Minggu, 31 Maret 2013

Akan Di Lebihkan

PAK Muh di amanahi untuk menjabat takmir Masjid dikampungnya, harus memikul beban tanggung jawab pembangunan masjid. Karena tidak ada kotak amal, maka biyaya harus dari swadaya masyarakat maupun pemerintah. Sedangkan pembangunan menelan anggaran biyaya sepuluh juta lebih.

Suatu ketika Pak Muh mendapatkan dana bantuan dari pemerintah provinsi. Dana itu cair seratus persen tanpa potongan sebesar lima juta. Lalu datang salah suatu warga yang hendak meminjam uang dari dana masjid tersebut.

Pak Muh memperbolehkan uang itu di pinjam asalkan ia meminta izin ke seluruh takmir dan ketua RT. Akhirnya uang itu cair dipinjam sebesar empat juta. Ternyata uang yang akan di pinjam tak kunjung dikembalikan. Pembangunan masjidpun terbengkalai.

Walaupun begitu Pak Muh tetap santai, meskipun sebenarnya ia juga tidak punya uang sebesar itu. Ahmad menghampiri ia dan menanyakan tentang pembangunan masjid.

“Uang di pinjam, tak kunjung dikembalikan. Bagiamana ini Pak Muh?” tanya Ahmad.

“Pembangunan akan tetap berjalan,” jawab Pak Muh singkat.

“Terus dananya dari mana?” Ahmad penasaran. Barangkali Pak Muh punya uang banyak, pikir Ahmad

“Aku tidak bisa mengantinya. Jika kita memberi satu maka Allah akan mengantinya lebih,” terang Pak Muh.

Selang beberapa hari Pak Muh mendapatkan surat dari Pemerintah Provinsi. Menerangkan bahwa masjid yang ia pimpin mendapatkan dana hibah sebesar sepuluh juta rupiah. Dalam hatinya yang penuh terima kasih ia berkata, “Allah benar-benar menepati janjinya. Siapa yang mau berusaha memberi satu, maka Ia akan memberikan lebih”. Kini pembangunan masjidpun berjalan lancar dari dana swadaya dari Pemerintah dan warga.

Semarang, 14/09/12
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: