Sabtu, 09 November 2013

Mulut Lidah – Pisau Tajam

PERTANYAAN yang paling mendasar adalah; Mengapa mulut di letakan di bawah hidung atau mata dan telinga?.

Pertanyaan seperti itu hampir sama dengan, mengapa ketika batal wudhu yang di basuh itu mukanya dan bukan lubang tempat keluarnya kentut. Sebagai orang yang berakal kita dituntut untuk memikirkannya.

Marilah kita mensyukuri nikmat di ciptakannya mulut untuk berbicara, saling berkomunikasi dan tentu untuk melantunkan kalam Illahi. Coba anda rasakan kenikmatannya, lalu berandai-andailah ketika anda tidak dapat berbicara atau anda mengalami “Bisu”. Bagaimana rasanya?, ini adalah anugerah kecil yang di berikan Allah kepada hambanya, selayaknya dan kita berkewajiban untuk mengucapkan terima kasih dan bersyukur.

Mengapa mulut di ciptakan di bawah mata dan telinga, oleh sebab melalui mata kita melihat lalu mulut akan membicarakannya begitu juga dengan telinga ketika mendengar kemudian mulut akan mengatakannya. Bahwa sesungguhnya kita diperintahkan untuk menjaga kemuliaan mulut tersebut. Kelak di akhirat bukannya mulut yang jadi saksi-saksi perbuatan kita di dunia melainkan telinga, mata, tangan, kaki-kaki...

Mulut didalamnya ada lidah yang tidak bertulang dapat menimbulkan bahaya yang luar biasa seperti; melakukan fitnah, berbohong, berkata yang tidak ada manfaatnya secara berlebihan maupun melakukan sumpah palsu.

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ تَعَالَى لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (HR. Bukhari: 6092)

Maka saatnyalah kita ajak mulut atau lidah untuk melakukan muhasabah. Melalui hal-hal yang sederhana seperti;
Pertama, berfikir akan mengatakan hal yang baik, dengan mengucapkan kata yang baik berarti kita telah bersedekah.
وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
Kata-kata yang baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari: 2707)

Kedua, berkata baik atau diam.
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari: 6089)

Selanjutnya marilah kita hiasi mulut kita dengan berbagai macam aktifitas; berbicara dengan baik di majlis-majlis ilmu, berdzikir kepada Allah, berdoa memohon ampunan Allah, membaca, melantunkan shalawat nabi maupun membaca kalam suci Illahi.



Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: