Minggu, 20 Desember 2009

RHETORIKA DAN OVER AKTING


Setiap manusia wajib menghargai hasil ciptaan harus bersyukur apa yang ada pada dirinya termasuk karunia mulut yang dapat berbicara dan tubuh dengan alat pengerak; tangan, kaki, mata, kuping dll. Seorang yang bergerak dibidang sebagai pekerja sosial, trainer maupun guru harus memiliki kompetensi yaitu rhetorika dan gaya bertutur (bicara) sebagai alat transfer komunikasi antara komunikator kepada komunikan. Hal ini mengisyaratkan hubungan antara sesama mahluk hidup, mengutarakan pendapat, menyampaikan pesan dan menjawab pertanyaan serta lain sebagainya.
Namun terkadang penguasaan rhetorika dan penguasaan panggung (Bloking) kurang diperhatikan dan menjadi masalah krusial sehingga mereka yang terjun dibidang bertutur kata menjadi minder, lemah dan beban pikiran. Sebab dunia tersebut bukan dunia yang serta merta hadir begitu saja, akan tetapi perlu pembelajaran dan proses yang berkelanjutan. Maka perlu disiasati segera dengan melakukan evaluasi dan perbaikan diri.
Hal tersebut itulah yang banyak dialami seseorang termasuk (aku). Secara ijasah dan lulusan perguruan tinggi sebagai tenaga pendidik, kreatifitas rhetorika dan komunikasi aktif sebagai kompetensi yang harus dimiliki, selain mentalitas dan tingkat percaya diri (PD). Walaupun pada kenyataan banyak seseorang tidak PD dan Mentalitas panggungnya belum terdidik.
Sebelum menjelaskan rhetorika dan komunikasi aktif. Disini akan dijelaskan bagaimana seseorang tidak mengalami demam panggung dan terbangun mentalitas panggung serta bernai mengutarakan pendapat di forum-forum diskusi. Kopetensi inilah yang pertama kali harus dimiliki, maka diperlukan alternatif yaitu pertama, saatnya disiasati dengan banyak berdiskusi dan berani mengutarakan pendapat, komentar, maupun menjawab. Kedua, beranikan dirimu berbicara dengan lawan bicara, kalau tidak berusahalah bicara dan dialog dengan cermin. Ketiga, dalam seni panggung, tentu banyak penonton hal inilah yang memicu kelemahan mental kita maka kita berimanjinasi bahwa penonton tidak tahu apa-apa dan anggap saja engkau guru bagi mereka. Keempat, persiapkan dirimu baik materi diskusi dan kompetensi bidang maka banyak-banyaklah belajar dan menbaca buku karena dengan kemampuan yang lebih dapat meningkatkan gairah mentalitas.
Saya pernah mengalami itu semua dan semua adalah proses, ternyata dibalik mentalitas yang kuat tidak cukup menjadi jaminan. Masih banyak kompetensi yang harus dikuasai termasuk yang saya sebutkan diatas rhetorika dan komunikasi aktif. Ternyata kemampuan tersebut sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu internal yang berbentuk fisik berupa kesempurnaan organ tubuh dan non fisik berupa kewibawaan atau kharisma, karakter, bakat, cara berfikir dan tingkat intelektual. Perlu disadari bahwa kemampuan keterampilan terbut walau ia sudah memiliki faktor penunjang utama baik internla maupun eksternal yang baik. Kemampuan yang baik dapat dimiliki dengan jalan mengasah dan mengolah serta melatih seluruh potensi.
Seorang yang bergerak dibidang kemampuan berbicara lisan (presenter, juru dakwah, penceramah, guru dll) harus memiliki daya tarik rhetoris (mempesona) dengan isi pembicaraan yan gefektif, sisitematis, akurasi dan singkat serta jelas.

Over Exsploitation
Itulah kiranya judul yang pantas. Aku sering mengalami hal tersebut yaitu saat menjalani PPL (Praktek Pengalaman Lanpangan), muridku bilang; ”Bapak orangnya banyak gerak”. Pada saat sidang munaqasah (ujian skripsi) penguji juga bilang kepadaku; ”Lukni sudah bagus secara mentalitas namun terlalu over akting, belum ada sebelumnya mahasiswa yang seperti kamu yang biasanya duduk menghadap pertanyaan dosen dengan perasaan grogi dan takut”. Begitu juga saat saya mengisi training/Latihan Kader baik di UNDIP, IKIP dan IAIN, ada beberapa evaluasi yang saya terima yaitu banyak gerak/over akting dan gaya bicara yang terlalu cepat.
Pada dataran kesimpulanya bahwa saya harus memperbaiki itu semua, namun ada yang beranggapan itu adalah sebuah kelebihan. Ternyata hal tersebut merupakan jenis keterampilan yang penting untuk dimiliki yaitu keterampilan berbicara atau seni mengutarakan bahsa lidah, yang bisa disebut (rhetorika).
Rhetorika secara etimologi dari bahasa latin (Yunani), ”Rhetorica”, yang berarti seni berbicara. Dalam bahasa inggris “rhetoric”, yang berarti kepandaian berpidato atau berbicara (The Art of Speaking). Secara triminologi (Istilah) adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari atau mempersoalkan tentang bagaimana caranya berbicara yang mempunyai daya tarik empesona, sehingga yang mendengarnya dapt mengerti dan tergugah perasaanya.

Jenis-Jenis Rhetorika
Dari segi kepentingannya atau tujuan yang ingin dicapai, rhetorika dapat dibagi dalam dua bahagian, yaitu :
1. Rhetorika Persuasif
Rhetorika persuasif adalah rhetorika yang bertujuan mempengaruhi orang dengan tidak begitu memperhatikan/mempertimbangkan nilai-nilai kebenaran dan moralitas. Rhetorika yang seperti ini dapat kita jumpai dimana-mana, contohnya adalah rhetorika yang digunakan oleh sebagian besar penjual obat kaki lima dalam menawarkan dagangannya, dll.
2. Rhetorika Dialektika
Rhetorika dialektika yang sering juga disebut dengan rhetorika psikologi, adalah rhetorika yang muncul sebagai kebalikan dari rhetorika persuasif, dimana rhetorika ini sangat memperhatikan nilai-nilai kebenaran, kebajikan, moralitas dan sifatnya dapat menenangkan jiwa manusia. Tujuan utama rhetorika ini mengarah kepada pembinaan spiritual. Rhetorika yang seperti ini umumnya digunakan didalam ceramah-ceramah agama.

Tujuan Rhetorika
Tujuan rhetorika adalah berusaha untuk membentuk opini publik atau menggiring pendapat umum ke arah pendapat pembicara, atau minimal pendengar (audience) tidak membantah terhadap apa yang dikemukakan oleh si pembicara (komunikator).

Langgam-Langgam Dalam Rhetorika
Dalam rhetorika langgam diartikan sebagai cara, ragam, atau gaya suatu bahasa (pembicaraan). Langgam-langgam rhetorika dapat dibagi atas :
1. Langgam Agitasi
Langgam agitasi adalah langgam yang kebanyakan dipakai dalam rhetorika persuasif. Langgam ini biasanya digunakan untuk membakar semangat, misalnya oleh demonstran.
2. Langgam Teater
Langgam teater adalah langgam yang digunakan oleh para pemain teater dalam berdialog.
3. Langgam Agama
Langgam agama adalah langam yang biasa digunakan oleh para muballigh atau para pendeta dalam penyampaian ceramahnya.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Rhetorika
Keberhasilan suatu rhetorika didalam berbicara sangat ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Situasi
Situasi yang dimaksudkan adalah hal-hal yang menyangkut keadaan atau kondisi saat pembicaraan/ceramah sedang berlangsung. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
a. Tingkat pengetahuan pendengar. Yaitu menyangkut latar belakang level pengetahuan dari pendengar (audience).
b. Formal atau informal. Hal ini menyangkut apakah kita berbicara dalam suatu situasi yang formal (forum resmi) atau dalam situasi biasa atau kekeluargaan (informal)
c. Sedih atau gembira. Berbicara di depan orang yang berada dalam situasi sedih tentunya sangat berbeda dibandingkan dengan ketika kita tampil berbicara di depan orang yang sedang dalam keadaan gembira. Untuk itu seorang pembicara harus mengetahui betul situasi dan kondisi pendengarnya.
2. Ruang
Hal ini adalah tentang tempat dimana kita sedang berbicara, misalnya di dalam ruangan gedung ataukah di lapangan.
3. Waktu
Yang dimaksudkan dengan waktu disini adalah, disamping waktu yang sebenarnya yaitu apakah pagi, siang, sore atau malam, juga tentang isi materi yang akan dibicarakan, apakah hal tersebut masih aktual ataukah sudah usang atau basi.
4. Tema
Sebuah tema sangat penting artinya dalam suatu pembicaraan, sehingga didalam pembicaraan seorang pembicara ia dapat fokus atau terarah. Sangat disarankan seorang pembicara hanya menggunakan satu tema pembicaraan sehing didalam pembicaraannya ia tidak ngawur atau mengambang yang dapat mengakibatkan isi pembicaraan susah dipahami oleh pendengar. Namun jika terpaksa harus lebih dari satu, maka selesaikanlah satu tema pembicaraan kemudian pindah ke tema yang lainnya.
5. Isi atau Materi
Isi pembicaraan hendaknya sesuai dengan tema yang telah dipersiapkan dengan mantap sebelumnya dan menarik minat pendengar. Daya tarik suatu materi juga akan sangat menentukan keberhasilan suatu pembicaraan. Adapun yang dapat menjadi pemicu rasa ketertarikan pendengar diantaranya adalah :
 Up to date, masalah yang dibicarakan adalah masalah yang sedang hangat-hangatnya di dalam masyarakat.
 Merupakan suatu yang menyangkut kepentingan pendengar.
 Masalah yang mengandung pertentangan publik, benar-salah, baik-buruk.
 Sesuai dengan kemampuan logika pendengar, dll.
6. Teknik Penyajian
Teknik yang dimaksudkan disini adalah cara-cara yang digunakan didalam berbicara, meliputi :
a. Kemampuan menggunakan bahasa lisan dengan baik. Dalam hal ini seorang pembicara hendaknya memiliki kemampuan tata bahasa yang baik, artikulasi yang jelas dan tidak cadel, intonasi yang menarik (tidak monoton), aksen yang tepat, dan tidak terlalu banyak menggunakan istilah yang tidak perlu.
b. Ekspresi (air muka) yang menarik, misalnya: tidak cemberut, tidak pucat, tidak merah, dan sebagainya. Ekspresi dalam berbicara sangat penting untuk memikat minat dengar atau rasa ingin tahu dari pendengar.
c. Stressing (redance), yaitu kemampuan seorang pembicara untuk memberikan penekanan pada masalah-masalah inti atau penting didalam pembicaraannya, misalnya dengan pengulangan-pengulangan yang seperlunya, atau dengan penekanan-penekanan tertentu dalam nada pembicaraan.
d. Kemampuan memberikan refreshing (penyegaran) dengan menyelipkan intermezzo, yaitu dengan menyelingi pembicaraan dengan hal-hal lain yang berhubungan yang mengandung kelucuan, baik itu pengalaman sendiri atau sebuah anekdot, dengan tidak mengurangi nilai pembicaraan. Hal ini dimaksudkan agar pendengar tidak terlalu stress yang bisa menimbulkan kejenuhan atau kebosanan dalam mengikuti pembicaraan kita.
e. Kepribadian atau personality. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah disamping daya pesona atau kharismatik seseorang, juga meliputi nilai-nilai pribadi seorang pembicara, diantaranya: jujur, cerdik, berani, bijaksana, berpandangan baik, percaya diri, tegas, tahu diri, tenang dan tenggang rasa.
Maka jangan menjadi pesimis, tetaplah berusaha melatih diri kita supaya memiliki jenis keterampilan tersebut. Walaupun banyak sisi kelemahan yang saya alami (over akitng). Semua dapat dirubah dengan usaha dan proses yang berkelanutan. Selamat berlatih.

Semarang, 19/12/09
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: