Sabtu, 22 April 2017

Menjadi Kartini Multikultural di Era Media Sosial

Cover Buku Digital Ilustration oleh Lukni Maulana
RA KARTINI sosok wanita yang mampu mendorong dan pengemban tradisi untuk menuntun para wanita lebih maju. Ia mampu membangkitkan semangat perempuan untuk dapat diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam berkiprah dibidang pendidikan maupun sosial kemasyarakatan, sebab era itu sistem patriarki sangat kuat. Sebagaimana surat Kartini kepada Non Zeehandelaar pada tanggal 25 Mei 1899: “Kami, gadis-gadis masih terantai kepada adat istiadat lama, hanya sedikitlah memperoleh bahagia dari kemajuan pengajaran itu.  Kami anak perempuan pergi ke sekolah, ke luar rumah tiap-tiap hari, demikian itu saja sudah dikatakan amat melanggar adat.”

Bagaimana memaknai hal tersebut di era digital ditandai dengan menyebarnya beragam media sosial mulai dari facebook, twitter, BBM, whatshap, instagram, line dll?. Sosok RA Kartini di era digital pemikirannya perlu hadir kembali untuk mendobrak tata nilai dalam memanfaatkan perubahan dasar teknologi komunikasi tersebut. Tidak hanya sekadar peringatan hari kartini dengan beragam kegiatan, namun bagaimana mampu memanfaatkan jejaring sosial? Mengapa diperlukan media jejaring sosial sebagai jejaring para kartini untuk berkiprah?


Menjadi Kartini di era digital harus mampu memanfaatkan hal tersebut dengan baik dan wajar. Media sosial dapat dimanfaatkan untuk tempat curhat, diary, jejaring komunikasi antar komunitas hingga mencari hasil financial. Hal tersebut tergantung bagaimana para kartini memaknai, memanfaatkan, dan memfungsikan jejaring sosial.


Namun alangkah baiknya jika media jejaring sosial sebagai salah satu media untuk menjalin hubungan jejaring antar kartini yang berada di pelosok Indonesia, atau bahkan para kartini di luar negeri. Untuk membangun komunikasi, persaudaraan, dan menciptakan arus pemikiran. Sehingga terjalin hubungan multikultural.


Hubungan berwawasan multikultural sebagai bentuk reaksi atas maraknya pemberitaan saat ini yakni adanya aksi kekerasan dan konflik yang dipicu oleh perbedaan agama, suku, ras, dan golongan. Jika saja jejaring sosial menjadi jejaring antar kartini, maka akan menjadi wadah komunitas intelektual yang berwawasan multikultural.


Jejaring sosial tidak hanya sebagai tanda arus perubahan zaman dan kita menjadi konsumen yang terbelenggu. Akan tetapi menjadi media hubungan berwawasan multikultural antar kartini di manapun berada untuk membangun rasa perdamaian dan upaya menanggulangi konflik yang berkembang dengan dasar nilai yang menanamkan dan membumikan nilai tradisi dan kearifan lokal untuk persatuan negara Indonesia.


Melalui komunitas kartini yang terjalin melalui hubungan berwawasan multikultural nuansa ilmiah sedikit akan terbangun, ide, dan gagasan yang baik akan mudah dimunculkan. Sehingga menjadi tempat saling berbagi informasi, komunikasi, dan gagasan untuk para kartini menjadi lebih baik dan bermakna.

Semarang, 21/04/2016

Rabu, 19 April 2017

Cara Berfikir Perlu Dibersihkan

Acara jalan sehat di kampung tercinta Kampung Jl. H. Abdul Rosyid Banjardowo
ERA lebay, kampung mulai dihias. Menanam bunga pakai pot, sayuran dihidroponik, pohon dan dedaunan agak rimbun mulai dipotong supaya tampak rapi, rumput-rumput dicabuti. Semua serba ditempatkan, karena kita meyakini keindahan itu sesuatu yang nampak terawat. Begitupun sampah juga ditempatkan bertuliskan sampah organik dan non organik. Karena kita sekarang lagi paranoid kerusakan lingkungan, yang sebenarnya kitalah yang merusak tatanan lingkungan.

Apa kamu tidak tahu, kampung kita ini percikan surga. Meludah saja akan muncul tumbuhan. Membuang cabai busuk aja akan tumbuh bibit-bibit lombok baru. Rontoknya daun kering mengurai tanah dan jadi pupuk. Lha malahan sekarang serba paving, lantai, plester, dan kesemuanya biar tampak bersih meski sebenarnya cara berfikir kitalah yang perlu dibersihkan.

#MadzabUrban

Minggu, 16 April 2017

Doa Sang Perkasa

GeRMO Action di Suaru Kami Banyumanik Semarang/Senin, 27/02/2017
DOA SANG PERKASA




sang perkasa bangkit dari khayalan
perseteruan melawan pengusik
nafsu
hasrat birahi
sekarang bergulat sifat buruk
menjelma ribuan syetan
berdasi
berpeci

selamat datang sang perkasa
engkau pembawa gelombang takhta
melalui air mata cucurkan permata
melalui energi mewujud materi
melalui doa hadir kepalan tangan
tindakan demi perubahan

sejak awal adanya perubahan
membakar ingatan pengorbanan
sang perkasa menyelimuti diri
dari sakit
caci maki
bersama kekasih menyibak api
melebur pesakitan
ini bukan misteri
inilah makna mimpi

seseorang bertanya kepada sang perkasa
“bagaimana aku menjadi perkasa?”
sang perkasa berkata
“ketika sampah terabaikan.
lalu ia memuji sawah, ladang, hutan, dan lautan”

23/03/2017

Rabu, 12 April 2017

Kotak Kayu Berlapis Kaca


KOTAK KAYU BERLAPIS KACA
; Indri Yuswandari



 


ya khafidh ya rafi'
lampu-lampu masih bersinar
pada kedudukannya menyala di dalam ruangku
aku teringat catatan itu
bagaimana aku membesarkan hati
terdapat sekitar ribuan bahkan jutaan lembar
tentang usiaku


ya khafidh ya rafi'
bagaimana dengan umurku
aku menuju kotak kayu berlapis kaca
berisi manuskrip petualangan
catatan ribuan bahkan jutaan lembar
ada yang tahu cara membuka kota ini
tak ada jawaban
kesunyian
tanpa sengaja terdengar bunyi klik
dan kotak kayu berlapis kaca itu terbuka
sedikit demi sedikit
dengan hati-hati aku mengambil lembar demi lembar
aku ingin menyembunyikannya
aku hendak melindunginya
atau bahkan jika bisa aku ingin membakarnya
biar api dan abu itu berterbangan
menjadi saksi
bawasanya itu adalah kemuskilan
akupun menutup kotak kayu berlapis kaca itu


ya khafidh ya rafi'
aku memasuki ruang tidurku
berhenti di tempat tembok batu
jendela-jendela tampak tinggi
dihiasi cahaya remang
aku menatap kotak kayu berlapis kaca itu


11/04/2017


SELAMAT ULANG TAHUN MBAK INDRI YUSWANDARI
Ttd:
Lukni Maulana | Pondokbanjar