Kamis, 11 Juni 2009

Spirit Koalisi Kebagsaan Urak-Urakan

Indonesia saat ini sudah memasuki fase ketiga pemilihan umum secara langsung oleh rakyat. Semenjak pemilihan calon legislatif (caleg), yang banyak meningalkan pelajaran yang berharga dari berbagai kasus kecurangan, kini pemilihan presiden menjadi hal yang menentukan bagi bangsa ini. Hal ini terkait dengan tuntutan perbaikan sistem pemerintahan yang berlandaskan good governance dan clean governance.
Tuntutan perbaikan sisten tersebut menghadapi tantangan berat dalam masa transisi ke arah pemeritah yang lebih demokratis. Membentuk sistem perwakilan yang dapat mewakili kepentingan rakyat. Sebab dinamika politik Indonesia menjelang pemilihan presidsen, diwarnai dengan penglompokan partai dalam koalisi. Partai Demokrat yang memenangi pemilihan legislatif mengandeng partai Islam, terbentuklah kolaisi kebangsaan yang (Nasional-Islam). Koalisi kebangsaan ini dalam jangka pendek bertujuan memenangkan calon presiden dan wakilnya (SBY dan Budiono).

Sementara itu PDIP dan Gerindra (Nasionalis-Baru), koalisi kebangsaan ini terbentuk merupakan awal tewujudnya konsesus nasional dengan harapan memenagkan Megawati dan Prabowo dalam pemilihan presiden. Sedangkan Golkar dengan Hanura (Kekaryaan-Nasionalis), menempatkan Jusuf Kalla dan Wiranto sebagai presiden menempatkan koalisi kebangsaan tersebut dengan jalan pembentukan strukturisasi nasionalis.


Terbentukny akoalisi kebangsaan partai tersebut merupakan hal yang lazin ditempuh dalam demokrasi.

Kemana partai Islam

Di sisi lain partai Islam telah mengandeng partai demokrat dan sebagian terjadi perpecahan menentukan arah kemana ingin melabuhkan. Sebab demokratisasi politik koalisi kebangsaan sekarang ini semakin memuncak dengan public opinion yang menempatkan partai Islam sebagai lahan suara. Hal ini dapat dilihat dengan tidak adanya calon wakil presiden apalagi calon presiden dari partai Islam. Partai Islam hanya menjadi pendampiing (team sukses) untuk memenangkan calon presiden yang diusung dalam koalisi kebangsaan.


“New world order” sebuah ungkapan yang mengisyaratkan adanya pemebntukan dunia baru pada ranah partai politik. Tapi ini hanya seputar politik koalisi kebangsaan untuk dapat menciptakan labelling theory, yang bisa direkayasa menjadi public opinion sedemikian hebat sehingga korban misinterpretasi menjadi hancur reputasinya dan tak mampu bertahan. Begitulah kiranya nasib partai Islam sekarang ini, tapi apakah koalisi kebangsaan tersebut dapat mengusung kepentingan rakyat khusunya partai Islam.


Pemenangan presiden itulah yang dinanti dalam pemilihan presiden nanti, pemilihan presiden dan wakilnya yang diusung merupakan bentuk ideal dari tindak lanjut koalisi. Hal yang terpenting yaitu terbentuknya demokratisasi yang ditopang eksekutif dan legislatif yang kuat dalam mensukseskan Indonesia pada kancah internasional. Ini hanyalah sebuah pelajaran dari koalisi kebangsaan, namun bagaimana kita dapat menjembatani perbedaan parta-partai politik baik Islam, Nasionalis dan Kekaryaan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih demokratis dan terjalin rasa persatuan dan kesatuan.
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: