Selasa, 06 April 2010

DARRELL ADARA

ehabis menikmati makan malam, tepat setelah shalat maghrib di daerah yang tidak begitu dingin di desa Susukan-Banjarnegara. Kumandang adzan isak’ terdengar lirih dan sujud sesembah kepada Tuhan semesta alam. Perjalanan telah mengantarkan diri ke tempat yang tidak begitu jauh tempatnya di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
Tubuh ini berdiri seperti ingin menantang, akan tetapi ini bukanlah tantangan. Siapa juga yang ingin menantang Tuhan, aneh-aneh saja. Tapi bolehlah kalau ingin menantag Tuhan. Karena Tuhan sudah lari dan sekarang bersembunyi, malu melihat dirimu. Dengan menantang-Nya, siapa tahu semua akan berubah menjadi yang terbaik. Selanjutnya pertanyaannya, sudahkah kau mempersiapkan bekal tantangan itu..?.
Ah...ternyata parah, tidak ada bekal yang dibawa. He...kenapa engkau tidak membawa bekal, padahal sudah dibilangin untuk mempersiapkan bekal tantangan. “Tidak perlu bekal materi”, jawabnya dengan tegap dan penuh kepastian. Pandangannya sudah terarah dengan keyakinan dan alisnya bergerak-bergerak penuh isyarat.
Dirinya telah mantap untuk tidak membawa bekal materi. Tapi bagaimana bisa percaya, jika menantang Tuhan hanya berbekal diri. Pasti dia membawa bekal kanuragan atau ilmu sihir. Pertanyaan itu mengarah kepadanya, “ilmu apa yang kau bawa”. Dia hanya bisa menjawab, “Aku tidak memiliki ilmu kanuragan dan bahkan ilmu pengetahaun sekalipun”.
Waduh..lebih parah lagi nih..! Bagaimana dia bisa mengalahkan Tuhan, ilmu pengetahuan saja ia tidak punya. Gimana sih nih orang, jelas-jelas dia itu orang bukan Tuhan. Apa ia lupa bahwa dirinya itu di ciptakan dari sari pati tanah yang dibentuk Tuhan dengan kun fayaku. Semakin bingung nih.
Pertanyaan itu kembali untuk yang ketiga kalinya. “Apa engkau sudah datang dengan ketaatan”. Engkau saja meningalkan keluargamu, hanya untuk pertualangan pembelajaran yang belum tentu sangat bermanfaat. Ya..aku sangat paham bahwa kemanfaatan tidak dapat dihitung dengan cepatnya waktu atau hanya satu sampai lima tahun kesuksesan dapat di raih. Dia hanya tersenyum dan wajahnya sangat berseri-seri dengan kepercayaan diri. Dia tetap kokoh pada pendiriannya untuk tetap menantang Tuhan.
Di sini tidak akan membincangkan tentang tiga hal amal manusia. Pertama, tentang materi yaitu amal shalihah. Kedua, ilmu pengetahuan dengan nilai kebermanfaatan dan ketiga, kebaktian kepada kedua orang tua.
Namun tetap pada konskwensi awal yaitu menantang Tuhan. Terus apa bekal yang dibawa olehnya. Semakin penasaran aja, biarlah. Kalau tidak tiga hal tersebut, apakah dengan kata-kata ”cinta”. Menantang Tuhan dengan modal cinta ha ha ha, kayak Rabiah al-Adawiyah aja dengan mahabahnya. Buktinya Rabiah al-Adawiah memakai dua bekal yaitu materi dan non materi. Secara non materi dia membawa konsepnya tentang mahabah. Sedangkan untuk materi dia membawa air dan api ditangan kanan kanan dan tangan kirinya. Api untuk memadamkan panasnya api neraka dan api untuk membakar kenikmatan surga.
Menantang Tuhan dengan ketaatan untuk dekat dengan dirinya, dengan tidak adanya realitas fisik antara surga dan neraka. Hasan al-Basri sampai takjub kepada Rabiah al-Adawaiyah, karena cintanya tidak diterima. Karena dia hanya pada tingkatan raja’ dan khauf atau bermodalkan rasa takut kepada neraka dan harapan untuk menikmati surga. Rabiah pun menolak cinta Hasan, ini bukan kisah Laila Majnun kisah cinta Laila dan Qais yang berujung maut karena tidak menemukan pujaan hatinya. Oh..my god.
Di sini juga tidak akan membincang rasa cinta Rabiah dan Hasan. Tapi masih pada seseorang yang ingin menantang Tuhan yang belum diketahui modal dan bekal apa yang dibawa.
Ternyata dibalik tekad orang tersebut, munculah cahaya diseluruh tubuhnya. Begitu terangnya sehingga, ketiga pertanyaan yang dilontarkan kepadanya tidak berarti. Atau salah mengartikan tentang tantanganya kepada Tuhan antara Rabih dan Hasan..
Manusia berdiri pada hukum yang bersifat ”civil law” dan ”common law”. Civil law yng berarti suatu hukum yang tetap mengikat dan berbentuk suatu yang baku. Seperti syariat Islam, contohnya perintah tentang shalat, zakat, puasa dll. Sehingga keadaan tersebut seseorang harus taat mengikuti. Sedangkan common law, suatu hukum yang dapat di interprestasikan atau dapat dijelaskan sesuai dengan keadaan dan tempatnya. Ya..seperti ilmu fiqh yang dapat memberikan keleluasaan dan keringanan kepada pemeluk agama Islam.
Begitulah tantangannya kepada Tuhan. Ia hanya membawa bekal civil law dan common law. Yakni bekal yang dapat diartikan, “kepastian dan ketidak pastian”.
Kepastian bahwa dirinya diciptakan oleh Tuhan untuk mengemban amanah menjadi seorang khalifah dan abdillah. Kepastian bahwa diciptakan dirinya tidak ada kesia-siaan. Makanya dengan kepastian pula ia menantang Tuhannya.
Ketidak pastian bahwa ketika fungsi kepastian sudah dijalankan sesuai kadar kemampuan maka Tuhan akan memberikan tempat yang layak berupa kebahagiaan dunia dan akhirat. Ketidak pastian itu berupa jodoh, rizki, umur dan segala sesuatu yang tidak dapat di rasionalkan seperti surga dan neraka.
Kepastian adalah sejatinya ia menantang Tuhan dan ketidak pastian adalah sejatinya permintaan pertanggung jawaban kepada Tuhan.
Sudahkah engkau menantang Tuhan hari ini..?
Jangan mengartikan tantangan dengan hal yang negatif lho..!
Pasti belum pahamkan tentang apa itu tantangan kepada Tuhan.
Maka belajarlah terus dan ambil nilai-nilai hikmah dan ilham kehidupan. Karena seiring perputaran waktu siang dan malam ada tanda-tanda bagi mereka yang berfikir. Karena sejatinya tantangan bukanlah secara fisik kita bertarung. Sejatinya tantangan bukanlah pertarungan batin. Sejatinya tantangan adalah eksistensi kita di hadapan-Nya, sudahkan shalat hari ini. Maka segeralah shalat dan tantang Tuhanmu.
Kita akan tahu apa itu, ”darrel”, dari bahasa Perancis yang berarti kekasih, dirimu adalah kekasih. Sedangkan ”adara”, berarti cantik, karena sesungguhnya dirimu adalah kecantikan. Sebab dirimu dibalut dengan sifat ketuhanan berupa sifat ”jamaliyah” dan ”jalalliah”.
Tantanglah Tuhanmu..!

14 Maret 2010
Pasar Wage Purwokerto

Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: