Minggu, 31 Maret 2013

Sampah Pengajian

BANGSA Indonesia patut bersyukur melihat masyarakatnya gemar kumpul-kumpul dalam satu lingkaran jamaah hingga larut malam bahkan sampai pagi. Tidak ada bangsa di dunia ini yang bisa bertahan dan kuat membuka mata, kecuali bangsa Indonesia.

Berkumpul dalam satu jamaah menggambarkan suatu kebudayaan, salah satunya jamaah pengajian. Hal ini memiliki ciri dan keunikan tersendiri yakni lingkaran jamaah. Seperti jamaah yang bersarung, berpakaian putih-putih maupun ala kadarnya. Para jamaah bisa bertahan sampai pagi mendengarkan ceramah para kiai atau pembicara. Artinya sangat jelas, seharusnya selain para jamaah bisa membuka mata tentu bisa membuka hati.

Namun alangkah ironisnya mereka hanya bisa membuka mata, tanpa bisa membuka hati. Intinya ketika para jamaah mendapatkan siraman ruhani seharusnya melekat pada diri akan tetapi justru hanya sampai di mata saja. Hal ini dapat dilihat dari perilaku setelah meninggalkan acara pengajian atau kumpul-kumpul.

Bangsa ini memiliki nilai kesalehan pribadi yang luar biasa, dalam hal kesalehan sosial inilah yang menjadikan ilmu hanya sampai pada mata tidak tertanam pada hati. Setelah keluar dari arena jamaah; sampah plastik menyebar kemana-mana, kertas-kertas berserakan di mana-mana dan jelasnya sampah selalu ada berserakan.

Mereka berfikir bahwa ilmu sudah tertanam dalam hati, persoalan sampah hanya sebatas lahiriah yang nampak dan dapat seketika dibersihkan oleh pihak penyelenggara atau panitia.

Sesungguhnya ilmu yang katanya tertanam dalam hati, hanya sebatas mata.

Sesungguhnya Allah Swt itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Mahamulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu” (HR. Tirmizi)
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: