Sabtu, 29 Maret 2008

Terima Kasih Iblis

Terima Kasih Iblis


Di desa yang terpencil, namun kini sudah menjadi besar karena ketenaran sang maestro yang merambah dunia politik dan ekonomi. Namun bukan lagi desa, sudah berganti nama menjadi kota yang berpendidikan, kota yang memberikan kesejukan dalam berfikir. Kota yang akan mengantar manusia-manusia bodoh menjadi pintar. Kota yang akan mengantar seseorang meraih cita-citanya.
Terlihat seorang anak muda termenung sendiri di teras masjid.
Di lihat dari postur tubuhnya memang kecil, namun wajahnya begitu bercahaya. Mungkin karena air wudhu telas membasahi mukanya dan kemilau cahaya surga bersemayam pada kerelaanya untuk sujud di hadapan sang maha kuasa. Begitu mempesona, jikalau ada seorang wanita melihatnya maka ia akan terpana memandangnya dan tak akan berdaya akan ketampanannya. Meski tubuhnya kecil tapi kecerdasannya juga sebanding dengan ketampananya.
Ia hanya satu dari laki-laki yang ingin meraih kebahagiaan dari seribu kenikmatan dunia. Namun terliaht dia hanya diam seribu bahasa, bahakan ia memandang langit dan bercengkrama dengan sang awan biru. Dan sesekali tengok kanan kiri, meratapi semua keluh kesah dunia. Apa yang ada di benaknya belum terjawabkan.
Ia tatap air yang mengalir dari kran ditempat perwudhuan, airnya begitu jernih. Kejernihanya melebihi air yang telah banyak menghanyutkan rumah-rumah di sekitar daerah aliaran banjir, ya pastilah jika air banjir memang berwarna kecoklatan berbeda dengan air yang di buat untuk wudhu. Begitu pula air yang membuat orang rela mengeluarkan satu rupiah hanya untuk seteguk minuman.
Dari mulutnya mulai keluar isyarat ”inilah kehidupan ada dua sisi yang berbeda dan semuanya itu ada tanda-tanda bagi mereka yang mau berfikir”. Langitpun juga begitu jika tidak mendung awan akan berwarna biru keputih-putihan, jika mendung datang akan menjadi hitam kegelapan. Baik buruk juga terjadi hubungan timbal balik. Inilah kehidupan ada dua sisi yang selalu bersandingan.
Namun desa kecil ini, kini telah menjadi ramai. Namun sekarang sudah kembali sepi “ada apa di balik kisah taman yang mengajarkan kedewasaan berfikir ini”.
Kota ini adalah kota yang memiliki nilai peradaban tinggi “pesantren dan sekolah telah merubah nasibnya, dulu banyak yang giat untuk mencari ilmu pengetahuan di bidang skill dan agama”
Desa ini telah menjadi kota yang berwibawa dengan tingkat perkembangan barang dan jasa “pesantren dan sekolah memikul beban berat karena dunia pendidikan semakin banyak tuntutan, bagaimana nasibnya besok. Jika para pembesarmu terlena dengan kehidupan yang tidak nyata”.
Kota yang berperadaban yang telah banyak melahirakan ilmuwan dan para cendikiawan serta para ahli dakwah “majlis kebijakan dan hikmah kini lenyap di tengah medan perang. Ia kalah dengan serangan modern dengan anak turunya berupa kesenangan dunia”.
Segudang cita-cita dan harapan ada di daerah kecil ini, sebab desa ini telah banyak berjasa baik di bidang ekonomi maupun politik “desa ini ingin bernyanyi di masjid kasih dan sayang, namun tidak dapat ditemui lantunan sholawat dan ayat-ayat suci, hanya yang terdenggar dengkuran suara untuk merayu kehinaan menuju lembah demokrasi”.
Pertanyaan demi pertanyaan yang tersurat maupun yang tersirat telah di kemas apik oleh pemuda tersebut. Dari mulutnya sudah mulai keluar kata demikata, sepatah kata dua kata dan analisis per kalimat dan anti tesis setiap paragrafnya. Pertanyaannya begitu ringan, namun itu hanya keluh kesahnya yang ia tumpahkan dari lamunanya di teras masjid.
Pemuda itu meningalkan masjid yang memberikan pencerahan hati. Kakinya melangkah pelan namun sangat pasti. Tubuhnya tegap seperti Bima yang membawa garda. Siap untuk jihad dijalan kemenangan demi Allah ia akan menjawab pertanyaanya sendiri.
Dunia telah masuk babak baru, sejarah tetap akan terulang kembali namun dengan versi yang berbeda. Layaknya sebuah drama yang mengikuti perkembangan zaman dengan relasi bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sejarah itu telah muncul di bilik-bilik pesantren dan pendidikan,.syubhat iblis dan setan telah masuk kedunia pesantren dan lorong-lorong pendidikan. Iblis memang tidak pandang bulu, baik itu seorang kiyai, alim ulama ataupun orang dermawan, bahkan ilmuwan maupun para cendikiawaan bahkan orang bodoh.
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Iblis memang tidak maumengakaui kalua kita adalah sang pemimpin umat. Namun kenapa padahal Allah sudah jelas-jelas lebih mengetahui. Apa karena kesombonganya dan keangkuhannya iblis berani menentang Tuhan yang telah menciptakannya. Iblis merasa sombang bahwa ia lebih baik dari manusia, karena ia tercipta dari api sedangkan manusia hanya tercipta dari tanah. Memang di akui jika api membakar tanah maka tanah akan menjadi batu yang mudah di hancurkan.
Inilah episode kekuasaan zaman jahiliah. Semoga guru dan yang telah mengajarkan aku satu ilmu tidak merasa angkuh dan takabur atas kelebihannya. Semoga juga guruku tahu, tidak hanya dia yang akan masuk surga, namun barang siapa mati dengan keadaan Islam dan beriman pasti Allah akan menerima di sisinya.
Ini memang drama klasik. Yang di pertontonkan dengan gaya unik. Banyak orang bertasbih dan bermunajat demi cinta, namun hanya untuk mengharap satu kekuasaan dunia bukan kekuasaan yang membawa diri untuk mendekat kepada sang khalik.
Ini bukan roamn picisan yang di buat-buat hanya untuk kepentingan sesaat, namun ini hanya kisah baru yang di bumbui dengan aroma kepuasan. Banyak manusia mengorbankan hartanya bukan untuk di jalan Allah namun hanya untuk berkampanye dengan dalih sedekah.
Terima kasih iblis engkau telah berkorban demi keangkuhanmu. Dengan keangkuhanmu itu kami akhirnya dapat turun ke dunia melui kaek moyang kami nabi Adam karena bujuk rayumu untuk memakan buah kuldi. Inilah tanda-tanda bagi mereka yang mepunyai akal pikir. Seandainya Adam tidak turun ke dunia mungkin kisah akan menjadi lain. Dan semua hanya Allah yang mengetahui sekenario dunia.
Namun aku tetap berterima kasih kepada iblis, seyogyanya, jika waktu itu iblis bertaubat. Tentu kejadian di dunia akan lain. Tidak ada yang akan mengangu manusia untuk beribadah. Siapa lagi kalau bukan setan, kita menyaksikan anatara kebaikan dan keburukan, karena adanya sang iblis. Malaikat yang ada di kanan kiri kita, juga akan mendapatkan tugas sebagaimana mestinya, tidak hanya berzikir semata.
Terima kasih iblis karena engkau telah mengkorbankan dirimu, hanya untuk manusia lugu yang tidak punya malu. Yang hanya mengejar kenikmatan dunia. Harta di tumpuk-tumpuk serta di hamburkan-hamburkan tak berguna. Hidup berfoya-foya karena musik kejahilan melanda otak pikirnya.
Terima kasih iblis engkau juga telah turun kedunia uantuk bersaing menjadi khalifah di muka bumi ini. Namun kepemimpinanmu membuat rakayat sengsara. Kekuasaan jadi rebutan dan kursi jabatan menjadi incaran serta kepuasan jadi jargon kehidupan.
Hai…iblis engkau telah bersemayam di hati para pemimpin-pemimpinku baik dari golongan para ulama maupun keturunan pebisnis hinga keturunan ningrat.
“Namun aku berpesan padamu, hanya Allah yang maha tahu”.
Pemuda itu telah samapai dikamarnya, ia rebahkan tubuhnya dilantai, matanya merayu mimpi untuk kembali menjalani hidup yang berarti. Dan desa terpencil, kini semakin terkucilkan.
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: