Minggu, 31 Maret 2013

Amalan dan Jimat

WAKTU sudah menunjukan untuk mata kuliah Pendidikan Agama Islam, Pak Muh segera masuk ruang kuliah. Dilihatnya para mahasiswa yang haus akan ilmu pengetahuan, ia hanya bisa tersenyum dan berharap kelak mahasiswa yang ia ajar menjadi orang yang ilmunya bermanfaat hingga mengantarkannya menjadi orang sukses.

Selang beberapa waktu, ada salah satu mahasiswa mempertanyakan tentang hukum menggunakan amalan, hizb ataupun jimat. Pak Muh sadar betul bahwa mahasiswa tersebut berkeinginan untuk memperdalam diluar kebanyakan orang modern.

Jika masyarakat Jawa, ketika memiliki anak kecil yang belum cukup umur, orang dahulu selalu memakaikan kalung yang berisikan tulisan-tulisan Al-Qur’an. Mereka meyakini dengan memakai jimat tersebut, si anak akan terhindar dari bahaya dan malapetaka. Begitu juga dengan rumah-rumah yang terkadang kita melihat tulisan-tulisan arab menempel di atas pintu masuk rumah. Hal ini juga di yakini untuk mengusir bentuk-bentuk kejahatan dan terlindung dari malapetaka.

Apakah di era modern ini masih mempercayai hal itu, bisa jadi hal itu dianggap tidak rasionalis. Sebab era modern cenderung berparadigma positivistik yang berpandangan segala sesuatu harus rasionalis dan empiris. Ataukan hal tersebut di anggap bidah, segala amalan yang tidak ada pada zaman rasul.

“Alam semesta memiliki energi dan energi menghasilakan kekuatan,” jawab Pak Muh.

Mahasiswa merasa senang mendapatkan jawaban singkat tersebut. Karena ia mendapatkan restu untuk mengamalkan apa yang ia kehendaki dan memakai jimat supaya mendapatkan keberkahan hidup.

Amalan doa, zikir, hizib maupun memakai jimat merupakan bentuk usaha ikhtiar seorang hamba, yang dilakukan dalam bentuk doa yang bertujuan untuk mendapatkan ketenangan, perlindungan maupun terhindar dari marabahaya.

Tentu bentuk amalan dan jimat itu tidak mengandung unsur kesyirikan; “Sesungguhnya hizib, azimat dan pelet, adalah perbuatan syirik.” (HR Ahmad).

Alam itu memiliki energi, baik itu air, matahari maupun udara yang dapat dipergunakan untuk menghasilkan kekuatan. Begitu juga dengan amalan yang datang dari pencipta alam semesta berupa wahyu yang diturunkan kepada Rasul Muhammad yakni Al-Qur’an.

“Dari Auf bin Malik al-Asja’i, ia meriwayatkan bahwa pada zaman Jahiliyah, kita selalu membuat azimat (dan semacamnya). Lalu kami bertanya kepada Rasulullah, bagaimana pendapatmu (ya Rasul) tentang hal itu. Rasul menjawab, ''Coba tunjukkan azimatmu itu padaku. Membuat azimat tidak apa-apa selama di dalamnya tidak terkandung kesyirikan.” (HR. Muslim)

Semarang, 03/10/12

Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: