Rabu, 02 Desember 2009

Bait-Bait Kesucian


(Part 7)
Nurul hanyalah seorang mahasiswi yang ingin belajar tentang hidup. Perasaan suka sama seorang pemuda dapat ia pendam. Akan tetapi, hati siapa yang kiranya sanggup menerima cinta yang dipenuhi rasa bahagia. Sinar sang rembulan mulai memasuki ruang-ruang yang dipenuhi dengan kesegaran ragawi. Terlihat Nurul hari ini tampak bahagia, matanya selalu menempakan sinar yang penuh dengan kelembutan. Raut wajahnya menandakan seribu satu tanda tanya. Kemana hendak dilabuhkan, hanya di dermaga yang terindah tentunya.
Nampak teman Nurul juga berada diruang kontrakan Anisa, Intan dan Lutfi. Wajah-wajah mereka sangat ceria, Intan dan Lutfi terlihat sedang menyeduh teh hangat dan menikmati tontonan sinetron. Sedangkan Anisa masih sibuk dengan Nurul dengan buku-bukunya. Sehabis asyik dengan buku, Anisa mendekati Intan dan lutifi mengosip Nurul.
“Tau ngak sahabat karip kita sekarang lagi dekat dengan cowok lho. Lumayan cakep sih cuman agak kumuh gitu”, kata Anisa
“Ehemmmmm bener nih, Lutfi menyahut sekaligus sedikit melirik ke arah Nurul. Apa ngak salah denger nih.
“Emang bener katamu Nis”, Intan ikut berpartisipasi yang juga ingin meramaikan gosip terbaru.
“Ya..iayalah, masyak aku bohong. Aku aja barusan ketemu sama pemuda itu. Sepertinya cocok banget deh untuk Nurul. Apa lagi pemuda itu sangat pandai, tutur katanya yang lembut serasa bila kau-kau ini mendengarnya akan bertekuk lutut dihadapannya”.
“Ehemmm..ehemmm, syukuran-syukuran. Kan ada yang mau dapat pasangan nih”, kata ketiga pemudi tersebut.
Ketiga gadis tersebut seakan semakin melayang-layang mengosip dengan pembahasan cinta Nurul di bangku kuliah. Malam ini terasa malam yang berbeda seperti bisasanya, sebab kontrakannya ini biasa dipakai buat kajian rutin baik diskusi, muhasabah maupun ceramah. Mereka semakin penasaran dengan menungu respon Nurul, makanya ketika berbicara semakin nadanya mengeras. Ya...supaya suara itu terdengar oleh Nurul.
Karena merasa mendapatkan perilaku yang membuat kupingnya agak ngak enak. Tiba-tiba Nurul menghampiri ketiga temannya. Dengan membawa bantal guling, Nurul langsung terlentang, tertidur mendengarkan gosip mereka tentang dirinya.
“Ayo...ngegosip lagi, ntar tak dengerin dangan seksama dan sesingkat-singkatnya he he”, bilang Nurul kepada mereka.
Mereka hanya sedikit terdiam yang secara tiba-tiba melihat Nurul enak-enakan tidur dihadapan mereka. Nurul hanya bisa mengeleng-geleng saja dan tersenyum sendiri melihat tingkah mereka.
“Jujur ajalah Rul, gimana perasaanmu dengan Malik”, tanya Anisa
“Oh...namanya Malik”, sahut Lutifi dan Intan.
“Kan udah aku bilang bahwa Malik itu teman satu kelas dan dia berteman baik dengan aku”, jawan Nurul.
“Ada apa ! Kenapa sih kamu. Andai saja itu memang membuatmu bahagia kenapa engkau merahasiakan itu pada sahabatmu ini”, tutur kata Intan semakin membuat suasana terasa hangat.
“Ngak..ngak’, Nurul menjawab.
“Percaya ngak kalau cinta dapat datang dengan tiba-tiba, pepatah jawa mengatakan “tresno jalaran songko kulino”, seperti itu lho ha ha”, Lutfi sedikit ikut merasakan alur perbincangan.
“Ya...Rul, kalau kamu bahagia kita pun sebagai sahabatmu ikut merasakan bahagia”, kata Anisa.
“Udah aku bilang, berapa kali aku harus menjawab pertanyaan kalian. Kalau aku sama dia itu hanya teman kampus titik...!”, rasa jengkel sepertinya mulai muncul pada diri Nurul.
“Ya...udah kalau begitu”, jawab Lutfi
“Awas jangan marah lho he he”, ledek Intan
“Jika kamu disuruh milih antara Malik dengan Kak Andrian, gimana Rul”, Anisa mulai menyodorkan pertanyaan lagi.
Nurul hanya bisa diam dan menatap ketiga temanya. Kak Andrian merupakan idola bagi kaum hawa di Lembaga Dakwah Kampus. Orangnya baik, kulitnya yang putih, tubuhnya yang sangat ideal bagi seorang cowok. Tutur katanya yang lembut dan kepandaianya dalam masalah agama. Sedangkan Malik hanya teman bangku kuliah yang hanya dapat dilihat secara sepintas.
Berbeda dengan Kak Andiran yang sesama di tempat organisasi, jadi sering bertemu mungkin hampir tiap hari. Bahkan banyak kaum hawa akan senang jika diajak bicara dengannya, apa lagi jika diajak bercerita tentang ketarbiyahan. Pasti pandangan mereka akan terpana pada liuk tutur katanya.
“He..he jangan aneh-aneh gitu dong. Kalian bertiga pasti juga suka kan sama Kak Ardian”.
“Iya...sih, andai dia mau sama aku. Kan dia cowok cakep”, pekik Intan
“Betul kamu, aku setuju. Andai dia suka sama aku juga”, lanjut Lutfi
“Dasar kalian ini, kalau lihat cowok cakep pasti pikiranya sudah tidak rasional”, timpal Anisa agak mengerutkan dahinya.
“Benar kan kataku, kalau aku sih biasa aja. Santai aja Nis, kalau mau saingan ada dua sahabatmu dan kaum hawa yang lain”, tawa Nurul mulai nampak. Anisa hanya bisa diam dan sesekali menyubiti ketiga sahabatnya.
Bersama dengan hawa dingin yang merasukki kulit-kulit mereka, para kaum hawa tersebut itu berlalu. Nurul mulai menuju kamarnya, begitu juga sahabatnya yang lain. Selamat malam, semoga malam-malammu semakin indah dan ada rung rindu dai hatimu.
Nurul tidak mampu untuk memejamkan matanya. Bahkan memaksa matanya untuk terlelap akan tetapi mata itu tidak jua mengantuk. Karena tidak bisa tidur, Nurul kemudian menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Dalam hatinya berharap dengan dua rakat shalat malam ia dapat menikmati mimpi-mimpi indah.
Sebab setiap manusia tentu sangat menyukai dan merindukan keindahan. Banyak manusia terjebak pada keindahan yang menganggap keindahan adalah yang memiliki nilai dan berharga seperti layaknya karya seni. Tapi berbeda dengan Nurul yang mengharapkan keindahan dalan mengarungi kehidupan ini.
Dua rakaat sudah ia jalani ditambah dengan tiga rakaat shalat witir. Bahkan ia membaca satu juz ayat-ayat al-Qur’an dan berdoa semoga diberi kemudahan dalam menjali lika-liku kuliahnya. Sebab godaan tertingi di kampus yaitu hubungan antar jenis, apa lagi mahasiswa-mahasiswi sudah dewasa dalam berfikir.
Diri Nurul yang tertutup dengan kain lebar dan panjang layaknya gamis telah tertanam di dalam keluarganya. LDK adalah tempat para kaum hawa yang ingin belajar tentang Islam, tapi semakin lama lembaga ini seperti orang salafy. Inilah fitrah agama, sebab banyak orang memburu keindahan dan membelanjakan uangnya demi jasmani dan kemewahan.
Akan tetapi, itulah budaya pragmatis dan hedonis mahasiswa sekarang. Tidak jarang kita menyaksikan penampilan pakaian yang minim dan indah, bukanya mendapatkan pujian melainkan hinaan. Itulah kehidupan kampus yang terselimuti arus modernitas.
Nurul mulai berbaring diatas kasur, matanya sudah mulai ada tanda-tanda kantuk. Tapi hatinya masih teringat dengan kata-kata sahabatnya. Jika disuruh memilih cowok mana antara Kak Andrian dan Malik. Apa lagi keduanya bagi Nurul adalah anugerah, dijadikan teman untuknya. Memang benar, Kak Andrian merupakan idola bagi kaum hawa di Lembaga Dakwah Kampus.
Perasaan gusar melanda Nurul, tapi matanya sudah tidak tahan rasa kantuk. Semoga malam itu adalah malam yang indah, malam dengan satu mimpi yang mampu mengetarkan seisi batinya.
Tiba-tiba Anisa mendatangi kamar Nurul dan mengkagetkannya.
“Hayooo..lagi mikir apa, pasti lagi mikirin mereka berdua”, ledek Anisa
“Lom tidur ta Nis”, tanya Nurul
“Aku tidak bisa tidur temenin aku sebentar ya. Tadi aku juga lihat kamu dari balik pintu mengambil wudhu. Begitu juga aku ikut-ikutan kamu”.
“Tapi aku sudah nagantuk”
“Please, temenin aku ya”, pinta Anisa
“Ya...deh, cuman sebentar aja ya cos kita besok kan harus berangkat kuliah”.
Kedua insan tersebut pada akhirnya bercerita banyak tentang keluh-kesah dunia. Bahkan sampai membincangkan Malik dan Kak Andrian. Padahal hati Anisapun sebenarnya jatuh rindu kepada Kak Andrian. Tapi bagaimana mungkin kecantikan dan kepandaiannya tidak sehebat sahabatnya ini.
Nurul menyadari akan keluh Anisa, tapi sebagai sahabat sejati harus ada saling menerima. Tapi jangan bersaing soal cowok, biarlah angin yang menjawabnya. Terpenting bagi diri kita yaitu menjadi insan yang terbaik, jika jodoh tidak akan kemana.
Merekapun tersadar dan telelap satu kasur dikamar Nurul.
* * *
Kampus dengan rutinitas mahasiswa yang ingin belajar tentang ilmu pengetahuan sudah menjadi menu di mata Nurul. Banyak mahasiswa memakai mobil, montor, sepeda ontel dan banyak juga yang berjalan kaki dari kos-kosan, seperti Nurul yang kebetulan dekat dengan kampus. Hari ini banyak yang harus dilakukannya seperti ntar siang yang ada rapat redaksi, kebetulan juga dia kuliahnya hanya pagi aja. Jadi bisa memanfaatkan waktunya untuk berkunjung ke perpustakaan.
Perpustakaan yang sudah dibangun dengan megahnya dan dipenuhi rak-rak dengan isi buku-buku baru membuat hati Nurul ingin segera memegang dan kemudian membacanya. Ia berjalan dari rak ke rak lainnya banyak ditemuinya buku-buku yang masih tampak rapi, dalam hatinya berkat apa mahasiswa sekarang sudah males membaca buku ya. Buktinya buku-buku ini masih tampak bersih sekali, apa lagi kursi-kursi yang makin sepi. Hanya ada beberapa orang yang duduk dikursi sambil menikmati sentuhan rangkaina kata buku kesukaan.
Nurul terus mencari buku yang ingin ia baca. Ia temukan buku dengan judul “Kimia Kebahagiaan” karangan Imam Al-Ghazali. Tangganya merengkuhnya dan sesekali membolak-balikan lembar demi lembar sambil ia berjalan menuju persingahan kenyamanan. Ia duduk dan meletakan buku dan tangganya diatas meja. Nurul membacanya dengan rasa serius, apa itu kebahagian ya..bisik hatinya.
Setiap orang menginginkan hidup kebahagiaan, pa lagi dalam beragama ada satu doa yang pasti selalu terucap yaitu kata-kata “Berikan aku kebahagiaan dunia dan akhirat”. Apakah kebahagiaan itu ketika orang dengan harta melimpah, jabatan yang tinggi, istri yang cantik. Semua hanya realitas semu yang dilihat hanya aspek materialaistik atau hanya dengan kasat mata.
Sudah hampir setengah jam ia membaca. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Kini sudah banyak mahsiswa memnuhi ruang perpustakaan. Mungkin mereka banyak tugas jadinya ke perpus hanya untuk mengerjakan makalah atau pepernya. Biasanya tugasnya hanya copy paste dari internet maupun pergi ke rental mencari tugas yang sama, karena Dosen sudah banyak tahu jadinya tugasnya disuruh ke perpus dengan refrensi buku asli. Ah...napa aku jadi ngusursi mereka, mendingan lanjutin membacanya.
Kini ia mencapai pada pembahasan tentang keindahan. Keindahan dalam bahasa Al-Qur’an disebut dengan ”jamal” dan ”husn”, menurut Ibnu Al-Atsir keindahan terdapat pada rupa dan makna. Sedangkan peringkat keindahan menurut Al-Ghazali dibagi menjadi lima: (1) keindahan sensual dan duniawi’ (2) keindahan alam’ (3) keindahan akliyah, yaitu keindahan yang ditampilkan karya seni atau sastra yang dapat merangsang pikiran dan renungan; (4) keindahan rohaniah, berkaitan dengan akhlak dan adanya pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu dari seseorang atau karya sastra’ (5) keindahan ilahi.
Sadar ia rasakah, manusia akan mencapai kebahagiaan ketika ia mampu memhamai keindahan ini. Pada diri seorang perempuan diberikan keindahan, makanya harus menjaga keindahan itu. Pesona seorang wanuita bisa membuat seorang laki-laki tidak berdaya dan bertekuk lutut kepadanya. Makanya kata-kata, “surga ada di kaki ibu”, sesungguhnya seorang wanita diberikan sis-sisi kemulyaan, walaupun banyak kelemahan dari aspek ibadah. Tak heran sekaragn banyak gerakan feminisme, gender ataupun emansipasi yang memperjuangkan martabat, derajat dan harkat seorang wanita. Kini perempuan tidak lagi harus diremehkan.
“Assalamualikum”
“Waalaikum salam, silahkan duduk Lik”, pinta Nurul
“Maaf, menggangu kenyamanan membacamu”. Dari tadi Malik sudah memperhatikan Nurul melihat keseriusannya dalam membaca tanpa sedikitpun melirik atau bahkan memandang, sesekali matanya hanya melihat sekejab.
“Ah, nagak kok malahan seneng cos ada yang menemanin hehe”. Kok nagak baca buku...?
“Lagi males, ingin aja duduk-duduk diperpus kan lumayan ber-Ac, dari pada diluar hawanya panas. Pa lagi tadi aku ma Rizal habis dari kantin jadi instirahat di sini boleh dong”. Lagi baca buku apa..?
“Dasar kamu ini, emangnya rumahmu dibuat istirahat. Ni cuman membaca buku karangan Al-Ghazali”.
“Oh...ya dah dilanjutin bacanya. Aku tak sambil leyeh-leyeh. Ntar kalo dah seesai aku dibangunin and diceritain kesimpulan isi bukunya he he”.
Nurul melanjutkan membaca bukunya. Waktu sudah hampir siang, terdengar suara adzan. Tapi dia belum sempat menyelesaikan membaca bukunya. Dia menuju ke Rak untuk meliaht-lihat buku, barang kali ada buku yang cocok untuk di pinjam kan nangung jika hanya meminjam satu buku. Ia terus mencari dan pada akhirnya menemukan buku karangan Syeh Muhammad Abduh dengan judul Risalah Tauhid.
Ia terburu-buru meminjam buku dan langsung menuju ke Majid kampus. Apa lagi ntar habis Dzuhur ada rapat redaksi. Suasana air kehidupan memberikan segar dan keharuman pada dirinya.
Tampak sekretariat LDK sudah ada sebagian orang. Di situ juga ada Anisa dan Kak Andrian yang sepertinya lagi asyik ngobrol.
“Asslamualaikum”
“Waalaikum salam, Gimana Rul persiapan rapat redaksinya”, kata Kak Rizal
“Alhamdulillah, sudah aku persiapakan”
“Tadi habis dari perpustakaan ya..?”, tanya Anisa
“Iya benar katamu Nis, Subhanallah. Tak tinggal dulu sebentar ada yang lupa nih”.
“Emang da pa”, kata Kak Andrian.
Tapi Nurul keburu lari terbirit-birit. Rupanya dia baru sadar kalo dapat amanah bahwa dirinya harus membangunkan Malik yang masih tertinggal istirahat di ruang perpustakaan. Ia menuju ruang perpus dengan terburu-buru. Tiba-tiba Nurul terpleset hendak menuju lantai dua gedung perpus, kakinya mmengucurkan darah merah.
Tanpa disengaja pula Malik sudah bangun dan melihat Nurul terjatuh. Kemudian ia bergegas menghampirinya. Nurul tidak bisa berdiri kakinya terus saja mengeluarkan darah.
“Maaf Lik, aku tadi lupa membangunkanmu. Sembari merasakan sakit Nurul mengucapkan kata-kata maaf.
“Ngak pa..pa.., gimana apa harus aku bantu. Maaf ya...!”.
Langsung saja Malik membangunkan dan mengandengnya menuju ruang polik klinik untuk perawatan kakinya. Tapi tubuh Nurul terus saja bergeliyat dan ingin saja melepas gandengan tangan Malik. Karena saking kuat tanganya Malik, Nurul tak mampu melepasnya. Getar jiwa Nurul mulai membara, walau sebenarnya hatinya berkata lain, “saya bukan muhrimnya”.
Nurul mendapatkan perawatan dari salah satu dokter. Kakinya mulai dibungkus perban. Malik menunggu diruangan itu dan melihat rasa sakitnya. Di pandaginya terus wajah Nurul yang tampak merah pucat. Sesekali Nurul memandang wajah Malik. Sebenarnya engkau tampan dan baik Malik, kata perih sakitnya.
Oh...aku harus segera ke sekretariat, aku masih banyak tugas disana”
“Kamu harus istirahat dulu sebentar”, kata dokter tersebut sembari mengambilkan multi vitamin.
“Ya..istirahat dulu aja atau aku tak ke sekretariat LDK dan memberitahukan ke temen-temen bahwa kamu tidak bisa mengikuti”, pinta Malik
“Tidak bisa, aku harus kesana”. Dokter itupun keluar sesudah memberikan multi vitamin dan ia berkata, “Di jaga temennya ya, aku tak keluar dulu”.
“Ya..Bu, ma kasih”, jawab Malik kepada Bu dokter yang kelihatan masih muda dan cantik.
“Aku harus pergi dari sini”.
Tanpa sepengetahuan Malik. Nurul langsung saja nyelonong pergi dan terlihat masih terseok-seok dalam berjalan. Malik rupanya tahu dan langsung saja ia menggandenganya.
“Lepaskan aku”
“Ngak, kamu harus istirahat kalau kamu mau ke sekret ya saya antar. Kamu terluka kan juga gara-gara aku”.
Tanpa merasa kaku Malik terus mengandengnya. Hampir kurang beberapa meter Nurul sudah hampir sampai. Detak jantungnya terus mendayu-dayu, getar apa ini gerangan. Maafkan aku ya Allah, aku tidak mampu menahan rasa ini.
Malik kemudian melepasnya dan berkata kepadanya untuk hati-hati. Ia tahu kalau di lihat teman-temanya pasti Nurul akan dimarahi karena ia bukan muhrimnya. Lirikan mata Nurul ada seribu tanda tanya. Ucapan terima kasih menghempas gelombang terik mentari. Malik hanya bisa memandangnya sampai Nurul sampai ke tempat tujuan.
Terlihat sudah banyak orang memenuhi sekretariat LDK. Nurul tak mampu berkata, ia merasa bersalah yang seharusnya datang duluan malahan datang belakangan alias terlambat. Dengan menahan rasa sakit, ia tetap tegap dan tegar seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“Assalamualaikum, maafkan aku temen-temen datang terlambat”, wajah nurul semakin pucat dan menahan rasa sakit.
“Apa-apaan kamu ni Rul, datang kok telambat. Apa kamu sudah tidak menghargai rapat redaksi. Jika kamu sudah tidak sanggup untuk bertanggung jawab, bubarkan saja rapat kali ini”. Salah satu temen laki-laki mengomeli Nurul
“Maaf, tadi ada sedikit keperluan”.
“Alah, alesan saja”.
“Sudah-sudah”, kata Kak Andrian.
Sekarang kita lanjutkan rapat redaksinya. Saya persilahkan Nurul untuk memberikan wejangan dan memimpin rapat pada kali ini. Wajah seakan memebrikan isyarat ketidak mampuan memimpin rapat. Seisi ruangan dan tulisan-tulisan kaligrafi yang terpajang sekan-akan menandakan kemarahan kepadanya.
Kata demi kata ia tuturkan dengan kelembutan. Tinggal ada beberapa kekurangan tulisan diantaranya rubrik puisi dan artikel ilmiah. Ada yang ingin memberikan komenternya. Sebab tinggal dua hari buletin ini harus segera naik ke percetakan dan untuk segera diterbitkan.
“Ya, saya..! kata laki-laki yang emosi kepada Nurul. Kamu harus bertanggung jawab atas kekurangan rubrik tersebut.
“Kan sudah ada penanggung jawabnya sendiri”, komentar Anisa tiba-tiba.
“Ini sebagai hukuman atas keterlambatnya. Apa lagi yang bertanggung jawab untuk rubrik tersebut orangnya lagi sakit. Jadi saya sarankan untuk sesegera mungkin menyelesaikannya.
“Kamu ini, kita sebagai teman juga harus bantu-membantu dong”, Anisa semakin panas ja.
“Ya...ya...tenang-tenang. Kita semua bertanggung jawab atas semua ini. Maka dari itu tetap semangat dalam menjalankan tanggung jawab ini. Sekarang sudah saatnya kita susahi rapat kali ini. Apa lagi sebentar lagi adzan sore. Kak Andrian mulai memberikan comenya.
“Ya..saya akan bertanggung jawab di sini apa lagi saya diamanahi sebagai pimpinan redaksi. Karena waktu sudah sore marilah kita akhiri rapat kali ini dengan bacaan Hamdalah bersama-sama. Wassalamualaikum Wr. Wb, Nurul menutup rapat redaksi kali walau rasa sakit ia sembunyikan.
Semua temen-temen Nurul berlalu pergi ada yang menuju ruang kuliah, ada yang ke kantin dan ada pula yang langsung pulang ke kosnya. Ada bebrapa temenya masih berada di ruangan temasuk Anisa, Intan, Lutfi dan Kak Andrian. Nurul tampak kebingunggan ada dua rubrik yang harus ia selesaikan. Harus minta kepada siapa, aku harus tenang, pekiknya.
Kak Andrian merasakan ada yang aneh pada diri Nurul. Namun ia tidak berani mengatakn perkataan itu. Ia tidak ingin melihat Nurul tambah berat atas tanggung jawabnya. Tapi haruskan aku hanya diam diri, sedangkan aku tahu sendiri apa yang talah dikerjakan Nurul di perpus. Rasa suudzon menghampiri Kak Andrian, begitu juga Anisa dan sahabat dekatnya.
“Rul, aku hanya ingin memperingatkan. Kalau bisa dijaga dirimu itu. Aku tahu apa yang kamu lakukan di perpus hingga sampai terlambat datang rapat redaksi. Ingat aku tetap percaya pada dirimu, tapi...!
“Tapi kenapa Kak, maaf bukannya begitu. Tadi aku terpleset jadi kakiku berdarah dan harus dirawat di polik klinik”, Nurul seperti di sudutkan dengan kenyataan
“Ya...itu, ingat semua hal itu mungkin dan segera selesaikan tanggung jawabmu”. Kak Andrian berlalu pergi begitu aja.
“Ya...Kak”, tiba-tiba Nurul meneteskan air mata dan sesegera ia mengusapnya dengan sapu tangan. Takut kalau para sahabatnya tahu. Ia beranjak berdiri dari kursi. Bruuuuukkk....tubuh Nurul jatuh kelantai. Rupanya ia tidak mampu untuk berdiri. Sontak suara itu mengkagetkan seisi ruangan. Sahabatnya langsung menghampirinya.
“Da pa Rul, kok sepertinya ada bekas tetesan air mata juga diwajahmu”, Lutfi sembari menggangakat tubuh Nurul dan Intan mendekatkan kursi untuk bisa dibuat duduk.
Nurul memperlihatkan luka di kakinya. Ia berani membukanya yang kebetulan juga tidak ada para laki-laki. Para sahabatnya kaget. Langsung saja membawanya pulang ke kos, biar Nurul istirahat dulu. Tapi ia tidak ingin pulang dulu sebab masih ada yang harus ia kerjakan. Tapi Lutfi begitu aja menggandeng sebelah kiri dan sebelah kananya Intan. Nampak sebuah kendaran sudah ditumpangi Anisa buat mengantarnya, yang kebetulan juga ia keluar pinjam kendaran temenya.
Anisa dan Nurul meluncur pergi. Matanya menagkap suatu tatapan yang indah. Ya...ternyata Malik sedang duduk-duduk ditaman dengan menikmati hot spot. Mata Malik juga memandang Nurul dalam hatinya berkata, “hati-hati”. Isyarat itu terdengar di ruang hati Nurul. Ma kasih Malik, katanya. Malik hanya bisa menatap dari kejauhan dan tak mampu untuk memangil namanya, laju kendaraan yang cepat hanya bisa menagkap isyarat angin pesan salam darinya.
* * *
Pascal pernah mengutarakan kata-kata bijak, “pikiran positif dari kepercayaan, pikiran negatif datang dari keraguan-raguan; rasa takut yang benar adalah rasa takut yang digabungkan dengan harapan, karena lahir dari kepercayaan, serta berharap pada Tuhan yang kita yakini; sementara rasa takut yang salah digabungkan dengan keputusasaan, karena takut pada Tuhan; beberapa orang takut kehilangan-Nya, sementara yang lain takut mencari-Nya.
Nurul hanya bisa terbaring lemas diatas kasur kamarnya. Lukisan bergambar pegunugan dengan pemandangan air terjun seakan menyejukan suasana di kedamaian kamarnya. Ia yakin atas kemampuannya dan tidak perlu ragu-ragu, aku harus percaya dengan kemampuanku, katanya.
Harga dirinya seharusnya menjadikannya semakin kuat. Dengan datangnya masalah, aku akan menjadi lebih dewasa. Sebab aku harus berfikir untuk menyelesaikannya. Sebuah anugerah terindah jika Allah selalu memberikan masalah kepadanya.
Orang yang takut dengan masalah aakan banyak di pengaruhi pikiran-pikiran negatif dan akan menghalangi untuk sebuah kesuksesa besar. Maka aku harus berfikir bagaimana caranya aku bisa sukses, tanpa harus berfikir tentang kegagalan. Nurul seakan memberatkan otaknya untuk berfikir tentang tanggung jawabnya. Belum lagi soal perkataan Kak Andrian yang belum ia mengerti. Di tambah dengan hatinya yang selalu bergetar memikirkan Malik, dia selalu hadir dalam berfikirnya kali ini.
“Apa yang harus aku perbuat, waktu tingal dua hari sedangkan aku hanya bisa terkapar. Belum lagi soal Kak Andrian dan Malik”, suara itu muncul dari balik sanubarinya yang terus bergejolak. Tanggung jawab yang harus aku selesaikan dulu...!
Ia raih Hpnya yang tergeletak dimeja dan ia seduh teh hangat yang dibuatkan Anisa. Mulutnya mulai basah dengan kehangatan. Jari-jemarinya mulai menekan huruf demi huruf. Satu rangkain kalimat telah selesai ia tulisakan. Kemudian ia kirim rangkaina tulisan itu kepada teman-temannya termasuk rizal. Tapi Malik tidak ia kirimi
Tulisan itu hanya permohonan bantuan untuk melengkapi kekuarangan buletinya. Balasan sms dari temen-temenya ia tunggu dengan harap-harap cemas. Satu demi satu denting suara hp terus berbunyi. Kebanyakan isinya selalu bertulisakn, “Insayallah”.
Albert Einstein pernah mengatakan, “Jika saya memberi anda satu sen, maka nada akan menjadi lebih kaya dan saya akan lebih miskin satu sen. Tapi jika saya memberikan anda satu ide, anda akan mempunyai ide baru, tapi juga saya masih memilikinya. Itulah kata-kata yang membangkitkan rasa penasaranya. Tidak ada pilihan lain selain memberikan ide kepada orang lain dengan imbalan. Tapi apakah mungkin sedangkan aku saja masih terkapar. Bunyi dering Hp seakan mengkagetkannya. Ternyata call dari Rizal.
“Assalamualikum’, kata Rizal
”Waalaikum salam”, jawab Nurul
“Maaf Rul, saya tidak bisa membantu untuk hal tersebut. Tapi aku sudah memberitahukan kepada Malik. Kenapa kamu ngak sms Malik..?”.
“Terima kasih sudah merepotkanmu. Aku ngak enak aja ma Malik”.
“He he hayooo...! Santai aja Rul sepertinya tadi pas aku call dia uudah respon kok. Aku percaya pasti besok Malik bakalan memberimu kejutan”.
“Ah..kamu ni Zal, malahan aku yang tambah ngak enak dong.
“Sanati aja Rul, sekarang istirahat dulu. Met malam and semoga mimpi indah. Udah dulu ya..salamualaikum”, Rizal mengakhiri perbincanganya.
“Waalaikum salam Wr Wb”.
Kini gundah pikirannya semakin menjadi-jadi. Bayang-bayang wajah Malik kian selalu hadir seketika kedipan mata. Rambut panjang seakan menjadi indah bermahkotakan senyum Malik. Merah pipinya seperti dibelai halus lembut tangannya. Kupingnya selalu mendengar kata-kata yang serba aneh dari mulut temannya yang paling nyeleneh. Maafkan dan ampuni aku ya...Allah,. kenapa ia tiba-tiba hadir dalam pikiranku. Sunggu aku inginkan nilai diriku mulia di hadapan-Mu.
Kelemahan hatiku ini akankah menjadi hambatan bagiku untuk mencapai prestasi dan cita-citaku, sampai kepada tujuan yang semestinya aku perjungakan dengan segala kemampuanku. Sungguh bahagia orang-orang diberikan “cinta” yang dapat membuat jiwanya tangguh sebab cinta adalah anugerah dan berkah. Ataukan akan jadi malapetaka..! Sungguh naif hatiku ini..Malik..oh Malik..kenapa kamu membayangiku terus. Aku telah merasakan detak jantungmu dan belaian indah tanganmu.
“Ya...Allah dengan segala kemahaan, aku tidak berdaya lagi, aku hanya bisa memohon semoga ini bukan cinta”.
Ada perasaan yang amat sangat aneh pada dirinya, perasaan yang dianggap hanya datang sesaat. Perasaan itu pasti akan luntur seiring perjalanan wakti. Perasaan itu akan lenyap seiring datangnya mentari dipagi hari. Tapi, jiwa itu apakah sejalan dengan harapannya. Sulit rasanya menghindar dari perasaan cinta. Cinta datang secara tiba-tiba dengan perasaan yang berbeda-beda.
Nurul hanya benar-benar merasa telah hanyut dalam lamunan yang semestinya tidak perlu dihadirkan. Melihat paras Malik yang tidak begitu menarik bila dibandingkan dengan Kak Andrian. Berkali-kali sahabat Nurul selalu supaya dia dapat dekat dengan Kak Andrian, tapi banyak juga wanita-wanita laen menyukainya bahkan sahabatnya sendiri si Anisa.
Baru kali ini Nurul merasakan hal ini, yang sepantasnya ngak perlu di umbar tapi jika melihat umur sepatutnya juga ia memikirkan dirinya. Ini namanya melawan budaya dan agama, aku bukanlah sorang gadis kota yang seenaknya saja mengatakan cinta atau bergaul bebas dengan seorang laki-laki. Tapi aku baru kali ini merasa dekat dengan seorang pria bahkan baru kali ini diriku tersentuh tangan seorang pria yang dapat mengetarkan jiwanya.
Ah...itu hanya perasaan sekejab...titik....!
Derinng dan getar hp sekan mendayu-dayu diraihnya dan dibukanya. Ternyata sms dari Kak Rizal
Ass. Rul, maafkan aku ya telah lancang brkt yg tak pants aq ucapkn td siang. Cos q lg ngak terkndli, q mrasa brsalah maafkan aq ya. Q tahu kamu dkt ma Malik, tapi....?
Itu kalimat sms yang ia terima dibacanya dengan teliti, rupanya dia melihat semua tentang kedekatanya dengan Malik. Bahkan ada sedikit kejangalan dalam sms itu sebuah tanda tanya. Nurul bingung mau berkata apa. Sejenak ia berpikir, mencarai alternatif untuk menjawab smsnya. Ada apa sebenarnya. Iapun akhirnya menuliskan pesan balasan
Wss. Ya..sama2. Q jg minta maaf krna Malik tmen satu kelas yg akrap dgnq. Maksd sms Kak Andrian apa kok masih ada tanda tanyanya.
Sejenak Nurul harap-harap cemas menungu jawaban sms. Pkirannya semakin menjadi-jadi. Bakan dirinya merasa takut. Memang sih kita tidak pantas terlalu dekat dengan seorang cowok yang bukan muhrimnya. Apa lagi kita juga aktivis LDK yang harus meatuhi rambu-rambu agama dan peraturan organisasi. Sms yang ditunggu datang, langsung ia baca.
Ternyata isinya juga seperti apa yang dipikirkan. Nurul diberi peringatan, kalau dia sampai ketahuan lagi dekat bahkan sampai jatuh cinta muhrimnya ia akan di pecat dari organisasi LDK.
Apa ada yang salah jika aku jatuh cinta. Cinta itukan fitrah. Mengapa harus diatur-atur segala. Apakah aku harus jadi cewek yang pendiam dan hanya terpaku kepada teks-teks yang ujungnya dijodohin atau dilamar. Tanpa harus tahu gimana laki-laki terebut.
Ah.....dasaaaar..cinta itu aneh. Biarkan saja mengalir...!
* * *
Previous Post
Next Post
Related Posts

1 komentar:

  1. assalamualaikum akh... mau ngundang ente dalam acara tasyakuran menyambut muharram di blog saya di http://dhila13.wordpress.com/2009/12/17/tasbih-bukan-kontes-biasa-sticky/

    trimss... wassalam

    BalasHapus