Minggu, 13 Agustus 2017

Merawat Kemerdekaan

Saat menjadi pembicara acara Sedekah Budaya yang diselenggarakan oleh Bengkel Sastra Taman Maluku
dan Dewan Kesenian Semarang, jumat, 11/08/2017 (Foto: Sulis Bambang) 
MERAWAT KEMERDEKAAN

Seperti aku menanam bunga. Aku berikan pupuk terpenuhi nutrisinya. Siraman air kasih bersirkulasi segar menawan.

Bungaku tidak gemar berfoto selfi. Bungaku berfotosintesis. Supaya tumbuh dan berkembang. Agar berkembangbiak dan mampu menghasilkan cadangan makanan. Kabohidrat supaya) ia kuat. Lalu ia lepaskan oksigen ke udara bebas. Berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

Bungaku digangu sang hama aku menjaganya. Supaya ia tumbuh perkasa. Bungaku terserang penyakit akupun mengobatinya. Ada gulma di sekitar bungaku aku berusaha membersihkannya. Semoga ia tidak kerdil dan mampu menghasilkan generasi luar biasa.

Sabtu, 12/08/2017
#MerawatKemerdekaan

Minggu, 09 Juli 2017

Merah Jalan Terus


Bersama Suluk Pondokbanjar saat ngisi acara Halal bi Halal warga Jl. Kanfer Banyumanik. 08/07/2017

MERAH JALAN TERUS


toleh kanan
melongok ke kiri
memandang ke depan tajam

hijau
kuning
merah
jalan terus

tidak ada Tuhan di traffic light


Magelang, 29/09/2015

Jumat, 07 Juli 2017

Hijab Sunyi


Opening Poem Sedekah Budaya di Hotel Candi Semarang 2017

Cinta itu ketaatan. Aku rindu dengannya, iapun akan rindu padaku. Barangsiapa ingin jumpa dengannya, ia akan berikan kesunyian untukmu.

Keagungannya tidak kuat aku pikirkan. Aku hanya mencoba menahan diri dari keinginan. Sesungguhnya kesunyianlah tempat tinggalku.

Pada kesunyian aku bersabar. Mengusir jejak luka menyeru namanya. Di pagi dan petang hari mengharap ridhonya.

Aku ingin membuka hijab kesunyian. Dengan penghancur kenikmatan yakni kematian. Dengan namamu aku hidup, kesunyian dengan namamu.

22/06/2017

Minggu, 04 Juni 2017

Aktivitas Kita Bukan Mencari Penghargaan Tapi untuk Perubahan

Suluk Al-Banjart
AKTIVITAS kita bukan untuk mencari penghargaan, tapi untuk perubahan. Begitupun juga ramadhan, bukan supaya kita mendapatkan penghargaan menjadi hamba yang mutaqin, penghargaan menjadi hamba yang bertakwa, menjadi ahli surga. Sehingga rentetan piagam dan sertifikat penghargaan, dari sertifikat puasa, pin penghargaan puasa hebat, sertifikat tadarus terlama, tarawih terlama dengan jamaah terpanjang, kolak pisang termegah maupun piagam penghargaan saur bersama dengan pembacaan seratus ribu puisi yang diiringi beragam grup musik religi.

Apalagi sampai menjadi manusia yang paling beriman, sehingga harus bawa pentungan. Itu semua hanyalah baju yang tidak perlu kita perlihatkan, tetaplah memakai baju kita seperti biasanya. Akan tetapi di balik baju kita ada sesuatu yang lebih berharga dari nilai baju yang kita pakai. Nilai itu adalah perubahan dari diri kita, sehingga perubahan yang ada pada diri ini cahayanya menerobos pada lubang-lubang kecil sehingga sekitarnya turut merasakan cahaya.
 

Aktivitas kita di organisasi, kemasyarakatan, maupun komunitas juga begitu, jangan jadikan penghargaan menjadi tujuan yang utama. Penghargaan hanyalah bagian kecil dari percikan cahaya dari salah satu tujuan beraktifitas yakni perubahan. Di dalamnya kita nanti akan mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari hiasan penghargaan itu sendiri. Semua adalah proses supaya kita menemukan kebenaran, keindahan, dan kebermanfatan.
 

Janganlah kita menjadi manusia yang merugi. Siapa orang yang tidak merugi itu? Illal lazina amanu wa amilus salihati wa tawasau bil haqqi wa tawasau bis sabri. Yakni orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. Dan aktivitas kita perubahan itu sendiri.
 

"Maaf bukan kultum jelang berbuka puasa"

Jumat, 12 Mei 2017

Tentang Batu dan Daun

Membaca puisi buku Memo untuk Presiden di Rumah Budaya Kalimasada Blitar
TENTANG BATU DAN DAUN




Saat ini melukis batu dan daun adalah menyongsong keelokan baru. Tentang kecemasan dan kemerdekaan bagian tak berbentuk. Tumpahnya darah dan air mata mengulang episode tersisih dari kedaulatan.

Merasa asing satu sama lain bersembunyi di balik batu dan daun. Melucuti bahwa ini kesalahan bersama. Kini batu dan daun telah berubah warna tak mampu memelihara bacaan alam. Dari pada beradu mulut dan bersolek politik kerakyatan.

Merasa telah diperlakukan tidak adil atau memang kalah adanya. Adakah cara lain mengubah tanah tandus menjadi taman bunga dengan keindahan batu dan daun. Hal ini memanusiakan alam menyampaikan pesan kehidupan.

Kesertaan batin menepati kata-kata cerita perbudakan, hubungan sosial adalah kontrak tertanda rakyat dan sang penghianat. Jangan kau merubuhkan batu jangan kau menjahanamkan daun. Jujurlah kepada batu kepada daun.

Batu dan daun adalah dekorasi semesta tercipta untumu mudah kau rusak tetapi sulit kau kembalikan apa adanya. Jika kiranya otakmu adalah batu jika siapa tahu tubuhmu adalah daun. Ataukah kita tercerai-berai berserakan di mimbar tak mengenal tuan bahkan tuhanpun terlalai.

Bukan bagian dari sampah pengarang cerita tentang baik dan buruknya. Adalah penulis kisah cinta kasih alam raya menyandang sang khalifah. Batu kecerdasan daun berpengetahuan
penggagas ide pembebasan.

Karena batu dan daun adalah kita. Kita bersama kita berbudaya. Kita satu jiwa dan raga.

Semarang, 08/8/2015

Minggu, 07 Mei 2017

Rabu, 03 Mei 2017