Senin, 22 November 2010

KEBAHAGIAAN

Setiap orang menginginkan akan kebahagiaan, pastilah mereka akan mengamini bahwa mereka tidak ingin hidup sengsara. Namun kebahagiaan seperti apa yang diinginkan dan bagaimana mencari kebahagiaan itu. Inilah pertanyaan awal yang akan membedakan cara pandang seseorang dalam menerjemahkan kata “kebahagiaan”.
Cara pandang manusia atau individu inilah yang akan membedakan penafsiran tentang konsep kebahagiaan. Kalaupun Tuhan telah menggariskan umatnya untuk hidup bahagia baik didunia dan akhirat. Tapi kebahagiaan yang seperti apa yang menjadi standar nilai kebahagiaan. Apa lagi di era sekarang ini, setiap individu menginginkan kesuksesan dalam berkarir, pangkat atau jabatan maupun kesuksesan dalam berkeluarga.

Setiap individu dilahirkan dengan memiliki cara pandangnya sendiri. Pandangan hidup atau biasa disebut dengan worlview (bahasa Jerman: weltanschauung/weltansich). Cara pandang inilah yang akan membedakan individu-indovidu dalam menerjemahkan kebahagiaan.
Fondasi ini kita akan berpijak pada pandangan yang lebih menonjol, atau pandangan yang biasa dipakai di zaman sekarang atau bisa ditempatkan kepada pandangan barat. Pertama, rasionalisme merupakan paham yang menyatakan bahwa akal manusia merupakan sumber pengetahuan yang dapat diterima dan diandalkan. Pada konteks ini kebahagiaan adalah sesuatu yang nampak atau dapat diterima oleh akal semisal rasa sakit, miskin, tidak berpangkat, pengganguran. Jadi kebahagiaan dalam pandangan rasionalisme merupakan pandangan kebahagian yang dapat diterima oleh akal dimana intervensi dari yang lain tidak bisa mengalahkannya.
Kedua, materialisme merupakan keyakinan bahwa realitas yang ada hanya fisik atau materi. Jadi kebahagiaan yang dimaksud merupakan kebahagiaan materi semisal memiliki rumah banyak, harta yang banyak ataupun perusahaan yang memiliki cabang-cabang dari berbagai Negara. Sehingga dalam memenuhinya manusia bersaing satu sama lain, yang kaya semakin kaya yang miskin kasian deh..lhoe Ketiga, humanisme merupakan aliran yang muncul karena pandangan rasionalisme dan materialisme. Humanisme merupakan keyakinan bahwa manusialah yang menjadi patokan standar, kebenaran dan kesalahan ditentukan oleh manusia. Hal ini memicu persaingan, bahwa kebahagiaan dapat didorong rasa persaingan namun saling menguntungkan (simbiosis mutualisme), yang kaya mampu memperkerjakan yang miskin. Sehingga manusia dalam mencapai kebahagiaannya para individu bebas melakukan apa saja untuk memenuhi keingginannya, tidak ada yang membatasi kecuali secara langsung menyakiti atau merugikan orang lain.
Keempat, sekulerisme adalah paham yang menyatakan bahwa urusan agama harus dipisahkan dari urusan dunia. Jadi kebahagiaan itu hanya di dunia tidak ada pada dunia bayangan atau akhirat..
Empat pandangan tersebut sebenarnya merupakan penjara yang akan menjerumuskan, apa lagi jika individu berpijak pada salah satu faham diatas. Pandangan tersebut sekarang ini sebenarnya telah mendarah daging dalam seluruh kehidupan manusia dimasyarakat barat dan bahkan telah menyebar ke individu-individu umat Islam.
Seharusnya padangan kita sebagai umat Islam yang rahmatal lilalamin memiliki pandangan hidup islam yang menimbulkan change, development dan progress. Pandangan hidup muslim berpedoman pada wahyu Tuhan yang telah diturunkan kepada nabi Muhammad dan tentu ada sumber lain yakni pemikiran Islam atau akar pandangan hidup Islam itu sendiri. Karena pandangan ini terkait dengan bagaimaan seseorang mampu tahan dari gempuran pandangan hidup yang menyesatkan.
Persoalan yang paling mendasar umat Islam sekarang ini terkait dengan kekuatan basis ilmu (ilm’), bukan berarti mereka bodoh, tidak berpendidikan akan tetapi pandangan hidupnya yang sudah diracuni dengan pandangan hidup orang barat
Mengapa bisa begitu karena individu sekarang jika sudah diberikan ilmu ataupun memiliki pendidikan yang cukup untuk dirinya dan hanya terikat dengan hidup sukses. Contohnya seseorang kuliah bertujuan untuk mendaptkan ijasah dan pada saat lulus nanti dapat berkerja sesuai dengan jurusannya, hanya selesai sampai disitu aja tanpa ada hubungan antroposentrisnya apalagi teosentris.
Maka kita sebagai manusia yang dikarunia akal dan pandangan hidup yang layak, sungguh harus mampu menafsirkan apa itu kebagiaan yang sesungguhnya. Saatnya kita berfikir kebahagiaan itu sendiri. Baik kebagiaan berilmu, bekerja, berpangkat maupun berkeluarga.
Sesungguhnya setiap orang beriman akan memiliki kebahagiaan. Sesungguhnya orang yang berjihad memiliki rasa bahagia, apalagi yang dapat habluminalllah hablumminan nass.
Sesungguhnya kebahagiaan kita telah digaris bawahi pada saat kita dilahrikan dari umur, riziki hingga jodah, namun tidak cukup sebegitu saja karena sungguh kita terlahirkan memiliki peran dan kedudukan sebagai khalifah dan abdillah. Hubungan antroposentirs dan teosentris.
Saatnya kita bahagia.
Saatnya kembali kepada jalur kebahagiaan yang sesuai wordview.
Good luch very-very happy.
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: