakan mencuri menjadi budaya bangsa ini.
Sungguh sangat ironis sekali melihat bangsa ini, pencuri tidak hanya dilakukan oleh orang yang tidak sekolah namun juga oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi. Apalah arti ilmu yang kita dapatkan di bangku sekolah maupun ilmu yang kita dapatkan dari nasehat orang tua, guru maupun kyai. Para pencuri berkeliaran dimana-mana, ada yang pura-pura miskin, ada yang berpakaian dinas dan berdasi maupun berkalungkan sorban.
Saatnya kita menghindari perilaku mencuri ataupun mengambil atau meminta yang bukan hak kita. Misalkan saja; di pemerintahan ketika kita mengurus suatu hal, pihak berwenang meminta imbalan yang tidak ada aturan perundang-undangan. Bahkan ironisnya ketika kita memberikan peluang untuk para pencuri, memberikan suap atau memberikan uang pelicin untuk memudahkan segala urusan.
Marilah kita merenungi tujuan hidup kita di dunia, bahwa tujuan hidup bagi orang mukmin adalah untuk mencari cinta dan ridho-Nya. Tujuan semacam ini akan tercapai jika kita menjalaninya penuh dengan kesungguhan semata-mata untuk Allah dan hidup mulia untuk tetap teguh menjalankan perintah dan menjauhi larangannya.
Alangkah indahnya jika kita mencuri “cinta Allah”. Mencuri waktu yang lebih untuk bisa dekat dengan-Nya di malam hari untuk bisa melasanakan shalat malam. Mencuri waktu untuk meluangkan untuk berzikir dan berdoa kepada-Nya. Mencuri hari untuk istiqamah bersedakah dan mengerjakan amal shalih. Mencuri hari untuk bisa melaksanakan puasa kesunahan.
"Apabila salah seorang di antara kalian membaguskan keislamannya maka setiap kebaikan yang ia kerjakan dicatat untuknya sepuluh kali hingga tujuh ratus kali lipat. Dan setiap kejahatan yang ia kerjakan, akan dicatat untuknya kejahatan yang sama, hingga ia bertemu Allah.” (HR. Bukhari)
Mencuri merupakan suatu kenikmatan; “fa biayyi alaa’i Rabbikuma tukadzdziban” (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan). Kata-kata di dalam surat Ar-Rahman yang sampai diluang –ulang hingga 31 kali, sepatutunya kita orang mukmin mengambil hikmahnya. Lagi-lagi marilah kita menyadari, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan”.
Mencuri memiliki kenikmatan yang hanya sementara, namun jika orang mukmin mencuri waktu dan hari untuk beribadah dan beramal shaleh karena Allah sungguh kenikmatan itu akan selalu hadir setiap saat hingga seorang mukmin di perintahkan-Nya untuk memilih surganya.

Sungguh keagugan Tuhan yang memiliki kebesaran dan karunia. Saatnya kita memberikan ruang kesadaran di hati dan pikiran kita atas nikmat yang kita dapatkan. Mata untuk meilhat keindahan jagat raya, kaki untuk melangkah, telinga untuk mendegar, mulut untuk bicara dan lain sebagainya, sekali lagi; “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan”.
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: