Minggu, 23 November 2008

Kepemimpinan Kritis dan Islam Modern


SIAPA AKU…!
“Aku Adalah Pemimpin”


Kepemimpinan atau dalam bahasa Inggris disebut dengan “leadership”. Kata leader muncul pada tahun 1300-an. Sedangkan leadership muncul belakangan sekitar tahun 1700-an. Membincang kepemimpinan tidak akan pernah usang, sebab wacana seperti ini akan terus berkembang.

Terpenting jangan sampai terjebak pada pendefinisian sempit ”pemimpin” yaitu orang yang mempunyai kedudukan tinggi ataupun jabatan yang terhormat. Sesungguhnya kepemimpinan bukanlah ditentukan oleh pangkat atau jabatan, namun kepemimpinan adalah dorongan dalam diri untuk mengambil keputusan supaya menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, keluarganya, lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya.

Pendapat tentang kepemimpinan:
G. L. Freeman atau E. K. Taylor (1950)
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk menciptakan kegiatan kelompok mencapai tujuan organisasi sehingga efektifitas maksimum dan kerjasama dari tiap-tiap individu

Harold Koontz dan Cyrill O. Ddonnell (1976)
Kepemimpinan adalah seni membujuk bawahan untuk menyelesaikan pekerjaan- pekerjaan mereka dengan semangat keyakinan

Franklyn S. Haiman
Kepemimpinan adalah suatu usaha untuk mengarahkan prilaku orang lain guna mencapai tujuan khusus.

Kepemimpinan dapat dipahami dalam dua pengertian yaitu sebagai kekuatan untuk mempengaruhi dan menggerakan orang. Kepemimpinan hanyalah sebuah alat, sarana, seni atau proses untuk membujuk orang agar bersedia melakukan sesuatu secara sukarela.


Siapa aku! “manusia dan amanah”
Kita semua adalah mahluk yang paling unik dan sempurna sebagai hasil karya Allah terbesar. Agama adalah suatu keyakinan yang dibawa dirinya, sedangkan “Islam” mempunyai makna penyerahan diri secara totalitas dari seorang abdun (penyembah) kepada Tuhannya.

Manusia sebagai hamba memiliki tugas atau sebuah amanah yang harus ia kerjakan. Allah berfirman surat al Baqarah ayat 30 dan adz Dzariyaat 56:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.


“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Manusia memiliki dua peran yaitu sebagai khalifah di bumi dan beribadah kepada Sang Pencipta. Sebagai pemikul amanah barang tentu memiliki konsekwensi yang sangat berat sebagai hamba yang diciptakan Allah untuk memikul tugas di bumi setelah para malaikat, hewan dan tumbuhan tidak mampu memikul amanah tersebut.

Dalam memikul amanah tersebut diperlukan tahapan atau persiapan bagi manusia sebelum dan sesudah proses penciptaan. Tahapan-tahapan itu diantaranya:
Tahapan penciptaan awal manusia diciptakan dalam bentuk roh. Kepada roh ini ada suatu ikrar atau perjanjian yang pertama, yang diucapkan manusia sebelum berbentuk jasad. Allah berfirman surat al- A’raaf ayat 172:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”.

Tahapan kedua dalam bentuk jasad disertai dengan fasilitas yang menghidupinya dan dilengkapi beberapa alat-alat yang paling komplek. Allah berfirman surat al Alaq ayat 2 dan at Tiin ayat 4

“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
Tahapan selanjutnya Allah memberikan ilmu. Allah berfirman surat al Lukman ayat 20

“Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah Telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan”.
Dari tiga tahap diatas manusia sudah memiliki bekal untuk menjadi pemimpin di bumi, dalam tahapan ini manusia sangat berbeda dengan malaikat maupun mahluk lainnya. Di dalam diri manusia terdapat sifat Allah melalui roh yang memang sudah memiliki sifat-sifat Allah yang harus digali dengan menggunakan kemampuan, kesempurnaan jasad, indera, otak dan jiwa.
Roh merupakan saripati kesucian. Di dalam roh ini ada kandungan keimanan berupa kalimat “Laailaaha Illallah” dan “Asmaaul Husna”, sebab setiap roh itu suci yang semestinya selalu berdzikir dan melakukan hal-hal yang baik.


Kepemimpinan (Sunni dan Syiah)Kepemimpinan di dalam Islam merupakan wacana yang asyik bila di dikusikan. Wacana kepemimpinan Islam muncul ke permukaan semenjak wafatnya Rasulullah. Rasul sendiri tidak memberikan siapa yang selanjutnya menjadi pemimpin di kalangan umat Islam. Sebab dalam hal ini al-Qur’an telah menjelaskan bahwa Rasul sebagai pembawa risalah terakhir dan penyempurna agama-agama sebelumnya:

”Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.”. (al An ’am Ayat 115)
Sejarah telah mencatat setelah wafanya Rasulullah kemudian kepemimpinan di pegang oleh Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah dan Bani Abbas. Setelah Dinasti Abbasyiyah kepemimpinan Islam terpecah ke dalam kesultanan-kesultanan kecil.
Kemudian berlanjut, Islam menjadi terpecah-pecah belah dalam kelompok-kelompok atau fiqrah-fiqrah. Fiqrah yang terbesar yaitu fiqrah Sunni dan Syiah. Kedua fiqrah besar ini memiliki konsep pemahaman kepemimpinan yang sangat jauh berbeda. Keduannya memiliki dalil dan argumentasi yang sama kuat dengan sumbernya al-Qur’an dan as Sunnah.
Kondisi ini sangatlah mengecewakan, sebab mereka saling berseteru dan bahkan saling mengkafirkan. Maka di perlukan pendefinisian kepemimpinan Islam yang sesuai jalur dan memiliki andil besar demi tercapinya kebenaran. Kepemimpinan ada yang menyebutkan sebagai ”imamah” dan ”khilafah”.

Syekh abu zahra dari kelompok Sunni menyamakan arti imamah dengan khilafah. Sebab orang yang menjadi khilafah adalah penguasa tertinggi bagi umat Islam yang mengantikan Rasul. Khalifah itu disebut dengan imam (pemimpin) yang wajib ditaati. Manusia berjalan di belakangnya, sebagaimana manusia shalat dibelakang iman.

Kelompok Syiah dalam hal kepemimpinan membedakan pengertian antara khilafah dan Imamah. Hal ini dapat dilihat berdasarkan fakta sejarah kepemimpinan dalam Islam setelah Rasulullah wafat. Kelompok Syiah sepakat bahwa pengertian Imam dan Khilafah itu sama ketika Ali Bin Abi Thalib diangkat menjadi pemimpin. Namun sebelum Ali menjadi pemimpin mereka membedakan pengertian Imam dan Khilafah. Abu Bakar, Umar Bin Khattab, dan Utsman adalah Khalifah, namun mereka bukanlah Imam.

Bagi kelompok Syiah sikap seorang Imam haruslah mulia sehingga menjadi panutan para pengikutnya. Imamah di definisikan sebagai kepemimpinan masyarakat umum, yakni seseorang yang mengurusi persoalan agama dan dunia sebagai wakil dari Rasulullah, Khalifah Rasulullah yang memelihara agama dan menjaga kemuliaan umat dan wajib di patuhi serta diikuti. Imam mengandung makna lebih sakral dari pada khalifah.

Secara implisit kaum Syiah meyakini bahwa khalifah hanya melingkupi ranah jabatan politik saja, tidak melingkupi ranah spiritual keagamaan. Sedangkan Imamah melingkupi seluruh ranah kehidupan manusia baik itu agama dan politik.

Dari fiqrah Sunni dan Syiah, keduannya memiliki pandangan yang berbeda. Fiqrah Sunni menyatakan bahwa kepemimpinan harus dipilih secara musyawarah. Seperti firman Allah:

”Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka”. (Asy Syura Ayat 38)

”Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu”. (Ali Imaran Ayat 159)
Kalangan Syiah berpendapat bahwa setela Rasul wafat yang mengantikan Beliau yaitu Ali bin Abi Thalib beserta keturunannya dari Fathimah az Zahra. Di dasarkan pula dengan firman Allah:

”Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. (Al Ahzab Ayat 33)
Hadits Tsalaqain : Nabi saw bersabda, “Aku tinggalkan kepada kalian dua amanat, yaitu Kitab Allah dan keturunanku.” (Shahih Muslim, Jilid VII, hal. 122).

Hadits Ghadir Khum : Nabi saw bersabda, “Bukankah aku lebih berwenang atas diri kalian dibanding kalian sendiri?” Semua yang hadir mengatakan, “Betul, Ya Rasulullah.” Kemudian Nabi saw membuat deklarasi, “Ali ini adalah pemimpin (penguasa) orang yang menjadikan aku sebagai pemimpin (penguasa)-nya.”

Jadi kedua pokok pemikiran yang cukup tajam perbedaaannya dari firqah Sunni dan Syiah. Kelompok Sunni percaya bahwa setelah Rasulullah wafat maka kepemimpinan itu diserahkan kepada ummat Islam melalui musyawarah. Kelompok Sunni secara otomatis juga meyakini bahwa tidak ada pemimpin yang ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam hal memimpin ummat manusia di muka bumi ini, cukuplah al-Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai pegangannya. Seorang Ulama Sunni, Dr. Ali As-Salus dalam bukunya Imamah dan Khilafah dalam Tinjauan Syar’i menyatakan bahwa kepemimpinan (Imamah) itu bukanlah ditetapkan dengan dengan nash atau penunjukan.

Sedangkan kelompok Syiah percaya bahwa kepemimpinan setelah Rasul merupakan hak Allah. Tidak ada peran manusia dalam menentukan pemimpin setelah Rasulullah wafat. Kelompok Syiah percaya bahwa Allah menentukan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin ummat Islam setelah Rasulullah. Fiqrah Syiah menyatakan kebutuhan manusia akan Imam (Pemimpin), sama dengan dalil bahwa manusia membutuhkan seorang Nabi, ketika manusia memasuki zaman ketiadaan nabi, maka manusia memerlukan imam (pemimpin).

Dalam pandangan Ali Syari’ati, secara sosiologis masyarakat dan kepemimpinan merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Syari’ati berkeyakinan bahwa ketiadaan kepemimpinan menjadi sumber munculnya problem-problem masyarakat, bahkan masalah kemanusiaan secara umum. Menurut Syari’ati pemimpin adalah pahlawan, idola, dan insan kamil, tanpa pemimpin umat manusia akan mengalami disorientasi dan alienasi.

Ketika suatu masyarakat membutuhkan seorang pemimpin, maka seorang yang paham akan realitas masyarakatlah yang pantas mengemban amanah kepemimpinan tersebut. Pemimpin tersebut harus dapat membawa masyarakat menuju kesempurnaan yang sesungguhnya. Watak manusia yang bermasyarakat ini merupakan kelanjutan dari karakter individu yang menginginkan perkembangan dirinya menuju pada kesempurnaan yang lebih.


Siapa Aku “Aku Adalah Pemimpin”
Ada satu pertanyaan kepemimpinan dalam berorganisasi maupun masyarakat “mengapa di perlukan pemimpin?”. Ada bebarapa alasan diantaranya (1). Sesorang memerlukan figur pemimpin, (2). Dalam situasi seseorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya, (3) Sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelompok, (4). Sebagai tempat meletakan kekuasaan, (5). Untuk mengkoordinir kepentingan dan mencapai tujuan.

Karakter seorang pemimpin:

Siapakah yang sekiranya pantas menjadi seorang pemimpin. Dalam konteks diri kita adalah pemimpin namun dalam skala luas kemasyarakatan tidak semua diri memiliki karakter dan peran sebagai pemimpin. Dalam konteks ini setidaknya memiliki karakter:
Kecerdasan (intellegence) (IQ, EQ dan SQ)
Bermutu (quality) memiliki visi yang jelas
Sense of belonging
Sense of responbility
Motivator
John Maxwell mengatakan: ”The only way that I can keep leading is to keep growing. The day I stop growing, somebody else takes the leadership baton. That is the way it always it”.
“Satu-satunya cara agar saya tetap menjadi pemimpin adalah saya harus senantiasa bertumbuh. Ketika saya berhenti bertumbuh, orang lain akan mengambil alih kepemimpinan tersebut”.


Siapa Aku “Sebuah Kata Seikat Makna

Imam Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah pernah berkata, “Man ahsanal istima', ta'ajjalal intifa”. Siapa yang paling baik mendengarkan, dia akan cepat mendapatkan manfaat.
Beliau juga pernah mengingatkan kita untuk menyimak isi pembicaraan dan bukan siapa yang berbicara. "Perhatikanlah apa yang dikatakan, dan bukan siapa yang berkata!”.

* * *

Tatkala aku masih muda serta bebas berimanjinasi mengembara tanpa batas, aku berciata-cinta untuk mengubah dunia.

Tatkala aku semakin tua dan bijaksana aku menyadari bahwa dunia tak akan berubah, dan aku agak memendekkan sasaranku serta memutuskan untuk mengubah negriku saja. Namun itu tampaknya tak dapat diubah.

Tatkala aku kian jauh mengarungi masa tuaku, dalam suatu upaya yang nekat, aku berniat keras untuk mengubah keluargaku saja, mereka memiliki hubungan terdekat denganku, namun aduh mereka tak berbeda. Dan kini tatkala aku terbaring di ranjang kematianku, aku tiba-tiba menyadari.

Andaikata dulu aku pertama kali mengubah diriku sendiri saja
Melalui teladan barang kali aku berhasil mengubah keluargaku. Dari inspirasi dan dorongan mereka aku seharusnya mampu memperbaiki negeriku dan siapa tahu, aku mungkin bahkan mampu mengubah dunia. (Anonim)

Saatnya Mulai Detik Ini Dalam Diri Kita Tanamkan Sikap Positif Dan Katakan Aku Adalah Pemimpin

Good Luck

* * *


Sumber Bacaan
  1. Elsa Sakina, Berpkir Benar, Berpikir Positif, http://inspirasi-motivasi.blogspot.com
  2. John W. Gardner, on leadership, New York, The Free Press, 1990, hlm 141
  3. Stephen P. Robbinson, Perilaku Organisasi; Konsep, Kontroversi, Dan Aplikasi, Terjemahan Hadyana Pujaatmaka, Jakarta: Prenhallindo, Edisi ke-2, 1996, hlm. 370
  4. Abdul Mujieb As, Tujuan Hidup; Dalam Pandangan Islam, Surabaya, Karya Utama, tt, hlm. 11
  5. Nurkholis, Manajemen Berbasisi Sekolah; Teori, Model, Dan Aplikasi, Jakarta PT. Gramedia Widiasarana, 2003, hlm152
  6. Dr Ali As-Salus, Imamh dan Khilafah dalam Tinjauan Syar’i, Gema Insani Press, Jakarta,1997
  7. Ibrahim Amini, Para Pemimpin Teladan, Al-huda, Jakarta 2005
  8. Haidar Bagir dalam Ali Syari’ati, Ummah dan Imamah, Suatu Tinjauan Sosiologis, Bandung, Pustaka Hidayah, 1989
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: