Selasa, 20 April 2010

DANADYAKSA POSTMODERN


Aku mencoba untuk bangun dipagi hari buta, dengan rasa gelap yang masih menyelimuti. Walau tampak mataku tidak tahan, enggan untuk terbuka. Rasanya ingin memandang indah dunia di saat para manusia masih terlelap dalam tidurnya. Tapi aku tetap berusaha meskipun mata tidak menghendakinya. Mencoba merasakan kenikmatan bangun diwaktu pagi hari dan akupun akhirnya terbangun.
Rasakkan udara terasa dingin sekali, sampai menusuk tubuh mungilku. Aku tetap ingin tegap berdiri menantang sang mentari yang belum juga keluar. Gula, teh dan air hangat yang kemudian bersatu merdu menjadi suatu keindahan berupa teh manis, aku membuatnya untuk menemaniku menikmati pagi buta ini.

Enak sekali rasanya, cobalah engkau membuat teh manis di pagi buta dan rasakkan kenikmatannya. Dengan begitu engkau memiliki teman meskipun itu hanya segelas teh manis. Itu adalah buatanmu sendiri, maka sungguh mulyanya dirimu karena mampu membuat, mencipta, dan berkreasi atas hasilmu sendiri.
Musik malam berimanjinasi sendiri nada-nadanya mendesah mengeluarkan satu demi satu ketukan melodi yang dapat menghasilkan irama kehidupan. Aku begitu merasakannya. Duhai pagi yang membawa keanggunan, aku merasakan musik alam.
Ternyata aku sudah di luar rumah, pohon-pohon berdiri menantang daun-daun mendayu-dayu merasakan musik alam dan bahkan mereka melakukan tarian semesta. Aku memandang mereka, apakah engkau mendengar bisik hatiku; tanyaku pada pohon mangga. Pohon mangga itu hanya menjawab dengan menjatuhkan beberapa lembar daun.
Aku adalah anak zaman, di era postmoedern ini kekuatan global membelenggu. Dimana ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi kekuatan besar yang sewaktu-waktu bisa menghabisimu. Aku masih saja bicara pada pohon mangga, meskipun engkau tidak merasakannya.
Ya..sudah ini semua tidak dapat tidak terelakan lagi. Hal ini merupakan konskewensi langsung dari zaman globalisasi dengan paradigma berfikir yang positivistik. Suatu pandangan yang mengagungkan rasionalitas dan pandangan empirisme atau sesuatu yang dapat di ukur dengan ilmu pengetahuan modern. Semua ada ketentuanya, desah batinku.
Apa kau tau apa itu globalisasi, pertanyaan itu muncul seketika aku memyaksikan peralihan zaman modern ini. Aku tahu bahwa istilah globalisasi diambil dari kata “global”. Kata ini melibatkan kesadaran baru bahwa dunia adalah sebuah kontinuitas lingkungan yang terkonstruksi sebagai kesatuan utuh.
Globalisasi menurut Malcolm Waters “Globalization”, dalam Gordon Marshall (ed.). Oxford Dictionary of Sociology adalah :
A social process in which the constraints of geography on social and cultural arrangements recede and in which people are becoming increasingly aware that they are receding.
(Sebagai proses sosial yang di dalamnya terdapat desakan geografi atas penataan sosial dan budaya mulai menyusut dan masyarakat menjadi semakin sadar bahwa mereka akan mengalami penyusutan).
Marshall Mc Luhans menyebut dunia yang diliputi kesadaran globalisasi ini global village (desa buatan). Dunia menjadi sangat transparan sehingga seolah tanpa batas administratasi suatu negara. Batas-batas geografis suatu negara menjadi kabur.
Bukan hanya desa buatan tapi dunia yang dibuat-buat, seolah dunia di kelilinggi berbagai macam kepentingan untuk tetap survive. Ya..ya..istilah globalisasi dipopulerkan oleh Theodore Lavitte pada tahun 1985, menjadi slogan magis di dalam setiap topik pembahasan.
Globalisasi menggambarkan proses multilapis dan multidimensi dalam realitas kehidupan yang sebagian besar dikonstruksi oleh kepentingan. Substansi dari globalisasi yaitu ideologi yang menggambarkan proses interaksi yang sangat luas dalam berbagai bidang: ekonomi, politik, sosial, teknologi dan budaya.
Dengan globalisasi karakteristik hubungan antara penduduk bumi mengalami perubahan drastis yang melampaui batas-batas konvensional, seperti bangsa dan negara. Keadaan demikian ini menunjukkan bahwa relasi antara kekuatan bangsa-bangsa di dunia akan mewarnai berbagai macam bidang.
Aku seakan ingin tertawa sendiri, bahkan alampun ingin tertawa tapi ia menahannya dengan nafasnya. Globalisasi sudah semestinya harus terjadi atas kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kita merasakan itu semua. Kau lihat di gengaman tanganku ada apa. Jawabanmu tepat sekali, di gengaman tanganku ada Handphone. Ya..inilah yang aku sebut globalisasi dengan sistem satelit informasi. Dimana aku dan engkau dapat menikmatinya, untuk membaca dunia cukup mengakses layar yang hanya berukuran berapa sentimeter ini.
Tapi apakah engkau sadar ternyata kita sudah hidup di dunia buatan tersebut. Dan akupun tertawa kecil, angin malam semakin menusuk tulang-tulangku. Aku menyeduh teh hangat, supaya dapat merasakan nikmatnya berjalan di desa buatan.
Kita semua telah mengkonsumsi budaya global, dengan gaya hidup kosmopolitan kita bersenandung mesra. Begitu indahnya dunia buatan itu.
Aku tidak sadar behwa dunia buatan memunculkan mundurnya kedaulatan suatu negara kesatuan dan tumbuhnya kesadaran global bahwa dunia adalah sebuah lingkungan yang terbentuk secara berkesinambungan dan muncul kebudayaan global yang membawa pengaruh terhadap perkembangan sosial dan budaya yang beraneka ragam ini.
Aduh berat sekali rasanya jika hanya berfikir. Otakku terasa panas sehingga seluruh tubuhku tidak merasa kedinginan lagi.
Di balik arus globalisasi aku berdiri tegap memandang, aku hanya bisa memandang. Ketika gaya hidup global ini memunculkan perubahan nilai dan mempengaruhi masyarakat lain, maka akan terjadi pergeseran nilai dalam masyarakat penerima pengaruh. Kecenderungan tersebut dapat dilihat dalam produk-produk global yang dikemas sedemikian rupa, sehingga kita hanya menjadi konsumennya.
Konsekuensi yang tidak bisa dielakkan lagi adalah munculnya kemungkinan konflik nilai-nilai sosial dan budaya. Negaraku rentan dengan hal tersebut, dengan burung garuda yang kokoh mengepakan sayapnya. Berbagai suku, agama, ras dan golongan menyebar di seluruh negeri katulistiwa.
Alam semesta ini akhirnya menjadi perkampungan global, hanya sebagian kecil saja penghuninya yang mampu memelihara nilai, tradisi, kebudayaan, kelembagaan, ritual dan simbol-simbol mereka. Semoga antara aku dan engkau, dapat menjaga nilai-nilai tradisi kita.
Namun kita tedak perlu mencemaskan hal tersebut. Kita hanya cukup menyadari saja. Bahwa apa yang di sebut denga globalisasi itu hanya sebuah proses zaman dan bukan sebuah produk akhir (end product). Globalisasi hanya semu, itu hanya istilah pengambaran dunia saja. Ha..ha..ha, aku tertawa sendiri seperti orang gila.
Kita hanya perlu menyadari saja bahwa globalisasi adalah proses dengan kekuatan sarana informasi dan komunikasi yang semua serba modern. Bahkan banyak orang bilang, kuno kalau kita tidak membawa Handphone yang bisa mengakses internet. Apa lagi tidak membawa handphone, malahan bisa di bilang tidak berperadaban.
Marilah merasakan proses globalisasi ini, handphone, internet, televisi, antena para bola, komputer dan pembayaran online yang dapat membuat pesan dalam waktu singkat. Sungguh antara kau dan aku berdiri diatas kebutuhan tersebut.
Aku masih merasakan nikmatnya udara pagi. Embun pagi sudah membasahi temanku para pepohonan dan rumput. Mereka sungguh menikmati embun itu, sebaliknya aku juga menikmatinya. Melebihi nikmatnya arus globalisasi yang sudah kita rasakan bersama.
Kita harus menerimanya karena globalisasi merupakan sunatullah. Kita mempercayai itu karena aku juga manusia yang beragama Islam. Agama yang bersifat universal, agama yang di turunkan Allah untuk pangeranku Nabi Agung Muhammad sebagi rahmat bagi semesta (rahmahtal lil alamin). Mari kita buka lembaran kitab suci kita, al-Qur’an dalam surat al-Anbiya ayat 107.
     
(Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam).
Aku beragama Islam, betul-betul menyadarinya karena orang tuaku juga beragama Islam. Dan aku yakin betul bahwa Islam merupakan agama bagi Allah. Walau terkadang aku masih bertanya tentang agamaku.
Dan sekali lagi globalisasi merupakan sunatullah. Marilah kita tersenyum sejenak, dan akupun tersenyum dan sesekali menyeduh teh hangat yang sepertinya sudah mulai agak dingin. Mungkin karena lamunanku yang terlalu panjang dan lama.
Meskipun ketika membincang globalisasi tidak akan ada habisnya, wacana diatas hanya sekelumit istilah dan pengertian globalisasi saja. Semoga engkau memhaminya. Dan akupun semakin hanyut dengan embun pagi, aku begitu merasakannya. Ya...Allah sungguh agung anugerah pagi yang kau berikan kepada semesta.
Mari kita bersama-sama merasakan anugerah pagi ini yang di berikan Allah kepada kita. Meskipun aku dan engkau belum tentu teligius. Tapi kekuatan spiritualitaslah yang membagkitkan semangat itu. Jika kita terobsesi dengan dogma dan doktrin, sejatinya akan menjauhkan sifat sejati. Maka diri inilah yang menggerakan untuk tetap bersanding indah dengan kekuatan batin Illahi.
Globalisasi hanya banyangan, sejatinya aku adalah diriku. Dengan visi besar yang bersifat inklusif, bukan eksklusif. Karena semua ada pada apa yang di sebut “diri “ atau “aku”.
Sejatinya diri adalah “aku”. Maka carilah dirimu, karena dengan mencari tahu siapa dirimu maka engkau akan memahami kehidupan ini. Seiring embun pagi yang sudah membasahi kulitku.
Ternyata aku adalah bagian semesta yang memiliki visi untuk memakmurkan dunia. Apakah kau mendengarnya, itu adalah suara adzan subuh. Marilah sejenak kita tingalkan lamunan globalisasi. Menuju suatu kedirian dengan visi yang baru.
Aku masih menikmati indahnya pagi menunggu hadirnya terik mentari. nampaknya sang mentari sudah mulai mengeluarkan wajahnya dari balik awan hitam pekat. Aku ucapkan selamat datang wahai simbol kehidupan, “Assalamualaikum Wr Wb”, di balik jendela kamar aku memandang.
Maaf mentari aku yang duluan bangun. Karena aku ingin jadi “danadyaksa”, dalam bahasa Sangsekerta yang berarti “penjaga kejayaan”. Menjadi orang yang memiliki jati diri dan berguna demi kejayaan yang memakmurkan semesta ini, wahai mentariku.

Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: