Selasa, 06 April 2010

LINGKARAN HIMPUNAN

Perjalanan Semarang menuju Jepara jarak tempuhnya kurang lebih satu setengah jam perjalanan memakai kendaraan bermontor. Tepat di sore hari berangkat menuju kota yang dikenal dengan kota ukir dan bumi kartini. Waktu yang dipilih memang disengaja diambil habis shalat ashar, sehingga jalan raya sangat padat di lalui lalu lalang trasnportasi dari berbagai macam merk. Maaf tidak dapat menyebutkan nama merknya, karena itu seponsor he he.

Apa kalian tahu, mengapa harus ke Jepara. Atau jangan-jangan ada tugas khusus organisasi, pastilah jika itu memang kegiatan tersebut formal. Namun kesana hanya acara non formal untuk berkunjung dirumah teman dan berusaha silaturahmi ke organisasi yang disebut himpunan. Lebih enak jika di sebut sebagai lingkaran himpunan. Karena di sana terdiri dari berbagai aliran kepercaaan agama, sehingga khatulistiwa seperti membentuk lagi garis bhineka tunggal ika.
Lingkaran himpunan membutuhkan bimbingan dan pembelajaran. Sebab lingkaran himpunan masih belum bisa berdiri kuat sehingga memerlukan penopang supaya ia dapat berdiri sendiri. Membincang lingkaran himpunan akan sangat mengasyikan jika sebungkus makanan nasi kucing ada di hadapan, tapi tidaklah kayak anak manja aja ha ha ha. Ada-ada aja loe.
Lingkaran himpunan belum dapat berdiri sendiri. Di dalamnya hanya ada beberapa orang yang masih bertahan. Namun jika hanya bertahan tanpa keluar, lingkaran himpunan akan menjadi tempat sampah yang di isi dengan barang rosokan yang kemudian diambil pemulung dan di hancurkan dipabrik-pabrik daur ulang.
Maka penghuni lingkaran himpunan harus keluar, kalau perlu keluar semua tanpa menyisakan satu manusiapun. Tapi alangkah baiknya kita rembuk dulu untuk menemukan solusi alternatif. Silahkan duduk, makanan kecil dan minuman air putih tersedia dihadapan mata-mata yang membutuhkan kesegaran, walau sekedar membasahi tenggorokan.
Urun rembuk atau berbagi ide kreasi demi kemajuan dan tumbuh kembangnya lingkaran himpunan. Ruang lingkaran tertutup rapat. Mereka asyik membincang demi harapan dan mimpi bersama di lingkaran himpunan. Hal yang amat penting diperbaiki bukanlah lingkaran himpunan itu sendiri, tapi para penghuninya. Dalam hal ini penghuni tersebut harus mengubah mainstream berfikir. Pertama, mengubah mind site atau paradigma berfikir. Bahwa lingkaran himpunan bukanlah beban atau masalah yang berat. Akan tetapi ladang kita untuk lebih dewasa dan belajar tentang semesta.
Kedua, value education dalam artian memerlukan formula yang terdiri dari tiga hal yakni kebaikan, keindahan d an kebenaran. Jika kita meyakini lingkaran himpunan adalah ketiga hal tersebut maka kita bisa mengambil sikap untuk dapat menumbuh kembangkan lingkaran himpunan menjadi yang terbaik.
Ketiga, no dream star action. Jangan bermimpi untuk menegakkan pondasi rumah menjadi bangunan kokoh, jika masih saja bermimpi. Tapi keluarlah membeli perlatan dan bahan baku bangunan untuk mendirikan rumah tersebut. Di lingkaran himpunn juga seperti itu, selebihnya merupakan aksi kita dilapangan atau diluar lingkaran himpunan. Tunjukan bahwa didalam lingkaran himpunan ada mutiara. Seperti layaknya tiram yang didalamnya ada mutiara, dilihat dari luar seperti tidak begitu memikat. Akan tetapi jika memasuki lingkaran himpunan mereka akan terpesona dan takjub akan keidahan dan keberkahan di dalamnya.
Lingkaran himpunan tidak membutuhkan orang pandai. Tapi cukup bagi mereka yang memikirkan untuk tetap berjuang menegakan jalan yang benar. Rela bertanggung jawab dan komitmen di dalam lingkaran himpunan.
Jangan sekedar berfikir, di ruang gelap seperti lingkaran himpunan ada tanda-tanda kekuatan yang tidak dapat di rasionalisasikan. Sungguh bahagianya mereka yang mampu menemukan tabir kehidupan di lingkaran himpunan. Selamat menikmati ruang-ruang lingkaran himpunan. Karena lingkaran merupakan simbol perputaran yang tidak ada titik ujung pangkalnya, didalamnya menyimpan berbagai macam rahasia keagungan Allah. Lingkaran oh lingkaran himpunan, merindulah engkau wahai kaum perindu yang ingin mendapatkan kedamaian didalamnya.

Jepara, 8-9 Maret 2010
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: