Jumat, 12 Mei 2017

Tentang Batu dan Daun

Membaca puisi buku Memo untuk Presiden di Rumah Budaya Kalimasada Blitar
TENTANG BATU DAN DAUN



saat ini
melukis batu dan daun adalah menyongsong keelokan baru
tentang kecemasan dan kemerdekaan bagian tak berbentuk;
tumpahnya darah dan air mata
mengulang episode tersisih dari kedaulatan
merasa asing satu sama lain
mereka bersembunyi di balik batu dan daun
melucuti bahwa ini kesalahan sistem
kini batu dan daun telah berubah warna
tak mampu memelihara bacaan dzikir
dari pada beradu mulut dan bersolek politik kerakyatan
merasa telah diperlakukan tidak adil atau memang kalah adanya
adakah cara lain mengubah tanah tandus
menjadi taman bunga dengan keindahan batu dan daun
hal ini memanusiakan alam;
menyampaikan pesan kehidupan

keterlibatan batin menepati kata-kata
cerita perbudakan, hubungan sosial adalah kontrak tertanda rakyat
dan sang penghianat
jangan kau merubuhkan batu
jangan kau menjahanamkan daun
jujurlah kepada batu
kepada daun
batu dan daun adalah dekorasi semesta yang tercipta untumu
mudah kau rusak, tetapi sulit kau kembalikan apa adanya

jika kiranya otakmu adalah batu
jika barangkali tubuhmu adalah daun
ataukah kita tercerai-berai;
berserakan di mimbar tak mengenal tuan
bukan bagian dari sampah
adalah pengarang cerita tentang baik dan buruknya
adalah penulis kisah cinta kasih alam raya
menyandang sang pemimpin
batu kecerdasan
daun berpengetahuan
penggagas ide pembebasan
karena batu dan daun milik kita
kita bersama
bernama Indonesia

Semarang, 08/8/2015

Minggu, 07 Mei 2017

Rabu, 03 Mei 2017

Senin, 01 Mei 2017

Polusi Jasmani dan Polusi Ruhani

Jl. Arteri Tambaklorok (29/04/2017)
POLUSI udara dan tanah sudah menjadi makanan keseharian, kita sangat menikmati polusi tersebut. Ketenangan dalam menghirup udara kotor dari corong knalpot hingga corong-corong pabrik yang menghiasi langit. Begitupun juga kita sangat merasakan manisnya bau comberan. Karena kita menjadi bagian dari aktifitas penebar polusi.

Tenang saja, itu hanya polusi sekitar lingkungan kita dan polusi lingkungan hadir oleh karena kita sendiri. Maka kita harus tahu tentang polusi yang ada pada diri. Salah satunya polusi jasmani, apa itu polusi jasmani? Ya…polusi yang melekat pada tubuh kita seperti bau badan, bisa jadi kita kurang mandi atau bau badan kita yang terlalu beraroma wangi sehingga orang di sekitar kita terasa menikmati sup bangkai. Namun tidak begitu menyakitkan, karena polusi diri pada jasmani kita bisa dibersihkan. Misalnya bau badan karena belum mandi, solusinya adalah mandi dan tentu jangan sampai ketinggalan parfumnya.

Sesungguhnya yang mengancam kita saat ini bukanlah polusi udara, tanah maupun polusi jasmani yang ada pada diri kita. Akan tetapi polusi ruhani, yang banyak mengancam keberlangsungan tata kehidupan ini. Kita tau bahwa membuang sampah sembarangan itu tidak baik, kita tau bahwa korupsi adalah perbuatan hina, dan kita mengetahui namum kita hanya bisa mentertawai. Mari kita tertawa, ya tertawa tentang ketidasaran kita.

#MadzabUrban

Sabtu, 22 April 2017

Menjadi Kartini Multikultural di Era Media Sosial

Cover Buku Digital Ilustration oleh Lukni Maulana
RA KARTINI sosok wanita yang mampu mendorong dan pengemban tradisi untuk menuntun para wanita lebih maju. Ia mampu membangkitkan semangat perempuan untuk dapat diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam berkiprah dibidang pendidikan maupun sosial kemasyarakatan, sebab era itu sistem patriarki sangat kuat. Sebagaimana surat Kartini kepada Non Zeehandelaar pada tanggal 25 Mei 1899: “Kami, gadis-gadis masih terantai kepada adat istiadat lama, hanya sedikitlah memperoleh bahagia dari kemajuan pengajaran itu.  Kami anak perempuan pergi ke sekolah, ke luar rumah tiap-tiap hari, demikian itu saja sudah dikatakan amat melanggar adat.”

Bagaimana memaknai hal tersebut di era digital ditandai dengan menyebarnya beragam media sosial mulai dari facebook, twitter, BBM, whatshap, instagram, line dll?. Sosok RA Kartini di era digital pemikirannya perlu hadir kembali untuk mendobrak tata nilai dalam memanfaatkan perubahan dasar teknologi komunikasi tersebut. Tidak hanya sekadar peringatan hari kartini dengan beragam kegiatan, namun bagaimana mampu memanfaatkan jejaring sosial? Mengapa diperlukan media jejaring sosial sebagai jejaring para kartini untuk berkiprah?


Menjadi Kartini di era digital harus mampu memanfaatkan hal tersebut dengan baik dan wajar. Media sosial dapat dimanfaatkan untuk tempat curhat, diary, jejaring komunikasi antar komunitas hingga mencari hasil financial. Hal tersebut tergantung bagaimana para kartini memaknai, memanfaatkan, dan memfungsikan jejaring sosial.


Namun alangkah baiknya jika media jejaring sosial sebagai salah satu media untuk menjalin hubungan jejaring antar kartini yang berada di pelosok Indonesia, atau bahkan para kartini di luar negeri. Untuk membangun komunikasi, persaudaraan, dan menciptakan arus pemikiran. Sehingga terjalin hubungan multikultural.


Hubungan berwawasan multikultural sebagai bentuk reaksi atas maraknya pemberitaan saat ini yakni adanya aksi kekerasan dan konflik yang dipicu oleh perbedaan agama, suku, ras, dan golongan. Jika saja jejaring sosial menjadi jejaring antar kartini, maka akan menjadi wadah komunitas intelektual yang berwawasan multikultural.


Jejaring sosial tidak hanya sebagai tanda arus perubahan zaman dan kita menjadi konsumen yang terbelenggu. Akan tetapi menjadi media hubungan berwawasan multikultural antar kartini di manapun berada untuk membangun rasa perdamaian dan upaya menanggulangi konflik yang berkembang dengan dasar nilai yang menanamkan dan membumikan nilai tradisi dan kearifan lokal untuk persatuan negara Indonesia.


Melalui komunitas kartini yang terjalin melalui hubungan berwawasan multikultural nuansa ilmiah sedikit akan terbangun, ide, dan gagasan yang baik akan mudah dimunculkan. Sehingga menjadi tempat saling berbagi informasi, komunikasi, dan gagasan untuk para kartini menjadi lebih baik dan bermakna.

Semarang, 21/04/2016