Senin, 05 Januari 2009

Damai di Negeriku

Damai di Negeriku


Dunia memang sudah gila
Kenapa aku sebut gila
Sebab kamu mencuci otakmu dengan senjata
Kau tumpahkan darah di mana-mana
Sampai-sampai manusia kau anggap binatang melata


Dunia sudah tidak berakal
Kenapa aku sebut tidak berakal
Karena Yahudi mengangap Palestina tanahnya
Kau zinai bumi dengan air mani dosa
Sampai-sampai rerumputan kau anggap emas

Dunia ini penuh dengan air kencing
Toilet kau buat sigasana raja
Hingga harga manusia sama rendahnya
Kau hisap susunya sampai kering tak berbuih
Ah...memang dasar Israel
Palestina kau jadikan mainan
Ke sana ke mari hanya ketakutan
Kau anggap ini negerimu
Tapi...
Bolehkah aku.....damai di negerimu

Dasar tak tahu malu

Kau Anggap


Terima kasih atas teror dan ledakanmu
Kau beri aku darah dan tangisan


Aku junjung kedamaian
Kau anggap pembantaian
Aku junjung persahabatan
Kau anggap permusuhan
Aku junjung kejujuran
Kau anggap kemunafikan


Terserah kau bicara apa...!
Perang tetap menjadi idola


Doa Juangku
Wahai kau yang bersenjata

Yang mengangap Palestina tanahnya
Akan aku rangkaikan senjata yang penuh kalimat cinta
Tapi...apakah pantas jiwa kami dan engkau senantiasa berbeda
Kau hembuskan seruling kematian hingga darah tumpah ruah
Sedangkan aku hidup menunggu mati oleh ledakanmu
Wahai jiwa yang terurai penuh kekhusyukan
Janganlah sembunyikan ridho-Mu dari tangan-tangan kami
Yang senantiasa bermunajat diantara siang dan malam-Mu
Berilah karunia cinta-Mu pada setiap langkah kami
Berilah kami perisai ruh yang sesuai kalam suci-Mu
Yang selalu berjuang memakmurkan bumi-Mu
Bawalah kami menuju tangga ridho-Mu
Bawalah kami kembali teguh kepada keyakinan atas agama-Mu
Yang akan berperang tuk menjaga kehormatan tanah-Mu
Aku sengaja mengeja damai mencipta ruang yang hilang
Ajarilah aku yang menangis bagai lilin
Ya...Rabb! air mata mana yang tahan jika mati menjadi harapan
Ya...Rabb! mata mana yang tahan jika hidup tidak menjadi nyaman
Ya...Rabb! telinga mana yang tahan jika ada api yang membakar
Hidup pada reruntuhan dinding-dinding yang bebas dari segala ikatan
Pantang menyerah sebagai wujud-Mu, tetangga menjadi musuhku

04/01/2009 (23.27)
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: