Selasa, 29 November 2011

Rasa Takjub


SUNGGUH mengasyikan hidup di Negara yang entah berantah, berbagai macam kejadian selalu menyelimuti baik masalah kriminal, sosial politik hingga cemburu yang berakhir bunuh diri. Apa lagi baru-baru ini, elit politik kembali berulah salah satu pernyataanya bubarkan saja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan maafkan koruptor.
Tentunya kita dibuat takjub dan tercengang atas pernyataan tersebut, lembaga yang diharapkan mampu memberantas korupsi karena sudah tidak ada lagi yang diharapkan selain KPK. Inilah ketakjuban, seperti kita lagi diajari cara berfilsafat. Karena dalam pandangan Plato yang tertuang dalam Theaetetus, filsafat berawal dari “ketakjuban”. Tentu saja bukan takjub, terhadap suatu realitas yang terjadi dan kita hanya diam membisu tidak bisa berbuat apa-apa.

Akan tetapi takjub ini bukanlah semacam itu, melaikan sebuah perasaan terhadap sesuatu yang tidak kenal, menggiringi kita untuk mencari makna yang mendasar di balik keagungannya sehingga mendorong kita ke ruang wawasan dan puncak pengetahuan yang selalu baru.

Hal ini dapat digambarkan kita kita jalan-jalan ke mall tiba-tiba ada sesosok wanita cantik berparas manis, dibalut dengan busana muslim yang memikat. Kita lalu berkata, “sungguh wanita luar biasa”. Kata-kata tersebutlah yang menjadikan “takjub”, namun hanya sebatas kata bukan menjadi ruang pengetahuan.

Seperti kisah Zulaikha, takjub atau kagum terhadap Nabi Yusuf. Namun Zulaikha di cerca oleh sahabatnya, diundanglah sahabatnya dalam suatu perjamuan dan Nabi Yusuf yang membawakan hidangan. lalu merekapun merasa kagum;
“Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian Dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah Malaikat yang mulia. (QS. Yusuf: 31)

Ketika mendengar bahwa KPK akan dibubarkan, kita merasakan takjub atau bisa diistilahkan lain dengan “kagum” mendapatkan berita baru. Namun kita hanya bisa takjub, tidak bisa berbuat apa-apa. Lha..kita hanya rakyat kecil, jika mengerti masalah itu, bagaimana menyampaikannya.

Apakah KPK akan menjadi lembaga yang memiliki arti KPK (Komisi Persahabatan dan Kesetiakawanan). Komisi yang menjadi teman akrab partai penguasa ataupun sahabat sejati yang mampu memberikan kenikmatan material.

Atau DPR (Dewan Persahabatan Reformasi), karena gagal mewujudkan reformasi yang sesungguhnya atau  semua itu teman, sahabat, kawan atau bahkan paling uniknya keluarga.

Sungguh semua bentuk penghidupan yang berhubungan dengan kenikmatan berawal dari “teman”, tak heran jika Nabi Adam merasa kesepian di surga walaupun banyak kenikmatan, tapi ia membutuhkan teman yang kemudian kita kenal Siti Hawa.

Tanpa teman hidup ini merasa sepi, tapi jangan merasa takjub atau kagum dengan teman anda, siapa tahu dia menusuk atau bahkan melawan dari belakang. Ini bukan kisah Nasaruddin Joha bisa jadi ini kisah Nazaruddin dengan Anas Urbaningrum.

Namun kita tidak sedang berretorika, karena ketakjuban sangat erat dengan kekaguman kita terdapat sesuatu pengalaman yang terjadi, khususnya pengalaman yang menularkan pertanyaan yang tidak terjawab dengan penalaran logika belaka, tetapi dengan mengalami pengalaman itu sendiri.

Sungguh jenis ketakjuban filosofis yang paling dasar ialah ketakjuban tentang makna kehidupan yang sebenarnya. Pertama, jika mampu bertanya dan mencari solusi akan ketakjuban tersebut (ulul albab). Kedua, mendapatkan suatu paradigma baru (mujtahid). Ketiga, menjadi agent perubah, walau sebatas moral etik (mujadid).

Sungguh kita hanya takjub akan kebesaran dan keagungganNya. Tentu aku akan kagum orang yang berjuang (mujahidin) dan menegakan panji-panji Islam.
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: