Kamis, 12 Maret 2009

Chatting Pagi bersama Illahi (Part 1)

Rerintik hujan basahi desa dengan tenang, desiran angin membawa hawa dingin merasuk pada tubuh yang membutuhkan kehangatan. Suara rintik hujan menandai kelebatan air itu turun dari langit. Begitu indahnya hujan itu, semoga ini adalah simbol keberkahan bukanya simbol yang akan memberikan musibah ataupun malapetaka bagi penghuninya. Desa ini sangat indah penuh dengan rerumputan yang riang bernyanyi dan pepohonan di setiap jalan memberikan kabar gembira namun hujan telah menidurkan mereka dalam indah pelukan sang air.
Air adalah simbol kehidupan, serpihan kilau cahayanya memancarkan ruh-ruh keillahian. Setiap tetes air yang jatuh ke bumi memberikan satu juta kesuburan. Embun-embun pagi berupa air itupun menandakan kehangatan, kesejukan dan keharmonisan dalam memaknai kehidupan, hanya untuk mereka yang dikaruniai akal. Semua ada tanda-tanda, ada hikmah dan pelajaran bagi orang yang berfikir.
”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. (al-Baqarah ayat 164).
Tepat ketika hujan telah reda, lantunan nyanyian udara mengembus pada ronga-ronga yang sedang kehausan, membutuhkan kemulyaan, tetapi arah hembusan itu hanya mengenai wajah seorang pemuda yang akan membangunkannya dari mimpi itu. Apakah kau tahu, bahwa sesungguhnya ini bukan desanya, akan tetapi desa ini adalah sebuah persingahan pesantren yang letaknya jauh dari bising suara sirene, knalpot dan hiruk pikuk kota. Di pesantren ini mirip sekali dengan desanya, indah sekali pemandangan yang masih alami.
Setelah pemuda tersebut terbangun dari tidur, ia bergegas menuju kamar mandi, memang kamar mandi terasa sepi karena jarang para santri mandi tengah malam paling mereka kalau ingin sholat malam hanya mengambil wudhu aja. Terkadang pula, bangun malam hanya untuk buang air kecil kemudian kembali ke kamar dan melanjutkan tidur. Berbeda dengan dirinya, ia tak terbiasa kalau langsung mengambil wudhu, karena tubuhnya juga memperlukan kesegaran air itu. Jadi sudah kebiasan ketika pemuda tersebut habis tidur langsung menuju kamar mandi.
Pernah suatu ketika seseorang temannya terperangah kaget karena melihat suara air di kamar mandi di tengah malam, di kirainya ada syetan di sana. Eh….malah pemuda itu di timpuk dengan batu dan melukai kepalanya. Dasar sial temannya itu, ya gimana pula namanya teman apa lagi yang sudah bersahabat lama tak tega rasanya ingin membalasnya. Mungkin ia juga dari bangun tidur, matanya masih kabur jadinya di kirain hantu gentayangan kali ye... Yang penting itu sudah kebiasaannya, bahwa dirinya akan selalu mandi di tengah malam, apa lagi abis bangun tidur rasanya sudah menjadi kewajiban. Orang lain mau bilang apa terserah mereka.
Ada ustadz yang mengangap dirinya selalu melakukan ritual malam yang ingin mempelajari ilmu kanuragan. Suatu ketika pemuda tersebut pernah di tanya ustadz begini” eh malik...apa yang kamu lakukan di tengah malam, kamu tu selalu mandi berisik tau, apa kamu lagi nyabun atau mempelajari ilmu hitam ya…?”. Itulah nama pangilanku Malik seorang pemuda tinggi kurus. Emang aku pikirin biar di bilang aku belajar ilmu hitam atau ilmu iblis terserah. Yang paling penting adalah ada kesegaran tetes air dalam setiap jiwa yang membutuhkan cinta.
Dasar kehidupan pondok ya…seperti ini, maka jangan heran ketika terjadi hal-hal yang aneh di kehidupan pesantren.
Setelah aku mandi bergegas aku pakai pakaian takwaku dan tak lupa wewangian biar lebih harum ketika berhadapan dengan sang khalik. Ku pakai kupluk berwarna coklat kesayanganku, kupluk ini juga memiliki sejarah tersendiri aku membelinya ketika ziarah di Sunan Bonang Tuban tanpa sengaja aku melihat pancaran dari kupluk itu sehingga aku membelinya padahal aku mempunyai kupluk tiga di almariku. Tak lupa sajadah sebagai teman peneduh ketenangan ketika tertunduk bersujud di hadirat sang maha esa. Sajadah terakhir yang di berikan ayahku, pada waktu ayah pulang dari menunaikan rukun ke lima yaitu ibadah haji di baitullah. ”Ini adalah sajadah suci, semoga Allah memberikan ampunan unutk ayahku”, ujarku
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. Adz-Dzariah: 56)
Kita tercipta sebagai hamba Allah dan kita mempunyai fungsi selalu tunduk di hadapannya. Semoga ibadahku di malam ini menjadi ibadah yang berkah dan menjadi penyejuk jiwaku yang telah mengalami kegoncangan. Kegonjangan untuk selalu bisa intim berhubungan dengan Yang Maha Suci.
Aku tersungkur dalat tarian malam, cahaya rembulan tidak memancar lagi di balik jendela masjid tua itu sebab wajahnya telah tetutup awan gelap dalam hujan. Ada beberapa orang yang bermunajat di hadapan Tuhanya. Aku juga melirik ke kanan dan ke kiri aku temui pula banyak santri-santri yang tidur di teras masjid. Mereka tidak bangun mungkin kecapean bergadang, apa lagi ini adalah malam selasa, malam yang seluruh kegiatan pondok libur, banyak anak memanfatkan libur itu biasanya untuk nonton televisi di warung sambil kebal-kebul alias rokokan, ya…sekedar menghilangkan kepenatan.
Memang tak biasanya aku shalat malam, mungkin sangat aneh jika sahabatku samapai melihat aku shalat malam, untung saja mereka masih tidur di kamar. Biar tidak ketahuan mereka aku jadinya shalat di masjid memang tidak jauh jaraknya hanya 30 meter dari kamarku.
“Wahai tuhan yang esa, aku memohon padamu walau aku jarang bemunajat di hadapmu aku hanya menginginkan semua cita-citaku terkabulkan. Bacalah isi hatiku dan aku tak akan mengatakannya hanya engkau yang maha melihat lagi maha mendengar”.
Aneh juga bagi dirku aku harus memohon pada Allah, padahal aku adalah manusia yang hina manusia yang ketika ada kepentigan rela tersungkur bersujud. Biarlah itu menjadi bisik hatiku dan hanya Tuhanku yang mau mengerti tentang hidupku, bagiku aku ingin menjadi manusia yang benar-benar kaffah.
Adzan subuh terdengar merdu, muadzinnya anak kecil, ya kulihat muadzinya melirik padaku. Benar-benar hebat anak ini, bisik hatiku. Anak sekecil itu sudah terbiasa bangun malam dan menyempatkan waktunya untuk mengumandangkan syiar Allah ke semesta. Sungguh wibawanya dirimu wahai adik kecilku semoga engkau selalu di berikan keberkahan untuk tetap istiqamah pada jalan Allah.
Akupun menuju ke shaff terdepan, kubentangkan sajadahku Allahu akbar…Allah maha besar, shalat qabliyah subuh memangilku. Setelah shalat sunah, beritikaf di masjid merupakan sunah yang baik sambil menunggu imam ku lantunkan dzikir-dzikir cinta ke seluruh mulutku semoga bibirku terbasahi dengan kalimat yang indah ini.
Iqamat telah mengumandang tanda shalat subuh akan segera di lakukan, kaki-kaki yang tegap menuju area iman aku memandangnya sekilas ternyata KH. Nasir Amrullah menjadi imanya, abah yai meliriku mungkin terasa aneh jika aku berada di shaff pertama yang sebelumnya tak pernah aku sedekat ini dengan imam sholat. Lantunan ayat-ayat cinta terhempaskan oleh angin pagi begitu merdu suara itu hinga membuat diriku terasa melayang-layang ke angkasa. Aku begitu menikamti lantunan ayat suci al Qur’an yang telah membawaku ke surga impian. Ya…Allah begitu nyaring suara KH. Nasir Amrullah ini semoga aku tidak hanya menikmanti suaranya tetapi aku ingin bisa memahami ayata-Mu.
Usai sudah ritual pagi, alunan dzikir terdengar panjatkan penuh untaian takwa melodinya lembut bergantian suara-suara takwa itu memajang indah ruangan masjid. Bergegas lantunan dzikir itu lenyap, akupun keluar dari masjid ku lanjutkan aktivitas lain. Hari rabu semoga menjadi hari yang indah, ku pakai seragam warna hijau dengan bawahan putih ini adalah seragam khas sekolah bukan almamater pondok, kalau di alamater pondokku berwarna krem atau warna colkat muda.
Ternyata sahabatku pada tidak ada di mana gerangan mereka, aku lihat di sekitar kamar mandi juga tidak ada. Ini pasti kebiasaan lama, pasti sahabatku pada nyeduh kopi di warnung Mak Zuni. Akupun langsung meluncur kesana ku tenteng beberapa buku dan kitab.
“Eh…halo friend...met pagi. Dari mana saja, aku cari kok ngak ada”, Agus memangil dari kejauhan.
“Soory friend…tadi pagi aku ketiduran di masjid. Terlambat bangun jadi maaf banget. Wah dah abis rokok berapa you Gus”.
“Ni baru abis satu batang, wah..you ketiduran di masjid, semenjak kapan tersesat di masjid atau jangan….jangan…ada apa apa nieh..hayoo”.
“Ya ngak gitulah, ya sekali kali taubat gitu lho…jangan males terus, ntar ke bawa sampai tua baru tau rasa”
“Udah pandai ceramah ya kamu, wah aku doain jadi dai deh”
“Amin”. Jika saya biarkan dialog ini semakin runyam dan serba aneh pertanyaan si Agus ini, karena dia tuh hobinya ngobrol dalam kamusnya selalu terisi kata-kata dan tak ada matinya.
“Gus! Fahmi mana ya, kok belum kelihatan ?. Tu...orangnya lagi ngobrol ama temannya “. Pantas saja aku ngak lihat wong orangnya sendehan di balik pohon kelapa samping warung.
“Mi! kamu ngak kuatir telat berangkat sekolahnya, ayo berangkat”. Teriakku kepada Fahmi.
“Yoi..Lik! santai aja masih ada waktu seperempat menit lagi, nikmati aja. Tapi ingat bayar sendiri-sendiri lho.
“Beres-beres”. Fahmi ini anak Ambon, tetapi kulitnya tidak hitam ia berkulit putih mulus. Katanya emang keluarganya sebenarnya kebanyakan punya keturunan dari Jawa. Badanya Fahmi tinggi kekar. Hati-hati jika berdekatan dengan dia, orangnya mudah tersingung dan cepat marah.
Kitapun berangkat bersama-sama menuju tempat terindah yang tak mungkin terlupakan, karena trempat itulah kita di didik oleh guru-guru kita. Aku sama Fahmi satu kelas, kalau Agus berbeda di berada di kelas IPS 1 sedangan Fahmi sama aku di kelas IPS 3. Walaupun berbeda tapi jangan bilang aneh, jika persahabatan kita sulit di putus dengan apapun. Agus anaknya sebenarnya pandai, mungkin di tutupi perilakunya yang aneh jadi kepintarnya ngak begitu terlihat.
Langkah pasti, membawa arti untuk mencari setitik api di muara sungai yang mengalir indah tapi tak di temukanya titik api tersebut yang ada hanya setitik air yang membasahi tubuh kami. Kringat tubuh telah membasahi baju-baju kami, alangkah asyiknya namun sangat berarti. Tetapi apa boleh di kata, kaki dan tangan kami harus mengikuti instruksi dari Pak Satpam dengan gayanya yang sok jadi jagoan, tapi kuasa tetap padanya. Kami di suruh ini dan itu kayaknya tahanan, tapi kami juga bukan penjahat yang mengkorupsi harta rakyat, kami juga bukan penjahat pencuri ayam kelas teri.
Kami adalah siswa-siswa yang berbakti, namun pagi ini, olah raga sedikit dari lari-lari hinga sampai push up 100 kali. Aduh berat kayaknya apa daya ini adalah sebuah hukuman yang harus di terima karena keterlambatan berangkat sekolah.
“Ini gara-gara kamu kok Lik”. Agus agak ngedumel
“Enak aja lo Gus, ini tu gara-gara kamu ngopinya and nogkrongnya kelamaan.
“Udah-udah ngak usah di perbincangkan, ini kan rutinitas kalian berdua. Malahan aku juga ikut-ikutan kenak hukuman”. Fahmi merasa jika dirinya kalau berangkat sekolah dengan Malik dan Agus selalu aja telat.
Waktu tak terasa memutar jarum jam yang enggan untuk berhenti. Apakah keindahan selalu ada waktu di tempat kita menuntut ilmu ataukah keindahan akan terbit di mana orang yang mencari ilmu dengan tulus dan ikhlas.
* * *
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: