Minggu, 25 April 2010

Malunya Si Putri Malu

Hidup merupakan sebuah perjalanan, itulah kiranya lanju sunatullah apa yang di namakan umur. Namun ada suatu yang menarik tentang perjalanan, kita semua mungkin mengetahuinya. Perjalanan berasal kata jalan yang mendapatkan kata imbuhan berupa pe-an, yang menjadikan kata jalan menjadi kata kerja. Membincang jalan sangatlah menarik jika sesedari sadar sejenak melepas semua kepenatan yang menganggu pikiran. Maka dari itu marilah untuk sementara melepas beban pikiran yang menyelimuti hidup ini.
Sudahkah melepas masalah itu. Selanjtunya setelah melepas masalah kita akan bertamasya membincang tentang jalan. Ketika membincang tentang jalan akan banyak ide muncul dari pikiran kita.
Mungkin bisa di telurkan menjadi sebuah puisi, prosa, esai, opini dan bahkan karya ilmiah sekalipun. Banyak analogi yang di pakai dalam kata jalan semisal anak jalanan, jalan tol, jalan buntu, jalan keselamatan dan masih banyak jalan-jalan yang lain. Tapi disini tidak akan membahas persoalan ilmiah yang semakin membingungkan pikiran yang akan mengakibatkan munculnya masalah baru. Sebab dalam perjanjian awal kita diharuskan untuk melepas semua beban hidup.
Okelah kalo bebe be gitu..!. Jalan adalah simbolisasi kehidupan yang mencerminakan sebuah laju kehidupan. Sangat aneh sekali ternyata di balik kata jalan banyak misteri yang timbul. Sebab jalan bukanlah satu arah namun memiliki berbagai macam laju yang berbentuk tikungan. Namun sangat tidak menarik atau bahkan tidak indah jika jalan itu berbentuk lurus dan bahkan dengan aspal yang tidak berlubang. Tentu sangat mudah dong, mencapai tujuan tersebut.
Tapi, maaf kita tidak ingin membincang kata jalan lebih jauh. Semakin bingungkan, lha yang nulis aja bingung he he he.
Ada pertanyaan tentang tema yang akan dibahas, “apakah ketika kita dijalan menemui bunga sepatu atau lazimnya di kenal dengan bunga putri malu”. Saya yakin semua pasti sudah pernah melihat, menyentuh atau minimalnya pernah mendengar bunga sepatu dalam pelajaran di sekolahan.
Ngapain juga ngomongin bunga sepatu. Penasaran kan, gini lho bukan maksud untuk apa-apa tapi justru akan berbicara tentang apa-apa.
Bunga sepatu banyak hidup di pingir jalan dan si semak-semak belukar. Kita sering tidak menghiraukan bunga tersebut, selain bunga yang tidak indah memiliki duri yang tajam pula. Hayooo…siapa mau mendekat, awas durinya tajam lho hati-hati dapat melukai kaki atau tanganmu.
Namun bunga sepatu memiliki keunikan tersendiri dari pada bunga-bunga lain. Walaupun bukan menjadi idola atau bahkan tidak sama sekali memiliki nilai jual, anehnya juga bunga sepatu di anggap sebagai rumput liar.
Tahukah keunikan tersebut, tentu pasti banyak mengerti dong. Ya..betul, bunga sepatu jika disentuh maka akan mengatupkan daunnya. Maka bunga sepatu di kenal dengan nama putri malu. Sebab apa pun benda yang mengenai dirinya maka dia akan menutup daunnya.
Inilah simbolisasi sifat manusia pada umumnya. Kita dianugerahi Tuhan dengan rasa malu, dengan rasa malu itu kita semakin berwibawa dan memiliki nilai derajat yang tinggi.
Sejarah umat manusia terjadi karena rasa malu. Dalam kisah nabi Adam dan Hawa, dimana Allah mengusir mereka dari surga dan diturunkan kebumi dengan telanjang bulat. Kedua insan tersebut merasa malu dan berlarian tidak karuan. Pada akhirnya menemukan benda-benda yang dapat menutupi rasa malu tersebut. Mengapa mereka harus malu, kan tidak ada manusia yang lain.
Di sinilah keagungan rasa malu yang diberikan Allah kepada manusia. Bahwa rasa malu bukanlah antara manusia satu dengan manusia lainnya. Namun rasa malu merupakan manisfestasi dari seluruh jagat raya ini.
Karena jagat raya ini merupakah mahluk baik itu langit, batu, bumi, angin, pohon dll. Walaupun secara fisik mahluk tersebut tidak memiliki indra seperti layaknya manusia. Di sinilah kita mengetahui mengapa Adam dan Hawa sangat malu, selain dirinya berhadapan dengan sang khalik.
Inilah rasa malu pada bunga sepatu. Apapun benda yang mengenai dirinya baik dari manusia maupun dari mahluk lainnya maka ia akan mengantupkan dirinya dengan rasa malu tersebut.
Apakah kita memiliki rasa malu. Atau rasa malu hanya sekedar ditunjukan dengan sesama bukannya kepada alam semesta ini.
Manusia sekarang ini banyak yang melepas rasa malu. Tahukah kau apa itu rasa malu, rasa malu bukanlah alat kelaminmu atau hal yang sangat keramat bagi dirimu. Tapi diri inilah rasa malu tersebut. Rasa malu untuk menindas, menghina, mencemooh, iri, dengki dan yang lainnya sebagainya.
Bahkan anehnya kemaluan itu pun sudah di jual murah di toko-toko terdekat tepatnya di tempat lokalisasi. Belum lagi malu-malu yang lain, gadis remaja dengan pakaiaan seksinya atau para pemuda yang menikmati minuman keras dan narkoba di tempat tongkrongan. Pemimpin yang mengkorupsi uang rakyat, tentu pemimpin tersebut tidak memiliki rasa malu.
Sungguh malunya diri kita pada bunga sepatu...!
Cukup sampai di sini saja penjelasan tentang bunga sepatu di jalan. Namun amati dan renungkanlah dengan filosofimu sendiri di balik rahasia bunga sepatu.
Bunga sepatu atau biasa di sebut dengan bunga putri malu mengisyaratkan kita pada tujuan perjalanan hidup. Pertama, kita di wajibakan memiliki rasa malu baik dengan sesama manusia maupun dengan mahluk di semesta ini. Karena rasa malu merupakan kekuatan iman yang menjadikan diri mencapai tingkatan ihsan, apa-apa yang kita kerjakan pasti di lihat Allah dan apa bila kita merasa tidak dilihat sesungguhnya allah melihat apa yang kita perbuat.
Kedua, bunga sepatu adalah bunga liar. Maka manusia bisa dinggap mahluk yang liar, karena dirinya memiliki keistimewaan yang tidak di miliki mahluk lainnya. Liar bukan berarti memiliki kebebasan sepenuhnya, tapi memiliki amanah tujuan hidup. Liar berarti siap di benci, di musuhi dan suatu yang negatif pada diri manusia. Seperti bunga sepatu yang dinggap rumput liar. Orang seenaknya memotong, menginjang dan merusaknya. Tapi memiliki konsistensi dan tanggung jawab, itulah putri malu. Begitu juga manusia harus memiliki sikap yang sabar dan ikhlas dalam menjalani semua persoalan hidup.
Ketiga, putri malu memiliki duri. Seorang manusia harus memiliki pelindung bagi dirinya. Pelindung tertinggi adalah keyakinan beriman kepada Allah. Seyognyanyalah kita selalu meningkatkan keimanan sebagai pelindung dari mara bahaya baik yang berbentuk fisik atau non fisik seperti ganguan nafsu, setan dan roh halus. Dan manusia wajib memiliki pelindung untuk menghidupi dirinya di bumi ini. Maka dari itu, manusia diwajibkan berusaha dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Capek rasanya...! Cermatilah, diri kita apakah sudah memiliki rasa malu seperti putri malu.
Dalam sebuah perjalanan, 28/03/10
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: