Jumat, 13 Juni 2008

Bolehkah Aku


Bolehkah Aku


bolehkah aku mengatakan

bahwa aku punya cita-cita
namun aku bicara agan saja
karena apakah mungkin
aku sekarang…
tidak duduk di bangku sekolah
bolehkah aku berbicara
bahwa aku punya hak
tetapi itu hanya kenaggan
apakah bisa…
masih banyak orang seperti aku
tidak rasakan nikmat belajar
bolehkah aku bertanya
bahwa aku punya kepentingan
bagaimanapun aku terdiam
mengapa banyak gedung bertingkat
sekedar membaca dan menulis
di bawah jembatan aku menatap


Kembalikan Alam Rayaku
Aku tinggal di negeri republik yang tak aku mengerti
Aku tidak bisa melukis burung dan temannya di awan biru di langit ke tujuh Ingin langit aku jadikan kanvas penuh warna warni layaknya pelangi
Tintanya adalah nyanyian alam yang bersenandung mesra di kehijauan Namun kuasnya telah merusak bulu-bulu halus itu Alamku sudah tak berumur dan tak terhitung waktu Tetapi alamku telah melukai diri dengan panah yang menacap Membuat laut, gunung, air dan batu mulai tak betah untuk tinggal Bayi-bayi berdansa pada angan di ujung derita Ini negeri yang tak dapat di mengerti Keserakahan menjadi idiologi kebenaran tak di hargai Kejahilihan telah muncul di balik bukit Anak-anaknya mulai berkerumun bicara keadilan Di temuinya hanya berpesta pembakaran ikan di pojok sawah Matanya menonton bangkai yang berserakan tanpa nama Gergaji dan pukat telah aus karena di gunkan terus Dan api terus melalap rumahku dan tangisan terus berirama
Dan airpun telah menegelamkan impian indahku Kini alamku sudah bosan dengan riwayat hidupnya Aku berjalan di negeri yang di kelilingi pantai Namun aku temui ombak yang akan menelanku hidup-hidup
Aku langkahkan kakiku ke hutan, ku temui hanya sampah yang berserakan Derai tangis hujan teriakan untuk menghanyutkan Dan para korban menanti bantuan di pengungsian Siapa mengiring gelap dalam pekat bumiku
Mereka yang harus bertangung jawab! Yaitu manusia-manusia yang tak sadara ekologinya Di sini di benarkan di sana di salahkan Tanpa tahu aturan kemerdekaan alam raya Dan mereka telah merusaknya dengan seenak udelnya Bagaimana aku bisa bersajak tentang semestaku Jika mulut dan tanganku di ikat begitu kencangnya
Dan aku berharap alamku kembali seperti sedia kala
Oleh Lukni Maulana (Teater BETA and sanggar ILCI (Ilmu dan Cinata))
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: