Minggu, 05 Oktober 2008

ekspresi material idul fitri

EKSPRESI MATERIAL LEBARAN


Berbicara tentang kedatangan lebaran tentu sangat menarik sekali sebab berbagai cara dilakukan umat Islam dalam merayakan idul fitri. Lebaran identik dengan pulang kampung, mudik lebaran, paket hadiah, gaji ketiga belas, tunjangan hari raya, baju baru, makanan enak dan masih banyak lagi bentuk ekspresi menjelang lebaran. Inilah bentuk ekspresi lahiriyah yang banyak dipahami oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.Berlebaran identik dengan uang dan kehidupan ekonomi yang kesemua kebutuhan rumah tangga harus terpenuhi.

Bila diperhitungkan saja secara matematis untuk menyambut bulan suci ramadhan saja tingkat komsumsi masyarakat sudah cenderung meningkat. Penyambutan lebaran apalagi karena culture masyarakat yang komsumtif, hingga menyebabkan harga kebutuhan pokok meningkat. Ini disebabkan culture yang sudah berkembang dan meyakini bentuk ekspresi tahunan. Padahal tujuan lebaran untuk menjalin tali persaudaraan atau ukhuwah untuk saling memaafkan.Dari bentuk ekspresi tahunan ini dan culture masyarakat yang cenderung komsumtif membuat dunia bisnis perdagangan dan jasa mendapat keuntungan yang besar dari bentuk ekspresi masyarakat ini. Berbagai iklan, promosi dan jasa transportasi dan penggadaian ramai untuk menarik para konsumen.

Sudah kita ketahui bangsa Indonesia mengalami krisis ekonomi dan belum menunjukan pemulihan, malahan diperparah dengan berbagai persoalan. Dari kenaikan bahan bakar minyak (BBM), harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi, kelangkaan minyak tanah dan konversi elpiji yang tidak menjamin kesejahteraan masyarakat. namun tidak mengurangi minat masyarakat untuk mengekspresikan hari lebaran.Hedonistik materialistikManusia hidup tidak terlepas pada etika, norma dan hukum yang berlaku, begitu juga seseorang yang memeluk agama. Budaya masyarakat Indonesia masih rapuh di tingkatan produktifitasnya yang hanya berjalan pada wilayah konsumenisme.

Sejalan dengan pendapat Karl Marx bahwa moral atau sifat manusia ditentukan oleh kondisi ekonomi berupa materi yaitu manusia ditentukan oleh lingkungan yang mempengaruhinya. Sifat manusia sama sekali tidak memiliki daya dan upaya terhadap kondisi lingkungan. Kondisi sekarang menunjukan bahwa kapitalisme telah menjajah manusia yang cenderung bekerja pada wilayah material.Faham Karl Marx sampai sekarang tetap masih hidup walaupun komunisme telah hancur teriring hancurnya Negara Uni Soviet, namun faham tersebut tetap bertahan sampai sekarang yaitu mereka yang disebut dengan “wetensdhappelijke socialism” atau sosialisme ilmu.Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apa hubungan teori Marx terhadap ekspresi lebaran..?.

Karl Marx merupakan seorang keturunan Jerman pada teorinya ini dapat di tarik kesimpulan pemikiran bahwa manusia sebagai budak material berupa masyarakat yang cenderung kapital. Tidak dapat dipungkiri budak material sudah berkembang dinegeri ini sebut saja perebutan kekuasaan oleh elit politi mereka bersaing bahkan menghalalkan segala cara. Paling ironinya yaitu jika lebaran tiba para elit pemerintahan malahan meminta gaji ketiga belas dan parcel yang bernilai jutaan.Padahal rakyat Indonesia masih hidup dibawah garis kemiskinan. Para buruh pabrik yang berkerja dari pagi sampai sore terkadang di gaji tidak sesuai dengan UMR.

Bila diperhitungkan kebutuhan pokok mereka saja belum tentu terpenuhi apa lagi untuk menyambut kedatangan hari raya idul fitri. Seharusnya para elit pilitik menjadi contoh atau suri tauladan bagi rakyatnya, bukanya menuntut tunjangan kesejahteraan. Sebenarnya yang perlu mendapatkan tunjangan sosial yaitu mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan.Inilah manusia telah menjadi budak materi, kekuasaan diperebutkan banyak orang berpolitik menjadi bendera untuk meraih derajat tertinggi dimata manusia lainnya. Begitu juga kekuatan materi menjadi dorongan kuat dalam menguasai nafsu seseorang.

Nafsu untuk saling menindas, rakyat miskin berupaya keras mencari sedikit rizki namun di todong dengan mainan pistol Satpol PP. Sedangkan para petinggi republik ini saling berebut kursi kekuasaan bahkan paling parahnya para wakil rakyat ini bermesraan dengan pasangan selingkuhannya. Sungguh malang negeri ini jika masih dipimpin oleh mental Marx dan jiwa korup yang menjadi pikiran.Mentalitas pemimpin negeri ini sangat kacau jika masih mengikuti ajaran kapitalis berupa penindasan atas nama kesejahteraan dan kemakmuran.

Kita ketahui bahwa kekuatan modal sangat berpengaruh dalam dunia ketiga atau era pasar bebas sebut saja Transnational Corporation (TNC) dan Multinational Corporation (MNC) dan bangsa Indonesia telah terjajah dengan faham kapitalisme global. Mengapa mentalitas pemimpin negeri tidak cenderung keluar dari sarang material dan seksualitas, sedangkan Negara tercinta ini masih saja menjadi budak oleh kekuatan asing.Semua jawabannya yaitu pada kekuatan diri berupa “nafsu”. Nafsu untuk menindas kaum lemah, nafsu untuk menguasai yang bukan haknya. Kekuatan pengendali manusia berupa nafsu inilah yang menjadi senjata ampuh untuk mengikat keinginannya tehadap sifat meteri. Sebab dalam pandangan Marx pengendali manusia berkerja pada wilayah lingkungan yang cenderung kapital.

Maka saatnya seseorang yang mengaku dirinya beriman kepada Allah kembali menata nafsunya. Sesegera mungkin kembali kepada nafsu mutmainah (jiwa yang tenang).

Namun tidak hanya para elit politik saja yang menjadi sorotan tajam namun juga masyarakat pada umumnya. Masyarakat Indonesia sudah mulai tergilas dengan budaya barat yang cenderung materalistik serta culture masyarakat yang lebih mengedepankan sikap hedonistik atau berlebihan dalam menyambut lebaran.Maka hendaklah kesadaran diri mulai dibangun sebab jika sampai sikap materialitik hedonistik melanda sikap mentalitas bangsa, akan membuat bangsa ini lebih sengsara. Saatnyalah menata diri, menjaga hati dan mengekspresikan lebaran dengan semangat kesejahteraan dan kemakmuran, bukannya berebut kekuasaan dan berfoya-foya.
Previous Post
Next Post
Related Posts

1 komentar:

  1. tapi kadang konsumerisme meninggalkan manfaat, meski menyisakan residu dan polusi yang lebih dahsyat! tricle down effect ekonomi memang ada, para pedagang kebanjiran rizki, distribusi pendapatan lebih menyebar! tapi.... sisi negatifnya, kita semua tlah tau!

    BalasHapus