Jumat, 22 Februari 2008

PENDIDKAN RABBANI MENUJU KEMANDIRIAN UMAT











PENDIDKAN RABBANI MENUJU KEMANDIRIAN UMAT
Oleh: Lukni Maulana



"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya (syaithan) itu musuh yang nyata bagimu". (QS. al Baqarah: 208)
Umat Islam merupakan umat yang memiliki karakteristik berbeda dari pada agama samawi lainnya. Islam adalah agama yang di ridhoi sebagai agama akhir zaman dan telah di jadikan sempurna al-Qur’an sebagai petunjuk umat manusia. Setiap umat Islam wajib berusaha mencapai kesempurnaan dan kemajuan baik di bidang jasmani maupun ruhani, material dan spiritual, sebab masa depan menurut Allah terletak pada sukses atau tidaknya dalam perjalanan hidup. Manusia mempunyai peran kekhalifahan di bumi ini untuk memakmurkan dan membudidayakan, sekaligus melestarikan serta berusaha menjaga keseimbangan lingkungan. Sedangkan peran sebagai abdillah untuk selalu mendekatkan diri dan beribadah sesuai dengan wahyu yang di terima oleh nabi Muhammad sebagai petunjuk menuju jalan keselamatan.
Di era globalisasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa manusia dalam kemudahan. Ilmu yang telah di gelar oleh Allah lewat ayat-ayat-Nya (qouliyah dan kauniyah) memang dipersiapkan oleh Allah sesuai dengan fitrah manusia artinya memenuhi dorongan asasi manusia yaitu keingintahuan (curiosity) terhadap segala sesuatu (realitas). Namun dalam sejarah perkembanganya menuju era post modern ini, umat Islam kehilangan jati dirinya, hidup dalam kungkungan keresahan, keterbelakangan dan kehinaan. Uamt Islam mengalami krisis ekonomi, politik hingga krisis yang mempengaruhi kehidupan normalnya yaitu krisis ahklak. Hingga menyebabkan krisis multi dimensional di tubuh umat Islam itu sendiri.
Apabila kita berfikir sejenak, kondisi umat saat ini, umumnya umat Islam di seluruh dunia dan pada khususnya di Indonesia, banyak fenomena yang menyelimuti pondasi umat Islam dan membuat hati kita menjadi miris karena keresahan tersebut. Di karuniai kekayaan alam yang berlimpah, tanah yang subur dan makmur namun kondisi perekonomian bangsa masih saja berada pada posisi yang tidak menggembirakan. Krisis BBM, pengalihan minyak ke elpiji namun krisis bahan bakar masih sering terjadi padahal kita adalah negara yang termasuk anggota tua dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Negara yang sebagian besar penduduknya bekerja di bidang pertanian ini, di tengah-tengah stabilnya produksi beras dalam negeri, bergulir impor beras, impor kedelai dan bahkan susu. Padahal Indonesia yang nota bene berkerja pada wilayah agraris atau pertanian dan perternakan. Kini umat Islam semakin sulit untuk bernafas karena terjepit dengan kebutuhan.
Banyak krisis yang di alami dan bahkan bencana yang silih berganti banjir, tanah longsor, tsunami, gunung meletus. Umat Islam kehilangan sebagian tempat inggal, harta benda, dan umat Islam hidup dalam kegelisahan dan ketakutan. Inilah krisis yang ada di tubuh umat Islam, namun yang perlu menjadi perhatian adalah umat Islam masih mengidap penyakit lemah dalm berkeyakinan dan penyakit moral. Jika penyakit tersebut belum juga menjadi pokok untuk memberantasnya maka kita tinggal menunggu kehancuran umat Islam. Tidak dapat di ragukan lagi daerah kekuasaan umta Islam akan di kuasai oleh kolonialisme baru. Oleh karena itu seyogyanya uamt Islam untuk mengintropeksi diri menuju keharibaan Allah. Menuju jalan yang benar yaitu tali agama Allah.
The end of neoliberalism
Pasca perang dunia kedua sekitar tahuan 1970-an, memasuki abad modern mulai ada canaggan untuk menerapkan system pasar bebas, sebuah konsep yang telah di anut oleh negara-negara adi daya seperti Amerika Serikat dan Inggris. Di sebabkan karena sistem sebelumnya membuat depresi sistem ekonomi negara maka munculah kebijakan di bidang ekonomi berupa neo liberalisme. Negeri umat islapun tidak dapat di pungkiri akan kenak damapk dari pasar bebas, kebebasan tiada batas di aspek bidang baik ekonomi maupun teknologi. Liberalismepun akhirnya menyerang ke negara lain termasuk Indonesia dengan adanya kesepakatan "The Bretton Woods" di Amerika. Dari kesepakatan ini maka berdirilah IMF (International Monetery Fund) dan bank dunia (world bank), serta menuntut dunia ketiga yang turut menandatangani untuk mereformasi kebijakan nasionalnya.
Neoliberalisme telah mengubah secara radikal tatanan budaya, ekonomi dan politik serta perilaku manusia yang semakin menjauh dari nilai-nilai Islam. Malalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi disebarkan gagasan neoliberalisme yang berakar pada pandangan tentang manusia ideal yaitu manusia rasional liberal dengan tujuan akhir pada individualisme. Pandangan ini didasari atas kepercayaan terhadap kemampuan akal manusia yang dapat mengubah seluruh tatanan alam maupun norma masyarakat.
Memang banyak faktor yang melatarbelakangi terjadinya fenomena seperti disebutkan di atas, namun ada satu poin penting yang dapat disimpulkan, yakni umat ini masih belum mandiri, umat ini masih senang mencari penyelesaian instan dengan bergantung kepada pihak lain. Lihat saja, ketika kita mencari tahu siapa yang melakukan eksplorasi terhadap kekayaan migas kita, tentu kita akan menemukan nama-nama perusahaan seperti Exxon Mobil, Total, Vico, Schlumberger, atau Inpex mendominasi. Peran BUMN seperti Pertamina nampaknya masih terbatas pada teknologi penyulingan serta pendistribusian produk. Juga dalam menangani krisis moneter yang membawa pada krisis ekonomi bangsa, para pengambil kebijakan di negeri ini masih ragu atau takut untuk keluar dari tekanan IMF. Menyedihkan sekali jika umat Islam masih bergantung pada negara barat.
Secara tegas umat Islam adalah bangsa yang memiliki kearifan dari timur mengapa harus menjadi bagian dari kolonialisme barat. Umat Islam memerlukan tekad untuk berubah sebab umat Islami belum memiliki tekad dan mental kuat untuk mandiri dalam mengurusi bangsanya. Padahal, sesungguhnya kemandirian itu sendiri merupakan salah satu ciri umat Islam. Allah SWT telah mengajarkan kepada kita, kita umat Islam tidak boleh bergantung pada negara adi daya, IMF maupun bank dunia dalam ajaran Islam. Umat Islam hanya boleh di ijinkan bergantung hanya kepada Allah semata.
"Allah adalah tuhan yang bergantung kepada-nya segala sesuatu". (QS. al Ikhlas: 2)
Pendidikan rabbani
Kondisi umat sudah begitu menguatirkan maka terlepas dari itu semua untuk segera memperbaiki diri salah satunya dengan pendidikan rabbani. Sebab umat Islam sendiri belum mampu menemukan jati dirinya, bingung pada keyakinannya dan bimbang pada krisis yang di alami. Maka perlu adanya jiwa kesadaran dalam mengimplementasikan nilai ajaran Islam dalam kehidupan secara kaffah dan berusaha mengamalkan ajaran yang di bawa nabi Muhammad dengan sungguh hati.
Pendidikan rabbani dimaksudkan agar manusia di didik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana digariskan Allah. Tujuan itu adalah beribadah kepada Allah dalam pengertian yang komprehensif, ritual dan sosial. Konsep ibadah itu harus global yang mengisyaratkan dua komitmen yang harus di realisasikan dalam praktek pendidikan rabbani, yaitu dimensi dialektikan horizontal dan dimensi ketundukan vertikal. Pada dimensi dialektika horizontal, pendidikan rabbani hendaknya mampu mengembangkan realitas kehidupan dan dimensi ketundukan vertikal mengisyaratkan bahwa pendidikan rabbani haruslah mengantarkan manusia mencapai hubungan yang abadi dengan khaliqnya.
Tujuan umat Islam merupakan penyerahan diri atau menghamba kepada realitas absolut yang termanifestasikan dalam konsep ibadah, dalam al Qur’an di sebutkan:
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku". (QS. adz Dzariat: 56).
Kesempurnaan menjadi tujuan umum yang tunggal yaitu memainkan dua peran sebagai abdillah dan khalifah. Semua itu dapat di capai dengan usaha yang sempurna pula serta malalui penyerahan diri yang ikhlas dalam memainkan kedua peran tersebut serta ketika ajal menjemput ia masih keadaan Islam.
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan berserah diri (Islam). (QS. ali Imron: 102)
Umat Islam di perintahkan Allah untuk memeprtahankan keribadian Islam yang melekat pada keyakinan hidupnya. Kesadaran untuk kembali mengIslamisasikan dirinya kembali kembali ke jalan yang di ridhoi Allah dan menyadiri peran kekhalifahan di dunia.
Pendidikan merupakan kebutuhan mutlak yang harus terpenuhi, karena pendidikan bagi kehidupan manusia adalah untuk membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan. Semua dapat diraih dengan usaha dan doa yang semaksimal mungkin, dengan proses panjang secara bertahap dan sistematis berdasarkan perencanaan yang kuat untuk mencapai apa yang di inginkan sesuai tujuan. Sebab pendidikan berupaya mewujudkan generasi yang berakhlakul karimah sesuai dengan tutntunan jaran Islam. Manusia memiliki jiwa yang terkadang cenderung dalam kebaikan dan keburukan, maka jika ia terdidik di dalam arah yang baik barang tentu hidupnya kan mendapakan manfaat dan berkah.
Aspek pendidikan rabbani yaitu upaya untuk menumbuhkan kecerdasan yang koprehensif atau kecerdasan yang menyeluruh aspek potensi manusia baik dari aspek kognitif, emosional dan spiritual. Pendidikan rabbani di maksudkan untuk memberi bekal kepada manusia melalui kesadaran diri terdahulu. Pertama, kecerdasan mengenali diri yaitu mengetahui potensi jiwa, berupa jiwa selalu menyuruh kepada kebaikan dan keburukan,, menyesal, tenang, berubah-ubah dan lain sebagainya. Dengan kecerdasan spiritual ini seorang muslim dapat mengetahuai antara yang baik dan buruk berdasarkan kehendak hati yang di terangi cahaya keimanan. Kedua, kecerdasan akliyah yaitu umat Islam supaya menyadari akan kebutuhan ilmu pengetahuan untuk bekal di dunia, pemahaman pengetahuan Islam, umum dan modern. Umat Islam membutuhkan pakar-pakar ilmu pengetahuan di berbagai bidang untuk mengejar ketertingalan dalam bidang teknologi maupun informatika. Sistem Islam memang sempurna akan tetapi perlu di dorong supaya sistem itu dapat termanifestasikan maka umat Islam layak mendapatkan ilmu pengetahuan yang universal. Pendidikan rabbani aspek akliyah untuk mewujudkan manusia-manusia mukmin yang mutsaqaf, berpengetahuan di berbagai bidang. Ketiga, kecerdasan emosional, supaya umat Islam mampu berkomunikasi dengan baik dan berinteraksi dengan masyarakat serta mampu mengembangakan menuju ke arah amaliyah untuk selalu berjuang menegakan Islam menuju ke tingkat yang lebih mulya. Berjihad melawan semua penindasan yang terjadi selama ini dan mampu mengaktualisasikan guna mewujudkan masyarakat madani.
Menuju kemandirian umat
Melalui pendidikan rabbani di harapkan uamt Islam memiliki multiple intlegence. Umat Islam yang memiliki kecerdasan utuh akan mampu meiliki jiwa entrepreneurship. Sebab dengan mengoptimalkan kecerdasan tersebut, ia akan lebih berpeluang untuk mencapai kesuksesan. Sosok manusia yang beragama Islam semacam ini yang di perlukan guna membangun masyarakat entrepreneur di seluruh masyarakat Islam. Jiwa entrepreneur yang memiliki kecerdasan optimal akan berfikir kritis dan mengangap semua hal adalah peluang yang dapat menghasilkan kemanfaatan.
Maka seorang yang memiliki jiwa entrepreneur itu juga harus tetap jeli untuk memanfaatkan potensi yang di miliki. Sebaliknya jika umat Islam tidak mampu memanfatkna potensinya ia sulit sekali untuk berhasil. Kepekaan emosi dan spiritual akan mampu mensugesti pikiran dan mengangap semua hal adalah perubahan menuju yang lebih berarti. Setiap potensi manusia di pengaruhi dua hal di dalam jiwanya, jiwa yang memimpin untuk keburukan dan jiwa yang memimpin untuk kebaikan. Sementara akal di pengaruhi oleh lingkungan masyarakat dan individu pribadi muslim serta budaya yang berlaku. Inilah yang patut di pahami bahwa umat Islam harus mampu berinterkasi dari potensinya untuk mendorong kemandiran.
Faktor keberhasilan umat Islam untuk mandiri bukan semata-mata di tentulkan oleh faktor pendidikan formal ataupun hanya melibatkan kecerdasan intelektual saja akan tetapi seluruh aspek kecerdasan. Tidak ada gunanya jika umat Islam hanya diam dan merenung menunggu emas jatuh dari langit, yang di perlukan sekarang adalah berusaha dan berdoa.
Dalam banyak hal, umat Islam hendaknya mempunyai sikap mental mandiri yang harus di miliki dalam menumbuhkan kemandirian. Hal-hal yang perlu di lakukan umat Islam hendaknya. Pertama, menumbuhkan kesadaran kolektif secara individual untuk tercapainya semangat dalam mengoptimalkan peran kecedarasan. Kedua, dengan menghilangkan sikap ketergantungan kepada pihak-pihak lain semacam bantuan utang luar negeri, IMF, world bank. Ketiga, menghilangkan jiwa yang lemah, umat Islam harus memiliki jiwa dan watak yang kuat dan juga sifat malas harus di hilangkan. Karena Islam sangat menghargai orang yang tekun dan ulet dalam berkerja dan tidak mudah untuk bergantung pada pemberian orang lain, lebih baik tangan di atas dari pada tangan di bawah. Nabi Muhammad sendiri menyontohkan seperti hadis berikut ini:
"Seseorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk di jual dan uangnya di gunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya, maka itu lebih baik dari seseorang yang meminta-minta kepada orang yang terkadang diberi dan kadang di tolak". (HR. Bukhari dan Muslim)
Manusia setidaknya jangan sekali-kali bergantung pada pemberian orang lain. Mental seperti inilah yang mencundangi umat Islam dalam keterpurukan kemiskinan dunia. bersegeralah menuju pemikiran yang progresif.
Para sahabat rosul yang memiliki kelebihan dan memberikan suri tauladan yang baik pernah mencontohkan atau memberikan pelajaranya mengenai sikap mengilangkan ketergantungan. Ketika kaum muslim hijrah dari Makkah ke Madinah, mereka di hadapakan dengan persoalan air bersih. Sedangkan di sana ada sebuah sumur, namun sumur tersebut di kuasai oleh seseorang Yahudi dan ia memperdagangkanya. Rasulullah saat itu sangat berharap dari golongan kaum muslim ada yang mau membeli air dari sumur tersebut. Rasulullah tidak menghendaki apabila air bersih yang merupakan kebutuhan hidup umat, di monopoli oleh orang Yahudi. Ketika itu pula sahabat Utsman bin Affan, membeli separuh sumur tersebut dengan sehari untuknya dan sehari untuk orang Yahudi tersebut. Sehingga dikisahkan bahwa kaum muslim dapat memanfatkan air sepuas mereka pada giliran Utsman mengambil haknya.
Memang dapat di akui untuk menghilangkan sikap ketergantungan pada orang lain sangat sulit, maka di perlukan sikap yang kuat dalam mendorong semua keinginan dan nafsu bergantung pada orang lain. Para penjajah baru atau kolonial tidak akan membiarkan jajahanya untuk mandiri, mereka akan selalu menginterfensi tanah jajahannya. Tekanan dari luar memang sangat menyakitkan dan terkadang sampai membuat umat Islam tidak dapat berdaya. Inilah resiko yang harus di ambil, sebab ketergantungan adalah hal yang paling hina. Ini pula yang menyebabakan budaya malas merasuki umat Islam pada umumnya.
Untuk melawan pihak asing, maka umat Islam harus memiliki jiwa entrepreneur dengan semangat perubahan dan menghilangkan sifat lemah dan malas. Allah sendiri telah berfirman bahwa uamt Islam di larang memiliki jiwa yang lemah.
"Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (kamu) bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman". (QS. ali Imran: 139)
Untuk mengatasi jiwa yang lemah yang berakibat pada sifat malas, angkuh dan cepat mudah marah Rasulullah telah mengajarkan kepada uamt Islam untuk selalu berdoa kepada Allah untuk mengatasi sifat yang tidak patut di miliki. Untuk mengatasi berbagai masalah yang melanda umat Islam saat ini, sudah saatnya berupaya keras dengan kekuatan sendiri dan tidak terlalu mengandalkan ketergantungan dari pihak asing.
Kemandirian ekonomi umat
Paradigma pemberdayaan ekonomi umat tentunya dengan paradigma yang lebih mendidik dan tidak hanya ketergantungan terhadap bantuan asing. Ketergantungan dari pihak asing akan menghancurkan kearifan dari timur, umat Islam adalah umat yang memiliki kebijaksanaan mandiri. Dalam wacana publik perlu tiga tahap dalam pemberdayaan ekonomi umat, diharapkan akan lebih baik. Tahap pertama, membangun kembali jiwa entrepreneurship dan tidak bergantung kepada asing. Tahap kedua, dilihat dari aspek ekonomi, produksi di Negara-negara Islam sangant baik dan produktif seperti minyak kebanyakan dari negeri arab sebagai eksportir, kekayaan laut yang begitu melimpah, kekayaan darat baik perternakan maupun pertanian sangat potensial. Tahap ini upaya bagaimana memulihkan sistem ekonomi yang ada di Negara Islam melalui melihat secara sistematis potensi yang di miliki. Tahap ketiga, dengan pembangunan jangka pendek dan panjang. Tahap ini di tandai dengan rekonstruksi ekonomi melalui percepatan pertumbuhan produksi. Begitu besar kekayaan yang di miliki umat Islam sebenarnya namun kita uamt Islam hanya bisa melihat dan tidak merasakannya. Sebab penindasan kaum asing yang selalu mengintervensi maka saatnya umat Islam untuk sadar diri.
Hendaknya penguasa di negeri muslim mengambil kebijakan yang serius baik di sektor pangan maupun migas. Batalkan segera untuk mengimpor minyak bumi, beras, kedelai maupun bahan pokok lainya, berasumsilah bahwa kita sudah cukup untuk memenuhi internal Negara. Para ilmuwan, politikus, ekonom maupun masyarakat pada umumnya, jangan pernah lelah untuk berfikir maju marilah selalu berkarya dan menguasai teknologi dalam rangka untuk mengelolah kekayaan alam yang telah di anugerahkan Allah kepada kita. Memakmurkan bumi adalah amanah kita untuk mempertangung jawabkannya besok kepada Allah. Bangun kembali paradigma progresif, mengambil semua peluang, berfikir kritis dan ilmuwan dapat menciptakan penemuan baru baik di bidang teknologi maupun pangan.
Untuk umat Islam di dunia, marilah untuk selalu bahu membahu dalam tolong menolog karena nafas Islam sangat mengahargai sikap saling tolong menolong dan bantu membantu. Tidak lupa kita tunaikan rukun Islam yang ketiga yaitu zakat. Menunaikan zakat berarti termasuk upaya membangun kemandirian ekonomi umat, sebab dengan mengeluarkan zakat kita berarti telah membersihkan hati dan harta benda yang kita miliki. Potensi zakat umat Islam sanga melimpah, karena itu perlu penaganan yang profesional dan terorganisir. Hendaknya zakat jangan berupa barang jadi maupun yang cepat habis jika di gunakan. Tetapi zakat yang baik jika kita mampu memanfaatkannya dengan memberikan bekal ekonomi dalam artian bahwa zakat itu hidup dan dapat menghasilkan. Semisal zakat yang terkumpul di belikan sapi ataupun kambing dan kemudian orang yang lemah ekonominya di berikan untuk mengelolanya dan hasilnya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, setelah menghasilkan beranak pinak, gantian masyarakt lain yang membutuhkannya.
Dengan sikap kemandirian yang sejati, umat Islam mampu untuk tidak lagi bergantung kepada pihak asing.
"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri". (QS. ar Rad: 11)
Pendidikan rabbani adalah upaya membangun pribadi yang kaffah dengan nyanyian Islam dari dalam keyakinanya untuk membangun jiwa entrpreneur guna mewujudkan umat Islam yang mandiri. Maka kolonialisme dengan anak turunnya neoliberalisme akan mengalami pasang surut dan pada akhirnya sistem tersebut tergantikan dengan sistem Islam yang kaffah.

Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: