Selasa, 29 Januari 2008

KECERDASAN EMOSIONAL



KECERDASAN EMOSIONAL;
Sebuah Kajian Peneduh Jiwa
(Self And Social Quantum)
Di era post modern, manusia mengalami berbagai kepentingan hingga ia lupa kehidupan bermasyarakat hanya memikirkan kehidupan pribadi untuk memenuhi semua kepuasan hatinya. Manusia adalah sesosok hewan yang unik, di karuniai akal yang membedakan dengan binatang lainya, maka manusia di sebut sebagai al hayawanu an natiq atau hewan yang berfikir dan manusia juga di sebut sebagai homo socius atau binatang yang berinteraksi dengan manusia lainya. Maka tak heran jika berbagai persoalan yang terkait dengan kepuasan pribadi selalu nampak.
Perilaku kehidupan pada era globalisasi dengan anak turunya neo liberalisme telah memasuki kehidupan personal dengan berbagai tawaran kenikamatan dan kepuasan berupa produk-produk yang di tawarkan. Bahkan sampai pada kehidupan domestik di antaranya kesenjangan antara miskin dan kaya, orang-orang miskin merasa termarjinalkan oleh kehidupan kota yang sangat kejam dan orang kaya menjadi penguasa. Maraknya kasus-kasus perceraian, pengunaan obat-obat terlarang, depresi, psikopat, skizofrenia, bunuh diri samapi tawuran antar sekolah dan kleptomania, kesemuanya ini dalam istilah yang di pakai oleh Frijof Capra sebagai “penyakit-penyakit peradaban”.
Inilah fenomena di zaman akhir, yang mengatasnamakan era ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai kekuatan baru. Dengan hadirnya teknologi, jarak menjadi dekat segala hal lebih mudah di dapatkan baik berupa informasi, berita hinga daftar belajaan. Ilmu pengetahuan juga telah menyebarkan virusnya, perkembanganya tak ada batasnya. Penemuan dari evolusi Darwin hingga samapai kloning manusia. Kesadaran manusia semakin hilang di telan waktu akibat seriusnya dalam menjalani penelitiannya di observatorium hingga lupa batas-batas nilai, maka tak heran jika ilmu pengetahuan sekarang di bilang bebas nilai (value free). Inilah dunia baru di mana semua lebih mudah di dapatkan, siapa yang ketingalan maka ia akan terpuruk menjadi manusia yang terkucilkan.
Ternyata perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu dasyat pada zaman baru ternyata tidak selalu berkorelasi positif dengan kesejahteraan umat manusia. Di sebabkan karena paradigma yang di pakai masih mengikuti trend modern yaitu penggunaan paradigma Cartesian dan Newtonian, gaya berfikir yang positivistic di mana posisi akal dan science natural berkembang pada ranah empiris, tanpa mengetahui potensi manusia secara koprehensif.
Pengaruh tersebut sangat menghantui kondisi umat manusia telah mengalami dekadensi moral, kondisi ini masih terpaku pada emosinya, akibatnya terjadi gerakan korupsi, stress, perampokan dan bahkan pembunuhan. Sedangkan kekuatan emosi sebagai wahana memaksimalkan fitrah manusia yang memiliki kekuatan, memposisikan manusia untuk memanusiakan dan memposisikan manusia atas keserasian dengan habitat ekologisnya.
Kecerdasan emosional pertama kali di perkenalkan oleh Daniel golemen, semenjak di terbitkanya buku “emotional intelligence” dan kecerdasan emosional mulai di kenal luas sekitar pertengahan tahun 90-an. Menurut Daniel golemen kecerdasan emosional (emotional intelligence), kemampuan untuk mengenali perasaan diri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi, mengelola emosi dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Dalam artian ketika mampu menggunakan kemampuan emosional seseorang akan mampu menghargai diri sendiri dan orang lain.
Di dunia pendidikan di kenal pula dua macam kecerdasan selain kecerdasn emosional yaitu kecerdasan intelektual yang berpusat pada otak kiri yang merangkai pengetahuan dan kemampuan kognitif secara verbal dan kecerdasan spiritual, kecerdasan yang berpusat pada otak bawah sadar bertumpu pada kearifan di luar ego untuk membangun kesadaran kolektif guna membangun jiwa yang kreatif.
Kecerdasan emosional mencakup lima (5) wilayah yaitu:
kesadaran diri
pengaturan diri
motivasi
empati dan
keterampilan sosial
Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional akan mengalami keterbukaan dalam berfikir, ia akan lebih cermat dan teliti dan kesempatan untuk mencapai keberhasilan jauh lebih berpeluang dari pada orang yang memiliki kecerdasn intelektual. Jika dapat memanfaatkan kecerdasan emosional seseorang akan jauh mengerti akan kehidupan dan ia tak akan terkucilkan dari kehidupan bermasyarakat sebab kecerdasan emosi berpusat pada diri untuk mengenali orang lain di sekitar lingkungannya.
Kesadaran kuantum untuk mengenali diri, siapa diri kita sebenarnya!. Kita adalah manusia yang terlahir ke dunia dengan keadaan suci dan kesucian itu akan ternoda jika seseorang tidak berjalan pada jalur yang benar. Ibarat air yang mengalir dengan kejernihanya akan tetapi perjalanan panjang terkadang air itu terkenak kotoran yang ia lalui di jalan. Kesadaran diri adalah kemampuan untuk mengenali diri, dapat membedakan antara yang baik dan buruk antara yang benar dan batil. Otak akan selalu berfikir dan kekuatan emosi itu di rangsang dengan kekuatan otak jika otak berfikir negative maka emosi akan membaca negative pula. Maka pengaruhilah otak dengan hal yang baik, sebab stimulus dari cara berfikir menentukan kadar emosi seseorang.
Otak juga perlu istirahat, jangan sampai otak merangsang hal-hal yang buruk. Oleh sebab itu otak juga memperlukan hiburan semisal dengan melakukan tidur secukupnya untuk menenagkan pikiran atau dengan melihat sesuatu yang indah, berwisata yang dapat membawa otak terasa fress. Seyogyanya kekuatan otak lebih dasyat dari pada kekuatan tubuh kita, hargailah otakmu sebelum otakmu akan menghancurkan dirimu sendiri.
Setelah manusia mampu mengenali kesadaranya sendiri ia akan mampu untuk mengatur diri dalam artian kesadaran diri akan berpengaruh pada pengaturan diri untuk mencari hal yang bermanfaat. Pengaturan diri di mulai dari hal terkecil semisal mandi dengan teratur, disiplin diri, makan tepat waktu untuk menjaga kesehatan karena gizi berpengaruh konstant dengan otak sebagai media berfikir. Seperti kita ketahu pengaturan emosi sangat di butuhkan terkadang kita marah sampai tak terkontrol maka pengaturan emosi itulah yang berperan bagaimana kita mampu menjaga kedasyatan emosi.
Kenyataannya jika seseorang tak mampu mengontrol emosi akan berpengaruf negative, seperti mudah marah, stress menjadi orang pemalas. Tentu ada baiknya aturlah emosional kita untuk menghormati emosi dengan selalu mendekatkan diri kepada sang khalik dan mintalah petunjuk kepadaNya untuk membangun jiwa yang tenang, selain usaha untuk bisa membangun perasaan diri.
Motivasi merupakan kekuatan yang tersembunyi di balik kekuatan pikiran dan tubuh, karena motivasi di bangun atas kesadaran diri dan pengaturan diri. Adanya motivasi sesorang mampu berbuat yang terbaik, contoh untuk menjadi pintar maka ia akan mampu memotivasi diri untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Motivasi adalah kemampuan bawah sadar yang terletak untuk membangun kesadan kolektif menuju kemampuan untuk melakukan hal yang lebih berarti.
Empati dan keterampilan sosial adalah di mana seseorang mampu menghargai diri sendiri dan menghargai orang lain dan barulah ia mengharap untuk bisa di hargai. Empati di pengaruhi dari dalam diri yaitu jika seseorang mampu mengenali seseorang dengan baik maka rasa simpati yang di dapatnya akan lebih berarti, semisal ketika kita melihat seseorang berprestasi maka kita kan merasa banga dan memberikan ucapan selamat bukanya malah kita iri dan dengki kepadanya, sikap menghargai orang lain itulah yang akan memotivasi diri kita untuk lebih berprestasi
Keterampilan sosial adalah ketika kita mampu cakap dalam mengahadapi masalah sosial dan kita mampu berinteraksi dengan sepenuh hati bukan melukai persaan orang lain. Dunia butuh ketrampilan sosial karena sikap atau nilai sangat berarti, sebab sikap saling tolong menolong, membantu dalam hal kebaikan serta toleransi itulah yang di butuhkan dalam bermasyarakat. Keterampilan sosial bukan datang secara alami tetapi melalui pembelajaran.
KALENG
Aku hidup di kaleng kosong
Aku sembunyi di dalamnya
Aku tak tahu di mana dunia itu
Aku belaum pernah lalui canda dan tawa
Aku ingin keluar dari dalamnnya
Ingin mengetahui impian dan harapan
Hargailah aku, karena aku belum tahu
Aku akan belajar darinya
23/12/07 (11.33)
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: