Minggu, 15 Maret 2009

Di atas Panggung Deklamasi (Part 4)

“Assalamualaikum”, lantunan ucapan salam Ardi bergema di setiap sudut ruangan kamar. Tangan Ardi mengengam satu bungkusan plastik berwarna hitam.
“Do'a mereka di dalamnya ialah: "SubhanakAllahumma" dan salam penghormatan mereka ialah: "salam". Dan penutup doa mereka ialah: "Alhamdulilaahi Rabbil 'aalamin”. (Yusuf ayat 10)
Ucapan salam didalam agama Islam sangat dianjurkan atau diwajibkan bagi mereka sesama kaum muslim. Begitu juga ucapan salam terhadap hubungan dengan sesama. Namun dalam menjawab salam ada perbedaan, jika yang mengucapkan salam adalah mereka yang bukan dari orang muslim. Islam hanya menganjurkan untuk menjawab kalimat singkat “waalaika”. Sebab pada kalimat salam terdapat ucapan hubungan timbal balik berupa kalimat doa. Salam adalah doa semoga kita selalu dekat dan diberikan berkah oleh Allah.
“Walaikum salam wr wb”, balasan salam yang diucapkan Agus terasa nyaring bunyinya. Pita suara yang dimiliki Agus memang cocok untuk berlatih tilawatil Qur’an. Apa lagi kalau dia sedang menyanyikan lagu dangdut, woooow suaranya indah banget bahkan ia bisa menyamakan suarnya dengan suara wanita.
“Ni…Gus, aku bawa sesuatu untuk kalian”, Ardi menyodorkan sebungkus plastik berwarna hitam tersebut.
“Apa ya isinya”, Agus membuka bungkusan tersebut. Ternyata di dalamnya terdapat makanan khas Kudus yaitu berupa Jenang. Kita bisa mengenalnya dengan sebutan makanan tradisional khas Kudus. “Kok repot-repot segala sih kamu Ar, bawain kita makanan. Apa temanmu dipondok ntar ngak ngiri pada kita.”,
”Kalau ke sini bawa jajan terus juga ngak pa-pa...ha...ha...”, Malik ikut menimpak pembicaraan mereka. Di ikuti suara tawanya, bahkan Fahmi ikut terbahak-bahak. ”Benar Lik, kan kita malahan dapat sesuatu yang gratis, lha inilah yang namanya rizki yang tidak terduga”, Fahmi melontarkan kata-kata kehadapan Malik.
”Teman-temanku di komplek sudah ada jatahnya sendiri. Ya...kebetulan saja aku bawa Jenang untuk kalian. Ini saja dari saudaraku yang mengunjungiku. Dia adalah kakaku yang ikut-ikutan membiyayai belajarku di pondok pesantren.
”Kalau gitu terima kasih”, ucap Agus lirih
”Gimana, kabar Ibu dirumah,” Malik bertanya kondisi ibu Ardi. Apa lagi Malik dan Ardi itu hampir mirip, sama-sama sudah ditinggal Ayahnya. Namun Ardi tidak sempat melihat wajah orang tuanya seperti apa.
”Alhamdulillah, sehat-sehat saja. Pada sibuk apa nih, kok kayaknya serius banget. Oh...ya aku ingin sedikit cerita tentang permasalahan kemaren”, Ardi memohon untuk bisa bercerita.
”Silahkan saja, yang penting jangan bawa-bawa masalah ke sini”, Agus mulai bercanda dengan ciri khasnya yang memang suka ngobrol dan ngegosip.
Subhanallah, dari kejadian kemaren ternyata memiliki hikmah yang lebih. Dalam hal ini selain saya mendapatkan sahabat yang baik. Ternyata Allah itu maha adil. Aku kemaren hanya kehilangan uang yang tidak sebegitu besar, paling jika dibandingkan dengan makan kalian hanya cukup untuk satu minggu. Kini aku diberikan sedikit limpahan rizki yang berlipat-lipat. Tapi kalo kita banyak bersyukur, ternyata jalan kemudahan itu selalu dibukakan.
”Diberikan sedikit limpahan rizki apa nih”, Agus semakin penasaran ingin mendengarkan jawaban yang lebih pasti. Apa lagi dari tadi Ardi hanya seperti ceramah saja.
”Ya..!. Agus benar. Jangan bertele-tele”, ungkap Malik
”Eh...kalian ini, penasaran aja. Mendingan dengerin tuh penjelasan Ardi biar lebih detail, makanya jangan memotong pembicaraa orang”, ungkap Fahmi.
”Ok...ok, emang dari tadi terlalau monoton ceritanya ya.... Gini, Allah telah memberikan balasan yang lebih menarik untuk diriku berupa sejumlah uang. Ya...kira..kira hampir 3 juta, aku ngak kebayang padahal aku belum pernah memegang uang sebesar itu. Mungkin inilah karunia Allah terhadap hambanya yang mau menjaga keeratan tali persahabatan.
”Uwiiihhhhh besar banget. Emang kamu dapat dari mana atau jangan-jangan dapat undian lotreee ya”, tawa Agus semakin menjadi-jadi. Sedikit aneh memang anak ini, sukanya bercanda aja.
”Ngaklah, Gus. Aku mendapatkan hadiah dari perlombaan penulisan karya ilmiah tingkat remaja Se-Kabupaten Jombang. Lha...yang mengejutkan aku mendaptkan juara pertamnya dan di jadikan calon untuk mewakili Kabupaten Jombang dalam perlombaan semacam antar Kabupaten Se-Jawa Timur. Hebat kan”, pekik Ardi terhadap mereka bertiga.
”Kamu ini memang hebat kok Ar, ternyata mempunyai bakat tulis-menulis. Tentunya juga memiliki daya analisis yang tajam”, pujian itu datang dari Fahmi. Dia memiliki keyakinan kalau di dalam diri Ardi terdapat potensi dan bakat yang tak terduka. Kadang-kadang orang bisa meremehkannya kalau melihat dari bentuk penampilannya saja. Tapi sebenarnya otaknya sangat tokceeerrrr.
”Hebar dong Ar”, sahut Malik
”Kalau begitu ntar malam bisa ditraktir makan dan ngopi nih”, sindiran itu keluar dari mulut Agus
”Terima kasih. Ini semua juga berkat kalian, aku belajar banyak dari kalian kok. Jangan kuatir ntar malam masalah seperti itu aku yang mentrakirnya.
”Ok...deh”, serentak jawaban keluar dari mereka bertiga.
Tentu yang paling mengejutkan adalah Allah telah membukakan pintu rizkinya. Bakan dilebarkan pintunya untuk Ardi supaya melangkah lebih maju dalam perlombaan mewakili Kabupatennya. Ternyata Allah maha bijaksana, pencuri yang mengambil uang Ardipun sudah tertangkap basah. Ternyata pencurinya adalah teman satu kamarnya Ardi sendiri.
Ardi tidak tega melihat temanya diadili oleh teman-temannya yang lain. Ia tetap memberikan keiklasan, namun temanya hanya bisa minta maaf. Rasa penyesalan itulah yang ia harapkan dan untuk tidak mengulangi perbuatan jelek semacam ini. Temannya bahkan berjanji siap menganti uangnya bulan depan. Ardi sangat berbeda, ia sudah mendapatkan kecukupan.
Kepasrahan dan keikhlasan itu tetap muncul, ia meminta kepada temanya untuk tidak mengembalikannya. Ia hanya berpesan kalau bisa belikan sesuatu yang lebih bermanfaat semisal kitab, buku atau majalah. Ardi merasa sifat temanya itu sangat prakmatis, ia lebih suka berlebih-lebihan mungkin memang anak orang kaya.
Tradisi dan aturan tetap harus berjalan. Jika ada santri yang bersalah maka harus mendapatkan hukuman. Temanyapun hanya bisa menerima, walau tampak dari sekujur tubuhnya sudah berbalut darah akibat sifat anarki santri lain. ”Sungguh memalukan kau, kita sangat malu jika bertemu dengan Ustad Sobirin”, guman santri tersebut.
Teman Ardi kini telah mendaptkan balasan aturan pondok. Rambut yang tumbuh subur diatas mahkota kini harus kehilangan keindahannya. Hukuman pertama bagi santri yang melangar peraturan adalah potong gundul. Hukuman kedua setelah potong gundul adalah berjemur ditengah lapang dengan membaca Al-Qur’an. Setelah dijemur santri tersebut harus membersihkan kolam dan kamar mandi pondok pesantren. Selamat menikmati apa yang telah kau perbuat.
* * *
”Ar, di pondok pesantren kita ini sebentar lagi ada perlombaan deklamasi puisi antar komplek. Bahkan pesertanya dari santri putri dan santri putra lho, cuman jadwalnya saja yang berbeda. Maka dalam hal ini aku ditunjuk Ustad Sobirin mewakili komplek El-Hixai. Aku sudah mempersiapkan segalanya. Dari kata-kataku ini aku berharap kamu juga ikut terlibat didalamnya”, Malik memohon.
”Iya...sih aku sudah tahu. Kalau dikomplekku sudah ada yang mewakili. Tapi aku kan bukan santri komplek ini dan apakah aku bisa melakukan deklamasi puisi”.
”Masalah komplek sebenarnya dipermasalahkan. Cuman bagi santri yang ikut di madrasah diniyah komplek lain di izinkan untuk bisa dilibatkan. Walaupun kita sudah lulus, namun kita anggap kamu adalah bagian dari kami. Bahkan Ustad Sobirin sudah memberikan lampu hijau dan mengusahakannya.”.
”Tapi...kita kan sudah lulus madrasah diniyahnya. Kalau aku sih, siap-siap saja kalau kamu memberikan kepercayan kepadaku. Pasti aku berusaha semampuku”.
”Ya...ngap apa-apa sih, yang pentingkan kita pernah satu madrasah diniyah”.
Kata kesepakatan muncul dari mereka berdua. Mempersiapkan deklamasi puisi dalam festifal gelar budaya pondok pesantren. Fahmi dan Malik juga ikut senang dan merasa mendapatkan harapan yang memang sudah dipersipakan jatah untuk Ardi. Kini mereka berempat mempersipakan segalanya. Apa lagi waktu tinggal kurang dua hari. Jatah tampil bagi santri putra berbeda dengan santri putri, namun tetap pada hari yang sama. Hanya santri putri sudah ada panggunya sendiri. Tampak keseriusan keempat pemuda tersebut.
Naskah puisi yang telah dibuat Malik telah jadi. Fahmi pergi untuk memfoto copy. Agus dan Ardi mempersipakan peralatan yang akan mengiringi pementasan. Sedangkan Malik sendiri masih sibuk mendesain kostum yang telah ia persiapkan. Dia memiliki sedikit keahlian dibidang desain yang diajarkan orang tuanya dulu waktu ia masih duduk dibangku sekolah Tsanawiyah.
Segala persiapan sudah beres. Kini keempat pemuda pergi menuju tanah lapang di dekat seberang sungai pondok. Pohon-pohon rindang mengundang jerit sang belalang. Rerumputan melantunkan syair-syair kehidupan. Semuanya, alam tersenyum merdu memanjatkan puja-puji asmara.
Pohon mangga menambah suasana, namun buahnya masih kecil-kecil. Lebat daunya menutupi keharuman bunga-bunga yang kelak akan menjadi mangga yang masyak. Keempat pemuda tersebut berteduh dibawah pohon mangga tersebut. Makanan ringan dan es teh menambah suasana hangat untuk semangat berlatih deklamasi puisi.
Keseriusan untuk belajar tetap menentap pada hati mereka. Kesungguhan dalam menjalani sesi-sesi latihan menambah gairah tersendiri, apa lagi sore hari tampak cerah. Cahaya matahari menyapanya hingga ucapan salam sinarnya mengenai wajah-wajah mereka. Sungguh keharmonisan telah muncul.
”Sudah hampir tiga jam kita latihan. Bagaimana kalau kita istirahat sebentar dan menikmati hidangan ini”.
Terlihat sekali bahwa Malik memang menghargai segala proses yang telah dilalui teman-temannya hingga persipannyapun sudah sembilan puluh persen jadi. Tinggal sesi pelatihan deklamasinya saja. Wajahnya mengisyarakan kegembiraan tersendiri.
Ketiga temanya sangat menyadari akan hal itu. Ini semua untuk sahabatnya.
Dan Malikpun demikian, terima ksih banyak atas bantuannya.
Keempat pemuda tersebut istirahat dan mengakhiri latihan kali ini. Kegirangan muncul, wajah-wajah berseri seperti bulan purnama yang menerangi kegelapan. Keringat-keringat perjuangan membasahi pakaian lusuh mereka. Tak henti-hentinya mereka bermimpi, semoga juara ada di tangan kita. Malik hanya bisa tersenyum Bangga.
* * *
Pementasan segera akan di mulai ntar malam. Malik masih sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Di masukanya kostum dan peralatan lain kedalam tas besar yang memang sudah ia persipakan untuk membawa perlengkapan pentas. Sahabatnya yang lain juga ikut membantunya.
Malik hanya bisa berpesan, ”kita melakukan ini hanya untuk eksistensi komplek kita dan kita harus optimis untuk mendapatkan gelar juara itu. Apa lagi ini merupakan ritual tahunan, sedangkan tahun kemaren komplek kita ini tidak ikut memeriahkannya”.
Ketiga sahabatnya memberikan obor semagat. Kini ketiga pemuda tersebut merangkul Malik. Ia hanya pasrah menerima pelukan hangat itu.
”Kita akan menjadi pemenang, sahabatku”.
”ya...kitalah pemenangnya”.
Malik merasa terharu dan ia tak sanggup untuk mengeluarkan air matanya.
Malam puncak pementasan deklamasi puisi dalam rangka gelar budaya pondok pesantren segera akan dimulai. Gemerlap lampu panggung memberikan kemeriahan sendiri. Tampak para Kiyai sudah memenuhi kursi yang paling depan. Sedangkan para ustad-ustad sudah ada di belakangnya. Hidangan buah-buahan nampak memberikan ilustrasi yang sangat cantik. Tata pangung yang begitu eksotis memberikan isyarat akan kemerihan festifal tersebut.
Acara tahunan ini terselengara berkat kerja sama Yayasan Pondok Pesantren dengan salah satu produsen rokok. Seluruh komplek memberikan wakil-waklinya sendiri. Hampir 20 komplek yang ada di pondok pesantren mengikuti semua, padahal terkadang ada pesantren yang tidak ikut memeriahkan. Mungkin kendala potensi yang ada pada santrinya. Namun tahun ini sangat berbeda sekali.
Jalan-jalan sangat ramai, penuh sesak dengan pejalan kaki. Pedangang-pedagang kecil juga ikut memeriahkan keramaian ini. Pedagang sibuk mengelar dangannya, dari penjual makanan ringan hingga penjual minyak wangi dan pakaian.
Lantunan pembukaan dan sambutan sesepuh Kiyai sudah terdengar. Tertanda acara sudah di buka. Irama-irama tilawatil Qur’an mengarah ke angkasa mencerahkan suasana malam. Gema shalawat mengharu biru diantara pelataran panggung. Sungguh indah suara-suara lumuran mulut yang dipenuhi zikir-zikir Illahi.
Hari ini sangat berbeda dengan hari biasanya. Perbedaan itu terletak pada jalan-jalan yang dipenuhi santri termasuk santri putra dan putri. Akan tetapi jangan maen-maen dengan santri putri, mendekati ataupun sampai engakau ajak kenalan. Ada keamanan pondok disetiap jalan. Memang ada beberapa keamanan saja, namun bisa saja yang kita anggap tidak keamanan itulah polisi pondok. Mereka bisa menyamar jadi apa saja dan terkadang berada di tempat-tempat yang tidak terduga.
Para peserta sudah memenuhi kursi-kursi yang telah disediakan oleh panitia. Para penontonpun sudah banyak memadati hingga bangku yang dipersipakan kurang. Dalam hal ini memang sudah diatur, bagi mereka yang datang terlambat yang ingin melihat pertunjukan kali ini hanya bisa berdiri. Terlihat teman-teman komplek sudah berada dibelakang kursi Ustad Sobirin. Abah Yai di dampingi oleh Ustad Sobirin, ia bingung menoleh kearah kiri dan kanan.
”Kemana Malik dan kawan-kawan”, Ustad Sobirin harap cemas kepada mereka
”Wah..aku tidak melihatnya Ustad, mungkin masih mempersiapkan diri”, jawab salah satu santri.
Kecemasan sungguh nampak dari wajah Ustad Sobirin, apa lagi tahun kemarin komplek El-Hixa tidak mewakilkan santrinya. Bahkan sampai Abah Yai datang menghadiri festifal tersebut.
Padahal sudah nampak para peserta komplek lain memenuhi kursi yang telah di sediakan khusus. Namun terlihat bangku itu kosong. Bahkan malahan dipenuhi oleh santri lain.
Peserta sudah mulai unjuk gigi. Terlihat deklamsi yang dibacakan sangat bagus-bagus. Sudah hampir lima komplek maju ke depan membacakan hasil karyanya. Ustad Sobirin semakin penasaran pada mereka berempat. Bahkan dalam benak hatinya, jangan-jangan dia lari dari tanggung jawab. Sungguh sangat malunya aku, jika Malik dan kawan-kawan tidak datang. Tapi aku tetap percaya pada mereka, aku sudah sangat percaya pada mereka.
Dasar persahabatan yang aneh kebiasaan lama sulit di hilangkan. Malahan mereka asyik ngopi dan menikmati makanan ringan. Mata-mata itu memandang ke arah jalan yang dipenuhi sesak para santri. Nyeleneh sekali sifat mereka, dari dulu tidak pernah berubah. Konsistensi tetap dipegang.
”Lik, bagaimana ini. Kalau Ustad Sobirin mencari kita”, Fahmi penasaran untuk meminta jawaban Malik.
”Santailah Mi, nikmati aja pemandangan malam ini. Jarang-jarang lho kita dapat memandang santri putri. Apa lagi kita di warung, jadi mata kita bebas melirik. Walaupun ini salah satu maksiatul ’ain atau dosa mata”, gaya khas Agus mulai keluar.
”iya...benar kata Fahmi. Gimana sih Gus, malahan kamu enjoy segala”, Ardi ikut-ikutan.
”Ya...ya..., kita mendapatkan urutan ke 14. jadi masih ada banyak waktu. Kan terdengar suara pengilan peserta dari sound sistem. Gini-gini aku juga berfikir demikian, sebenarnya sangat jelek tingkah kita sih. Lha...maka dari itu kita berikan kejutan yang menarik”, ok...kata Malik.
Malik sangat percaya diri dan sahabatnya hanya bisa pasrah. Mata itu mengembara bebas. Tiba-tiba mengenai sasaranya. Mata Malik tertuju pada salah satu santriwati yang berjalan berempat, seperti bayangan persahabatannya. Malik terpesona pada wajah itu. Siapa gerangan wanita tersebut, pekik dalam hatinya. Lamunan mata itu mengemban rasa simpatik.
Andai saja aku dapat berkenalan dengan dirinya. Sungguh bahagia hatiku. Tapi apakah aku bisa mendekatinya, sedangkan keamanan saja aku tidak bisa menebaknya. Apakah aku harus mengampirinya. Tanpa pikir panjang Malik melangkahkan kakinya keluar dari warung kopi. Teman-temanya terpana kaget. ”Mau kemana kamu Lik”, sahabatnya hanya bisa merelakan dia pergi. Tapi kecemasan semakin melanda perasaan mereka.
Ada-ada saja yang dilakukan Malik. Dengan ulah dan tipu daya yang ia pelajari dari berbagai film, khusunya film India. Ia beranikan diri untuk mendekati wanita tersebut, namun dengan gaya yang berbeda. Layaknya orang yang ingin kenalan mendekat dalam satu perjalanan. Tapi ia berbeda, kan masih ada polisi pondok yang berkeliaran bertugas mengamankan segala hal yang menyangkut acara festifal.
Tanpa disangka Malik telah mengikutinya dari belakang. Ia sungguh nekat, melalui trik jitu ia berusaha mendahului langkah wanita tersebut. Tak disangka sesuatu hal yang ia rencanakan gagal total. Semenjak ingin mendahului, tanpa sepengetahuannya ingin nyalip malahan ia tidak melihat lubang jalan dihadapanya. Ia terjatuh, namun sungguh beruntung jatuhnya tepat di samping santriwati tersebut. Gerombolan santriwati itu terperangah kaget.
”Hati-hati Mas, kalau jalan lihat-lihat dong”, salah satu santri malahan ngomel kehadapan Malik.
”Atau jangan-jangan kamu ngefans pada kami ya”, santriwati lain menimpal.
”Udah...udah kalian ini. Ada orang jatuh kok malahan di omelin”, wanita yang menjadi harapan itu mengutarakan keindahan suaranya.
Bagaimana Mas tidak apa-apakan. Suara itu muncul dari mulut yang cantik, secantik wajahnya yang bersinar ditengah malam. Malik hanya bisa diam seribu bahasa, mulutnya seperti terkunci. Sungguh anggun wanita ini, suaranya, perilakunya. Walaupun aku baru berjumpa dengannya, tapi ini sangat lain sekali. Hati Malik sangat bergejolak. Ia pun bangun dan mengucapkan terima kasih.
”Maaf ya sudah mengkagetkan kalian. Siapa ya namamu..?”, Malik memberanikan diri untuk bertanya.
Di kasihnya satu lembar tulisan. Sepertinya aku mengenalnya, ya...ini adalah bahasa puisi. Pasti ini adalah puisi. Bahkan ada inisial namanya dan bahkan nama kompleknya. Aku mengenal komplek ini. Komplekku sendiri. Tapi kenapa aku baru melihatnya kali ini ya.
”Salam buat sahabat-sahabatmu”, ucapan perpisahan melantun merdu.
Semua berlalu Malikpun kembali. Hatinya berdebar-debar. Untung saja polisi pondok tidak melihat aku. Kalau melihat bisa runyam masalah ini, bahkan mungkin aku bisa dikeluarkan dari pondok. Tapi Malik semakin penasaran, kok tahu ya…kalau aku memiliki sahabat. Ia telah samapai.
“Dari mana saja kamu Lik”, Fahmi gusar.
”Pasti kamu kenalan ama santriwati ya. Kan aku sudah membaca wajah dan ratapan matamu. Aduh sahabat kita merasakan getar-getar cinta”, canda Agus.
“Maaf sobat. Benar apa yang dikatakan Agus. Bahkan aku mendapatkan satu carik kertas bertuliskan puisi yang Sangat bagus”.
Dengan tangan yang cekatan Agus mengambil secarik kertas yang telah diletakan Malik diatas meja. Agus mengamati. Di situ tercantum nama Vinta, tapi siapa nama lengkapnya ya…. Lha inikan inisial komplek kita. Agus semakin penasaran.
“Bagaimana wajahnya, apakah dia cantik”
“Semenjak aku ngobrol dengan kalian disini. Mataku ini terperangah kaget. Untung saja tida ada keamanan. Dan aku dapat menghampirinya. Pokoknya top markotop deh”.
Ini adalah puisi. Atau jangan-jangan Vinta ini mewakili komplek kita. Kan kita tahu kalau santri putri kita tidak pernah absen mengikuti fistifal tahunan ini. Walaupun tidak pernah menyabet juara, pernah satu kali yaitu tiga tahun yang lalu hanya mendapatkan juara tiga. Fahmi semakin menyadari akan hal itu.
”Kalau begitu coba kita pindah tempat lain. Mendengarkan lantunan puisi ini. Kita mencari tempat untuk bisa mendengarkan puisi dari jarak dekat panggung santri putri”, Ardi memberikan idenya.
”Gimana to kamu, Ar. Kok malahan nekat. Ini saja kita sudah meninggalkan acara kita. Malahan cari masalah lain”, Fahmi semakin tidak percaya pada ucapan-ucapan sahabatnya. Memang persahabatan ini sangat nekat.
Merekapun berlalu pergi meningalkan warung kopi. Nekat melakuikan hal yang aneh. Memang mereka sangat aneh. Sampailah kepada tempat yang nyaman. Sambil dilebarkannya secarik puisi tersebut diatas rumput. Kepulan asap rokok memutihkan muka-muka yang sangat penasaran. Hampir sepuluh menit ia menunggu, tapi belum juga mendengar puisi yang dibacakan mirip dengan puisi yang telah dibentangkan. Terdengar pangilan nama Arumia Lavinta Ningrum.
”Pasti ini orangnya. Itukan ada inisial Vinta. Pasti aku ngak salah”, Agus sangat menyadari akan hal itu.
Kuping-kuping itu mendengarkan seksama. Irama deklamasi suara tersebut sangat mengiris hati-hati yang dipenuhi rasa asmara.
Hanya Satu Kata
Ku ingin berhayal tentang dirimu
Namun kuakui aku tak mampu
Melukismu di langit ke tujuh
Lemah hatiku telah padam
Di serang ribuan tombak
Mulut terberai merah darah
Atas luka lidah bisu
Muka hilang berselimut
Sinar mentari telah pakai topeng
Tidak lagi mau berkisah
Pancaran redup tertelan angin
Seruling Daud tak lagi merdu
Ketampanan Yusuf entah kemana
Kecantikan Zulaikah hilang lembut rambutnya
Sulit lagi tuk di bayangkan ya...sampai di situ
Batas nalar dan...
Hanya bisa menjadi gila
Ini adalah petikan puisi yang telah dibacakan. Tapi kok masih panjang, padahal disini cuman sampai pada kata gila. Mungkin ini hanya sedikit serpihannya. Merekapun terpana pada suara Vinta yang begitu merdu. Sekilas mereka terkagum, apa lagi beberapa waktu sudah mendengarkan pembacaan deklamasi dari peserta lain.
Keempat pemuda tersebut berlalu pergi meningalkan arena panggung santri putri. Mereka belum disadarkan sebenarnya waktu sudah mendekati untuk segera tampil ke panggung.
Terlihat Ustad Sobirin semakin gusar bulana. Sebentar lagi Malik akan tampil, kok belum juga datang ya. Abah Yai semakin penasaran melihat tingkah Ustad Sobirin yang terlalu gusar.
”Ada yang dipikirkan”, tanya Abah Yai
”Ya...sih Bah. Malik dan sahabatnya belum datang”.
”Tenangkan dirimu. Kalau engkau sangat mempercayai mereka. Pasti mereka akan bertanggung jawab”, suara lirih merdu keluar dari mulut seorang Kiyai yang sangat bijak.
Sesungguhnya salah satu pintu masuk menuju kemenangan adalah, ketika kita mampu saling mempercayai dan bertanggung jawab atas hal yang telah di amanahkan. Keyakinan akan potensi, bakat, dan kekuatan pada setiap diri insan, akan membuat setiap insan yang berpegang teguh mendapatkan keistimewaan dan kemulyaan.
Janganlah ragu akan amanah wahai sahabat, bila kita sudah berbicara tanggung jawab. Dan terkadang orang lain mengangap remeh, mari kita buktikan perjalanan ini. Maka kita akan menjadi orang yang paling bahagia mendapatkan kesuksesan.
Keempat pemuda telah memakai kostum ditengah perjalanan. Para penguna jalan, terpana melihat kejangalan mereka. Ini bukan pesta kostum, kok mereka berpenampilan aneh. Layaknya malaikat dengan sayap-sayapnya menghempas angin malam.
Penguna jalan hanya bisa terheran-heran. Pemuda tersebut hanya bisa percaya diri dan bersikap cuek. Apa lagi soal mental, sudah kebal kali yeee.
Sudah nampak dekat panggung yang berdiri didepan pelataran kantor Yayasan. Nama Malik terdengar di sound sistem dengan nomor urut 11. Di persilahkan untuk maju kedepan panggung. Sejenak tidak nampak Malik di atas panggung. Ustad Sobirin dan santri lain semakin harap-harap cemas. Kemana gerangan mereka sudah dipangil kok belum datang.
Dentuman suara manusia yang mirip lantunan syair-syair cinta mengempas ke arena panggung dan tempat-tempat di sekelilingnya. Hamparan kertas putih diterbangkan oleh tangan yang berbalut kain putih. Kertas itu terbang seperti bunga Sakura yang jatuh di musim dingin.
Para pengunjung, santri, panitia kegiatan, ustad dan bahkan para kiyai terpana kaget dengan alunan syair tersebut. Mereka hanya bisa menoleh ke belakang, nampak empat pemuda saling sahut-menyahut dan memperagakan aksi teaterical. Ustad Sobirin merasa bersyukur mereka sudah datang, walaupun belum sampai kepanggung mereka sudah melantuklan deklamasi puisi.
Syair-syair deplomasi perjuangan, melanda di pesanteren tercinta. Kemana hendak kau arahkan. Arahan angin sudah bosan menerima hadirmu. Keempat pemuda telah sampai diatas panggung. Lilin-lilin yang meyala diatas piring memberikan terang cahaya. Mereka menari layaknya tari Jaipong dari Jawa Tengah. Rasa takcup keluar dari mulut Ustad Sobirin.
Berbeda dengan Malik, jiwanya semakin melayang. Ia masih teringat dengan paras manis itu. Namun ia masih sadar dalam posisinya. Dia harus membuktikan bahwa dirinyalah pemenangnya. Jika kita percaya pada diri kita. Akan semakin mudah melalui rintangan ini.
Tarian atas panggung dan lantunan puisi kemenangan telah menjalar masuk kerelung hati yang merasakan ketakjuban kata-kata dan suara Malik yang begitu khas. Serta ditambah suara Agus yang memang didesain mirip dengan suara wanita. Lilin-lilin itu mati. Dibukanya kostum, nampak ayat-ayat Al-Qur’an terpampang pada lekuk tubuh mereka:
“Dan di antara orang-orang yang kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan”. ( Al-Araaf ayat 181)
Ucapan salam dengan menundukan kepala mengisyaratkan berakhirnya deklamasi mereka. Tanganyapun melebar menyalami bumi. Selamat malam dan walaikum salam.
Para penonton bertepuk tangan menyambut akhir pementasan mereka. Terlihat dewan juri saling ngerumpi sendiri. Mungkin tidak percaya ada suatu hal yang aneh dalam penampilan deklamasi kali ini. Seringnya mereka hanya satu orang, paling banyak dua orang. Tentu yang paling mengejutkan adalah properti yang digunakan mereka. Dilihat tampak mahal, padahal sungguh sangat sederhana.
Merekapun turun dan menyalami Abah Yai dan Ustad Sobirin. Para teman-temannya hanya bisa memberikan up-plus atas penampilannya. Ustad Sobirin sangat bangga terhadap mereka. Ada-ada saja yang mereka lakukan.
* * *
Acara sudah berakhir tinggal pembacaan skor oleh dewan juri. Empat dewan juri naik keatas panggung membacakan hasil deklamasi puisi.
Pembacaan dimulai dari juara harapan tiga yang didapatklan oleh komplek As-Saidiyah. Juara ketiga didapatkan komplek Al-Muhajirin, ini adalah kompleknya Ardi. Sedangkan untuk kategori juara kedua dimenangkan oleh komplek Al-Muhibbin.
Mereka, santri dan Ustad Sobirin hanya bisa bedoa semoga ini adalah kemenangan untuk kompleknya. Padahal mereka hanya bisa berharap tidak muluk-muluk, cukup bisa naik podium.
Kini mereka hanya bisa pasrah. Dan mengucapkan kemenangan. Dewan juri telah menunjuk bahwa komplek El-Hixa sebagai komplek yang mendapatkan anugerah tahunan itu. Serentak mereka kegirangan dan saling berjabat tangan dan berpelukan. Tidak terkecuali Abah Yai juga memberikan ucapan selamat. Hampir tidak pernah terbayangkan, ini baru pertama kalinya komplek kita ini mendapatkan gelar terbaik.
Dewan juri hanya bisa mengucap, kreatifitas bisa timbul dari hal yang terkadang tidak berguna. Terkadang ada sesuatu hal yang terkadang kita anggap sepele namun hal tersebut memiliki nilai. Seperti penampilan Malik yang jauh dari perkiraan dewan juri.
Malam semakin larut. Panggung-panggung sudah dibenahi oleh panitia. Kebersihan sudah menjadi tanggung jawab para santri. Persahabatan itupun melakukan ritualnya menyambangi warung kopi.
“Terima kasih Ar, kamu sudah ikut berpartisipasi dan membawa gelar juara”, Malik mengulurkan tangannya.
“Sobat mari lanjutkan kemengan kita dengan ngopi dan makan nasi goreng”, Agus nyeletuk pembicaraan mereka.
“Ya...iyalah”, Fahmi kegirangan sambil dipandanginya piala yang ikut mampir diwarung kopi.
Merekapun menikmati malam ini dengan rasa kepuasan. Berbeda dengan Malik, walau sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Pikiran-pikiran diatas pangung masih saja mengingatkannya kepada santriwati bernama Vinta. Suatu saat pasti aku akan bertemu engkau kembali. Kata hati mucul dari balik sanubari Malik.
Previous Post
Next Post
Related Posts

2 komentar: