Sabtu, 26 September 2009

Menuntut Hak Kepada Fitri


Manusia telah sampai kepada suatu kesempatan yang begitu menatang yakni perjalanan satu bulan menjalankan ibadah puasa. Ibadah puasa merupakan rangkaian kewajiban seorang hamba kepada Tuhanya yang bayak mengajarkan kearifan, pada bulan tersebut manusia disuruh berbuat tentang kebaikan, keindahan dan kebenaran. Seperti tatanan nilai bahwa manusia merupakan mahluk ideal, namun derajat keimanan yang selalu naik turun.

Sangat ironi sekali jika di bulan yang penuh berkah seorang manusia lupa pada pendidikan yang begitu agung, setidaknya ada tiga hal yakni pertama, menahan lapar, dahaga dan nafsu dimana manusia supaya sadar tentang eksistensi diri dalam artian bahwa manusia memiliki idealitas fisik yang perlu diberi stimulus supaya memiliki kekuatan lebih. Kedua, tarawih dan tadarus artinya bahwa manusia memiliki sifat keilahiyahan yang menunjukan kedekatan dengan Sang Khalik dan dapat untuk memahami dan membawa bekal atau pedoman hidup berupa kalam suci. Ketiga, amal shaleh bahwa manusia diikat hubungan timbal bailk antara manusia dan alam lingkunganya untuk selalu bersikap ramah dengan mahluk lainnya.

Sedangkan rangkain pendidikan tersebut akan berjalan seimbang jika dapat menjalankan dengan penuh keihlasan, kesabaran dan rasa syukur. Sebab setelah menjalani puasa ramadhan manusia dihadapkan bentuk ekspresi hari raya idul fitri, pertama, mudik lebaran jadi bukan sekdar ritual tahunan namun bentuk ekspresi yang mengisyarakan hubungan silatuhrahmi atau hubungan kekeluargaan. Kedua, zakat dan shalat ‘id bahwa hal tersebut merupakan kewajiban seorang hamba untuk lebih santun dan kibaran bendera kemenangan.
Jadi disini pada intinya manusia dihadapkan pada suatu tantangan untuk membangun pribadi dan peradaban. Setiap manusia terlahir dalam keadaan fitrah, pada bulan yang mulia ini seseorang yang benar-benar menjalankannya dengan penuh keyakinan maka ia akan terlahir kembali sesuai dengan fitrahnya yakni cahaya kesucian pada jiwa dan tubuhnya. Karena pada hari itu Allah memberikan ampunan, rahmat, kasih dan sayangnya.


Maka dapat ditarik pemahaman tantangan tersebut yaitu membangun pribadi bahwa manusia adalah memiliki peran yang tidak dimiliki peran mahluk lainya. Pada pembelajaran itu manusia di didik dengan berbagai hal seharusnya pribadi itu menjadi pribadi yang khafah. Pribadi seorang yakni menjalankan kewajiban bagi seorang hamba untuk selalu tunduk dan mengkoreksi diri menjadi insan yang berzikikir dan berfikir. Kualitas menjalankan kewajiban akan memberntuk mentalitas seoranng pemimpin yang memiliki jiwa pemberani, memahami kitab suci dan menghargai mahluk lainnya. Maka pribadi tersebut dapat menuntut hak berupa perayaan kemenangan.


Akan tetapi menjadi sirna jika pendidikan tersebut dilupakan, mereka hanya menjalankan ritual tanpa memahami makna sebenarnya. Sungguh malang nasib pribadi semacam itu, ia tidak akan mendapatkan apa-apa hanya ritual yang menjadikan dirinya menjadi manusia yang penurut, pemalas dan kurang percaya diri. Namun jika manusia bernar-bnenar menjalankan kewajiban tersebut sunguh mulyanya dia.


Hal ini terkait dengan hukum timbal balik kehidupan yang telah digariskan yakni “menjalankan kewajiban dan menuntut hak”. Jika ada seorang pekerja ia menjalani kewajibanya sebagai karyawan maka ia akan mendapatkan haknya berupa gaji. Namun jika dia menjalankan tugasnya dengan baik dan professional maka biasa saja ia mendapatkan hak yang lebih dari kenaikan gaji dan bahkan pangkat. Di sinilah ukuran kualitas seorang hamba, bagaimana ia telah menjalankan kewajiban ibadahnya, dia melakukanya dengan professional atau hanya sekedar bekerja.


Pribadi ideal bukan hanya meminta hak, terkadang di masyarakat kita banyak menemui berbagai macam tuntutan kehidupan dari pemukiman, jalan, gaji, pendidikan, kesehatan dan berbagai persoalah kehidupan. Pertanyaan yang muncul seberapa jauh kita menjalankan kewajiban sebagai masyarakat yang memiliki tuntutan tersebut, sebab kewajiban disini adalah rasa perjuangan. Seberapa besar peran dan usaha yang kita lakukan untuk mewujudkan peradaban yang di ridhoi Allah. Sedangkan masih banyak dari diri kita menjadi pribadi yang pemalas, peminta dan penakut. Sungguh malang negeri ini jika mentalitas kewajiaban belum tertanam di benak hati yang berfikitr, namun hanya tertanam kewajiban untuk saling menindas maka akan sirna peradaban yang di harapkan.


Maka dari itu marilah mengkoreksi kewajiban kita sebagai seorang abdillah dan khalifah. Setelah kita tahu seberapa besar ukuran kualitas dalam menjalankan kewajiban itu, barulah kita menuntut hak sebagai seorang hamba untuk menjadikan dunia yang lebih beradab dengan nilai-nilai Islam.
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: