Jumat, 16 Januari 2009

Allah Tidak Adil

Di suatu sore dengan guyuran rerintik hujan tepatnya hari selasa tanggal 5 Januari 2009, aku bersama teman-teman melakukan aksi dan pengalangan dana untuk Palestina. Aksi ini sebagai bentuk sikap kami mengecam keras Israel atas seranganya ke Palestina. Kami melakukan taterical yang dibilang aneh dan ada yang bilang aksi gemblung, tapi dalam benakku berkata ”ternyata Allah tidak adil, negeri Islam telah dijajah bangsa Israel...!”. Aku menjadi orang gila ditengah panasnya asap putih yang telah membasuh mukaku.

Kata hati itu adalah metaforika diriku. Metafora ini mungkin tidak sebegitu aneh bahkan banyak yang mencari keadilan Allah. Dimana kita mau mencari keadilan Allah, bertemu saja kita sulit apalagi mau sms, telepon, faximile bahkan lewat email sekalipun. Selanjutnya aku buka al-Qur’an mencari ayat-ayat tentang Bani Israil, aku menemui surat al-Jaatsiyah ayat 45: Allah berfirman:

Dan Sesungguhnya Telah kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan kami berikan kepada mereka rezki-rezki yang baik dan kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya)”

Israel hanyalah sebuah negara kecil, disebut Israel karena kebanyakan penduduknya berasal dari Bani Israil. Mereka adalah kaum Nabi Ya’qub yang kemudian terkenal dengan sebutan bangsa Yahudi. Bangsa yang telah diberikan kelebihan oleh Allah dari bangsa-bangsa lainnya. Kelebihan atau kemulyaan itu berupa kecerdasan, kemakmuran dan tentunya kitab-kitab yang menjadi peganganya, menyebabkan bangsa Yahudi adalah bangsa yang hebat, tidak sebanding dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini. Tidak heran jika keangkuhan dan kesombongan selalu menyertainya dan bahkan ingin menguasai semesta ini.
Aku buka lembaran baru pada surat al-Israa’ ayat 4 dan al-Baqarah ayat 47: Allah berfirman:

Dan Telah kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi Ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”.

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang Telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku Telah melebihkan kamu atas segala umat

Hati ini ingin berkata ”memang engkulah perusak semesta yang penuh dengan kehijauan”. Aku tetap berfikir ”dimana keadilan Allah”, atau inilah bangsa yang di mulyakan kemudian atas kemulyaan tersebut ia menjadi bangsa yang menyombongkan diri. Atas nikmat yang diberikan, atas semua yang di anugerahkan.
Aku tetap berfikir ”inikah keadilan Allah”, bahwa setiap orang yang dimulyakan kemudian ia bersikap sombong bahkan ingkar kepada nikmat yang telah diberikan, Allah akan memberikan balasanya di kemudian hari berupa bencana atau bahkan neraka jahanam.

Inikah keadilan Allah, jika ada sesorang yang kaya kemudian ia tidak bersikap adil kepada kaum mustad’afin, ia akan mendapatkan siksa dan bahkan akan diberikan kegusaran hati pada hartanya. Inikah keadilan Allah, jika ada seorang miskin dan bahkan bersikap sombong, sungguh akan mendapatkan siksa yang pedih. Ataukah orang miskin yang selalu bersabar untuk mencari ridho Allah, ataukah orang kaya yang rajin bersedekah untuk mencari ridho Allah.

Dimana keadilan untuk umat rahmatal lil’alamin, jika bangsa yang mulya itu telah menghancurkan dan membunuh setiap jiwa yang tidak berdosa. Ataukah keadilan itu bersumber pada kepasrahan, keikhlasan, kesabaran dan ketabahan di jalan yang lurus. Memang keadilan Allah diantara tali-tali agamanya yang selau teguh dalam jalan lurusnya.

Keyakinanku menjawab, bahwa keadilan hanyalah nomor dua yang pertama adala bagaimana kita mau bersikap ”jujur”. Mengakui segala kekurangan dan kelebihan kita sebab dengan kejujuran akan melahirkan keadilan, bahwa tidak ada yang mulya di dunia ini. Kemulyaan itu hanya satu yaitu merekalah orang-orang yang bertakwa. Siapa orang yang bertakwa itu, di sinilah keadilan Allah. Temukan jawabnya pada diri anda...dan merekalh orang-orang yang berfikir!
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: