Sabtu, 28 Juni 2008

Kebangkitan Nalar Spiritualitas Di Era Posreligius


Islam merupakan agama kesempurnaan, tidak ada penderitaan, kesusahan dan kesulitan dalam menjalankan kehidupan ini, kecuali seseorang yang telah menganiyaya dirinya sendiri untuk hidup menderita. Setiap umat Islam di perintahkan untuk selalu mendekatkan dirinya dengan Tuhanya sebagai bentuk kehambaan dan tidak memiliki daya dan upaya tanpa kebesaran-Nya. Inilah spiritualitas ajaran suatu agama bahwa di dalam realitasnya manusia tidak hanya memiliki kekuatan material namun juga kekuatan batin. Manusia digambarkan sebagai binatang yang berfikir (hayawanu an natiq) secara subtansial sebagai mahluk materi, pada satu sisi manusia juga sebagai mahluk spiritual yang di karuniai Qalb. Tetapi mengapa manusia mengalami dehumanisasi dan thingking destruction serta kehilangan makna hidup!

Sebuah Realitas Postmodern
Pada realitas hidupnya sekarang ini manusia telah mengalami dilema pada dirinya, diversitas kekuatan diri lenyap karena sekarang ini cenderung berjalan pada wilayah material. Inilah Era postkapitalis yang telah mendukung penyebaran nilai-nilai barat, perubahan sosial dan perilaku keagamaan yang terjadi akibat westernisasi tanpa meyaring nilai-nilai budaya lokal dan ajaran Islam, dimana gaya hidup manusia dengan praktek budaya dan agama sudah mulai tergerus dengan nilai-nilai barat yang begitu sekuler. Pada dekade berikutnya akankah eksistensi manusia bertahan seimbang, dimana globalisasi pasar dengan penyebaran informasi telah menyebarkan faham-faham liberal dengan pendikotomian antara agama dan dunia.

Sistem yang sekarang ini dibangun di setiap negara adalah sistem ekonomi yang hanya berorientasi pada pasar, sehingga setiap kebijakan yang di ambil bertujuan pada kebijakan pasar dunia sehingga tatanan sistem ekonomi dunia lebih condong pada wilayah kapital. Kalaupun perlu di setiap negara yang baru berkembang di tawari program ekonomi, recovery economy, liberalisasi perdaganagan (commerce liberalization), structural adjustment, program yang sebenarnya tidak dapat memulihkan sistem ekonomi suatu negara. Keterlibatan lembaga-lembaga Bretton Wood seperti Bank Dunia (world bank), World Trade Organization (WTO) dan IMF dan kelompok G-7 dalam kehancuran ekonomi negara-negara berkembang dan negara miskin cukup besar. Lembaga yang seharusnya membantu memulihkan kondisi ekonomi suatu negara dengan saluran dana keuangannya, akan tetapi malahan sebaliknya menjadi tangan panjang dari kepentingan-kepentingan ekonomi negara-negara maju terutama Amerika Serikat.

Neoliberalisme dengan struktur kapital telah mendorong secara radikal tatanan pemerintahan negara dari aspek budaya, ekonomi dan politik serta perilaku manusia yang semakin menjauh dari nilai-nilai Islam. Malalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi disebarkan gagasan neoliberalisme yang berakar pada pandangan tentang manusia ideal yaitu manusia rasional liberal dengan tujuan akhir pada individualisme. Pandangan ini didasari atas kepercayaan terhadap kemampuan akal manusia yang dapat mengubah seluruh tatanan alam maupun norma masyarakat.

Suatu hal yang tidak dapat dihilangkan bahwa manusia adalah mahluk dinamis (human balance) sebagai mahluk material dan immaterial. Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri dunia terasa semakin sempit dan fenomena manusia yang telah mengalami dekadensi moral. Perilaku sosial yang terjadi di kemasyarakatan semakin menjadi wabah penyakit yang siap menghancurkan generasi Islam.

Perilaku kehidupan pada era informasi ini juga telah merambah kehidupan domestik di setiap negara yang mayoritas Islam. Maraknya kasus-kasus perceraian, pengunaan obat-obat terlarang, depresi, psikopat, skizofrenia dan bunuh diri yang di sebut oleh Frijof Capra sebagai “penyakit-penyakit peradaban”. Ternyata perkembangan sains dan teknologi yang spektakuler pada abad ke 20 ternyata tidak selalu berkorelasi positif dengan kesejahteraan umat manusia, ini di sebabkan pandangan pemikiran posmodern yang cenderung positivistik.

Pendidikan Spiritual Di Era Posreligus
Postreligus adalah wilayah di manusia telah mengalami kebosanan akibat sistem yang cenderung kapital orientasi duniawi lebih di unggulkan tanpa tahu hakikat kehidupan yang sebenarnya, kebangkitan keagamaan dan rindu akan nilai-nilai spiritualitas. Ungkapan Friedrich Wilhelm Nietzsche “god is dead”, Sigmund Freud “agama adalah candu”, inilah tafsir ulang yang perlu dikaji bahwa agama telah membawa dampak pengkikutnya yang mengalami kelemahan spirit. Akibat benturan peradaban positivistik akibat bangunan epistemologi Decretesian dan Newtonian inilah posmodern telah membawa berbagai dampak untuk melemahkan fungsi dan tujuan manusia hidup. Peradaban kapital yang menempatkan manusia berdasarkan rasionalitasnya dalam berfikir yang membawa efek pada pemikiran yang cenderung pragmatis.

Penyakit-penyakit peradaban akibat epistemologi positivistik yang menimpa manusia pada akhirnya lari dan kembali kepada ajaran agamanya dengan dalih bahwa agama akan menjadikan ketenagan batin akibat dari peradaban kapitalis. Dari sinilah pijakan yang menjadi dasar mengapa manusia mengalami keterasingan dan split personality dan ingin kembali kepada kearifan timur (learning wisdom east).. Maka untuk mewujudkan manusia yang ideal perlu rekonstruksi filosofis dalam menerapakan pendidikan spirutual sebab biar tidak terjadi pendekotomian pendidikan.

Dari berbagai fenomena sistem ekonomi liberal, manusia liberal rasional dan tujuan hidup berorientasi duniawi. Di perlukan paradigma filosifis untuk mewujudkan pendidikan spiritualitas akibat goncangan penyakit peradaban yang telah di alami manusia dan kearifan timur sebagai pencerah cahaya terang dengan landasan bahwa manusia ideal adalah manusia yang mengoptimalkan fitrah dan potensi yang dimiliki, rekonstruksi filosofinya yaitu:
Pertama, landasan epistemologi, manusia di karunia keistimewaan dari mahluk lain berupa nafsu, akal dan hati yang perlu di didik optimal dalam proses pendidikan dengan konsep tauhid yaitu tahuid ulluhiyah, rububiyah, mulkiyah dan rahmaniyah agar memiliki sikap rasional kritis, kreatif, mandiri, bebas dan terbuka, bersikap rasional empirik, obyektif empirik, obyektif matematis dan profesional dengan tetap pada nilai-nilai kekhalifahan individu dan sosial kemasyarakatan. Hubungan tiga dimensi yang selalu satu padu Tuhan, alam dan manusia, tidak ada keterlepasan satu unsur yang akan mengakibatkan kebuntuan dalam menjalankan tanggung jawab dan amanah.

Kedua, landasan ontologik, bahwa sistem liberalisme yang telah mengerogoti sistem kemasyarakatan dan individu yang mengalami depresi rasionalitas. Masyarakat yaitu sekumpulan individu yang terdiri dari berbagai agama, ras, etnis dan budaya yang kemudian di istilahkan dengan pluralistik. Pada dasarnya secara ontologik sistem kemasyarakatan yang pluralistik ini rentan dengan konflik-konflik sosial, karena di dalam tubuh kemasyakatan terdapat keberagaman (internal diversity). Dari sinilah bangunan pendidikan spiritual dapat memfungsikan peran manusia dalam interaksi sosial kemasyarakatan bukan koniksi yang menjadi dasar akan tetapi lebih pada sikap (value) dan perilaku (psikomotorik). Keberagaman merupakan firah maka moral dan etika hidup perlu dijalankan seimbang dan menjalin sikap keterbukaan. Landasan inilah yang akan mendorong manusia unggul di sikap spiritualitas value dan profesionalisme sesuai kaidah moral.

Ketiga, landasan aksiologik. Aspek keberagaman inilah yang akan membangun pondasi peradaban baru dimana tidak ada kesenjagan sosial antara individu satu dan yang lainya, miskin dan kaya. Dalam konteks kehidupan global sikap saling tolong menolong dan toleransi akan membawa kehidupan yang saling membutuhkan bukan seperti sistem kapitalisme dengan memberikan bantuan namun malahan menjadi beban baru pada kondisi ekonomi. Manusia akan mengetahui hak dan kewajibanya serta menghargai hak asasi manusia dan sikap demokratis.

Situasi dunia yang telah di hegemoni oleh kapitalisme, membuat manusia mengalami gejolak batin, penindasan dan keadaan alam yang marah karena dirinya telah dianiyaya. Melalui landasan filosofis diatas akan dapat mengetahui seberapa besar jiwa manusia untuk Tuhanya, alam dan manusia sekitarnya (muamalat). Prinsip persamaan, bahwa Allah telah menciptakan umat yang satu untuk membangun kejahteraan bersama di perlukanlah kesadaran individu dan sosial. Prinsip keadilan ekonomi, bahwa setiap manusia harus mengetahui di mana ia hidup dan siapa disekitarnya, Asghar Ali Engineer menegaskan kepada seseorang untuk memberikan sebagian hartanya kepada orang yang membutuhkan apabila ia telah mampu mencukupi kebutuhan pokoknya. Prinsip pembelaan kaum mustad’afinl, manusia berbudi yaitu manusia yang selalu bersahabat dan dekat dengan kaum lemah (dhuafa) atau kaum tertindas (mustad’afin).

Semoga tercapai untuk membangun kembali manusia-manusia ungul (insan kamil) yang memiliki kelebihan kapasitas spiritualitas dan tidak melupakan aspek intelektualitasnya. Mengetahui fungsi hidupnya bahwa tujuan tertinggi manusia adalah menjadi orang yang bertakwa dekat dengan Tuhannya untuk mendapatkan ridho-Nya. Seyogyanyalah pendidikan spiritualitas diterapakan untuk membagun generasi Islam tanpa diversitas epistemik.
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: